Al-Khaliq yang Maha Pencipta Sekalian Makhluk

KUN FA YA KUN BUKAN SELALU BERERTI INSTANT SEGERA JADI

Allah yang mencipta bumi ini. Perlu diketahui, mula-mula, bumi ini dahulu sepi tidak ada isinya apa-apa. Pada waktu itu, bumi bagaikan samudra yang dalam sekali dan gelap gulita. Pada waktu itu, Ruh Kuasa Allah sudi serta rèda berada di atas permukaan air. Kemudian, dengan rèda, terdengar Kalimat Allah berfirman,

“Kun!”

Langsung jadilah terang benderang! Seketika itu keadaan di dunia menjadi terang benderang! Setelah itu, Tuhan Allah memisahkan terang dari gelap. Yang terang dinamai “Siang,” yang gelap dinamai, “Malam.” Setelah malam, kemudian fajar merekah. Itulah cerita hari yang ke-1.

Pada hari yang ke-2, Tuhan Allah menjadikan kaki langit yang disebut “Langit.” Langit itu menjadikan air yang di atas terpisah dengan air yang di bawah. Ketahuilah, air yang di atas itu disebut “Mendung.”

Pada hari yang ke-3, Tuhan Allah menjadikan samudera terpisah dari daratan. Dengan perantaraan Kalimat Allah, di daratan kemudian tumbuh rerumputan dan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan.

Pada hari yang ke-4, Tuhan Allah mencipta matahari, bulan dan bintang.

Pada hari yang ke-5, Tuhan Allah mencipta semua haiwan yang hidup di dalam air, dan segala macam burung-burung dan segala macam haiwan yang bersayap. Terus, oleh Tuhan Allah, seluruhnya diberi rahmat dan barokah, berfirman Tuhan Allah:

“Semua sempurna! Berkembang biaklah dan beranak pinaklah.”

Di hari yang ke-6, Tuhan Allah menjadikan bumi mengeluarkan haiwan-haiwan. Jadi, dengan perantaraan Kalimat Allah, segala macam haiwan yang merayap di tanah dan segala macam haiwan darat semuanya keluar dari bumi. Setelah itu, Tuhan Allah berfirman,

“Marilah Kita menciptakan manusia yang mengikut keadaan dan sifat Ilahi Kita, dengan demikian manusia tersebut menjadi khalifatulloh fi’l ardhi, yakni, diberi kewajiban untuk menguasai atau mengenal segala macam haiwan-haiwan dan segala macam ikan-ikan di laut dan segala macam burung-burung yang berterbangan di langit. Semua yang ada di bumi ini harus diketahui dan dikenal dan diatur oleh manusia tersebut.”

Tuhan Allah lalu mengambil tanah liat dibentuk-bentuk untuk membuat manusia. Kemudian, oleh Tuhan Allah, diberi nyawa dengan cara, oleh Tuhan Allah, ditiup lobang hidungnya. Dengan demikian manusia tersebut hidup. Manusia yang pertama tersebut diberi nama Adam. Setelah itu, Tuhan Allah berfirman,

“Kurang baik apabila manusia sendirian saja. Kurang baik apabila manusia seorang diri saja. Kami usahakan supaya ada yang menemaninya untuk hidup bersama-sama dengan dia.”

Diceritakan, oleh Tuhan Allah, Adam dibuat menjadi tidur pulas. Jadi ketika Adam tidur pulas, Tuhan Allah lalu mengambil sebagian tulang rusuknya Adam. Lobang bekas pengambilan tulang rusuk tersebut, oleh Tuhan Allah, ditutup lagi. Tulang rusuknya Adam tersebut, oleh Tuhan Allah, dipakai untuk membuat manusia perempuan yang kemudian dipertemukan dengan Adam. Saat mengetahui orang perempuan tersebut, Adam langsung berkata,

“Sesungguhnya tulang ini berasal dari tulang ku, dan daging ini dari daging ku, oleh karena itulah namanya adalah wanita karena sesungguhnya dia berasal dari lelakinya.”

Perlu diketahui, kedua insan manusia tersebut, oleh Tuhan Allah, diberi rahmat dan barokah, berfirman Tuhan Allah,

“Beranak-pinaklah. Dengan demikian, keturunan kalian bisa memenuhi bumi ini dan melakukan kewajibannya sebagai khalifatulloh fi’l ardhi, untuk mengenal dan mengatur apapun yang menjadi isi bumi ini.”

Perlu diketahui, keadaan dan sifat manusia pertama tersebut begitu sempurna dan, karena nikmat Allah, mereka mengikut keadaan dan sifatnya Tuhan Allah. Kemudian Tuhan Allah memandang segala apa yang sudah diciptakanNya tersebut. Tuhan Allah berfirman,

“Sesungguhnya semuanya sempurna keadaannya”

Pada hari yang ke-7, Tuhan Allah berhenti dari segala apa yang telah dilakukanNya. Hari yang ketujuh tersebut, oleh Tuhan Allah, diberi rahmat dan barokah.

Dan hari yang ketujuh tersebut, oleh Tuhan Allah, dipandang sebagai hari yang suci dan keramat. Itulah hari yang baik. Semua yang ada di alam dunia ini ada karena adanya Tuhan Allah.

Adanya Tuhan Allah itu bisa dirasa lewat perantaraan sifatnya Tuhan Allah, yakni, sifat sungguh-sungguh atau sifat menghargai dan sifat pemurah, sifat suci yang tidak pernah menyalahi atau sifat yang sungguh murni, dan sifat baik yang tidak pernah berubah.

Adanya Tuhan Allah dan Sifat Tuhan Allah tersebut tampak jelas dalam kehidupan manusia pertama tersebut, yaitu Adam dan Siti Hawa.

Manusia yang pertama tersebut memiliki sifat yang sungguh-sungguh atau sifat menghargai dan sifat pemurah dan juga memiliki sifat yang suci yang tidak pernah menyalahi atau sifat yang sungguh murni dan juga memiliki sifat baik yang tidak pernah berubah.

Keberadaan manusia yang pertama dan sifat mereka tersebut, karena nikmat Allah, mengikut keberadaan dan sifat Allah Tuhan Pencipta manusia. Manusia yang pertama tersebut bersifat pasrah kepada Tuhan Allah, dalam erti, manusia yang pertama tersebut tunduk dan taat pada Kalimat Allah Sang Pencipta.

Taman Sari Kitab-Kitab Allah, dipetik dari Terjemah Kitab Taurat, Surah At-Takwin (Kejadian) 1:1 sampai 2:3.

Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan makna ini dalam firman-Nya yang termaktub di QS Hud [11]:7

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَلَئِن قُلْتَ إِنَّكُم مَّبْعُوثُونَ مِن بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ

yang bermaksud,

Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, dan adalah ArasyNya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.

Yang termaktub di QS An Nisa’ [4]:47

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُم مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَىٰ أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

yang bermaksud,

Wahai orang-orang yang telah diberikan Kitab! Berimanlah kamu dengan apa yang telah Kami turunkan, yang mengesahkan Kitab-Kitab yang ada pada kamu, sebelum Kami menyeksa dengan menghapuskan bentuk muka kamu, lalu Kami menjadikannya sama seperti rupa sebelah belakangnya atau Kami melaknatkan mereka sebagaimana Kami telah melaknatkan orang-orang yang melanggar larangan bekerja pada hari ke 7 (sab’at) dan (ingatlah) perintah Allah itu tetap berlaku.

Yang termaktub di QS An Nahl [16]:124

إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

yang bermaksud,

Sesungguhnya hari ke 7 (sab’at) itu dijadikan (Hari kelepasan yang wajib dihormati) atas orang-orang yang telah berselisihan padanya dan sesungguhnya Tuhanmu akan menghukum di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa yang mereka telah berselisihan padanya.

Yang termaktub di QS Al Baqarah [2]:65

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

yang bermaksud,

Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui (bagaimana buruknya akibat) orang-orang di antara kamu yang melanggar (larangan) pada hari ke-7 (sab’at), lalu Kami berfirman kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini