Al-Qur’an adalah Saksi Akan Adanya Islam yang Sejati

Al-Qur’an menyatakan bahawa Islam sudah ada di antara Bani Isra’il Pra Arab dan bahwasanya terdapat Kaum Muslim Arab sebelum Muhammad lahir dan sebelum diturunkannya wahyu Al-Qur’an. Menurut Kitab Al Qur’an, muslim adalah orang-orang yang beriman pada Allah, utusan-utusanNya dan tidak membeza-bezakan utusan-utusanNya kerana Muslim merupakan ahluttaurat, ahluzzabur, ahlulinjil(*) dan adalah haniifan musliman seperti Nabi Ibrahim.

(*) Ahluttaurat: pengikut Kitab Taurat. Ahluzzabur: pengikut Kitab Zabur. Ahlul Injil: pengikut Kitab Injil. (QS Al Ma’idah [5]:43-48; QS Al Baqarah [2]:136; QS Al Aḥqaf [46]:12-14).

Alam pikir tauhid di mana segala puji dan puja hanya bagi Allah dan hanya Allah yang utama dan maha besar ini telah berlaku bahkan sebelum nantinya para Ahli Kitab(1) dan Bani Israil(2) bersatu—tidak terpencar-pencar dan terpecah-pecah ke dalam banyak aliran, banyak golongan, dan segala macam partai-partai yang satu sama lain saling bertentangan. Sayidina Ibrahim sudah dalam keadaan muslim sebelum adanya kekuatan Yudaisme, kekuatan Kristen, dan kekuatan Islam.

(1) Ahli Kitab adalah orang-orang yang berkiblat ke Al Quds Yerusalim yang takdzim dan tawadu’ kepada Sayidina ‘Isa dan juga orang-orang Kristen yang berbudaya sosial-politik dan religiositas Bangsa Ruum di Benua Eropa.

(2) Bani Isra’il adalah kaum yang sebagaian besar orangnya menolak mengakui ‘Isa adalah Almasih dan menolak mengakui ‘Isa adalah nabi. Mereka menganggap ‘Isa adalah seorang penipu ulung.

QS Ali ‘Imran [3]:67

Bukanlah Ibrahim itu seorang pemeluk ugama Yahudi, dan bukanlah ia seorang pemeluk ugama Kristian, tetapi ia seorang hanifan musliman yang tetap di atas dasar Tauhid sebagai seorang Muslim (yang taat dan berserah bulat-bulat kepada Allah), dan ia pula bukanlah dari orang-orang musyrik.

Ibrahim bersama anaknya, Isma’il, berdoa dan menyatakan ketaatannya pada Islam.

QS Al Baqarah [2]:127-128 …

“Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim bersama-sama Nabi Ismail meninggikan binaan asas-asas (tapak) Baitullah (Kaabah) itu, sambil keduanya berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhan kami! Terimalah daripada kami (amal kami); sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui;

“Wahai Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua: orang-orang Islam (yang berserah diri) kepadaMu, dan jadikanlah daripada keturunan kami: umat Islam (yang berserah diri) kepadamu, dan tunjukkanlah kepada kami syariat dan cara-cara ibadat kami, dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.”

Yakub, Sang lelulur Bani Isra’il, sebelum beliau meninggal dunia, beliau memberikan nasihat pada putera-puteranya:

Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih din ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan Islam (berserah diri bulat-bulat kepada Allah.” QS Al Baqarah [2]:132.

Seluruh putera-puteri Yakub sungguh tawadu’ dan mematuhi ayah mereka dan menyatakan,

Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan datuk nenekmu Ibrahim dan Ismail dan Ishak, iaitu Tuhan yang Maha Esa, dan kepadaNyalah sahaja kami berserah diri (dengan penuh iman).” QS Al Baqarah [2]:133.

Nama yang diberi Allah kepada Nabi Ya’qub alaihissalam adalah Isra’il. Isra’il artinya terus berusaha dan berjuang di jalan Allah walaupun ujian berat menimpa demi untuk memperoleh pahala daripada Allah. Nabi Ya’qub punya 12 putera dan satu puteri. Kedua belas putera Nabi Ya’qub tersebut adalah Ra’ubin, Syam’un, Alawi, Yahuda, Yassakir, Zabulun, Dhan, Naftali, Jad, Asyiro, Yusuf, Benyamin dan satu anak perempuan bernama Dina. Salah satu putera Nabi Ya’qub yang oleh Allah dijadikan nabi adalah Yusuf atau yang kita kenal sebagai Nabi Yusuf. Anak cucu Yahuda binYa’qub sering disebut Yahudi. Kitab At Taurat,Az Zabur ditulis sekitar Tahun 1440 Sebelum Masehi dalam Bahasa Ibrani yang merupakan bahasa Bani Ya’qub sampai sekarang.

Al Qur’an juga menyatakan bahawa Nabi Nuh juga salah satu insan yang dalam keadaan muslim (berserah diri bulat-bulat kepada Allah).

“Balasanku hanyalah dari Allah semata-mata; dan aku pula diperintahkan supaya menjadi dari orang-orang Islam (berserah diri bulat-bulat kepada Allah).” QS Yunus [10]:72.

Raja Firaun pernah mencoba bertobat di suatu waktu dan mengatakan,

Aku percaya, bahawa tiada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku adalah dari orang-orang yang muslimin berserah diri.” QS Yunus [10]:90.

Sulaiman, sang raja bijaksana, mengatakan pada Ratu Balqis,

“… kami telah diberikan ilmu pengetahuan sebelum berlakunya (mukjizat) ini, dan kami pula adalah tetap muslimin berserah diri.” QS An-Naml [27]:42.

Bahkan para Ḥawariyyuun (pengikut dan penyokong setia Sayidina ‘Isa) dengan ikhlas menyatakan kepada Sayidina ‘Isa dengan berkata,

Kamilah penolong-penolong Allah. Kami telah beriman kepada Allah, dan saksikanlah (wahai Nabi Allah) sesungguhnya kami ialah orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah).” QS Ali ‘Imran [3]:52.

Para pengikut dan penyokong setia Sayidina ‘Isa pun bersaksi bahawa mereka adalah muslim, dan dalam konteks yang sama, disebutkan Al Qur’an mengenai para pengikut dan penyokong setia Sayidina ‘Isa,

Dan (ingatlah) ketika Aku ilhamkan kepada orang-orang Hawariyyiin (sahabat-sahabat setia nabi Isa): “Berimanlah kamu kepadaku dan kepada RasulKu!” Mereka menjawab: “Kami telah beriman, dan saksikanlah, bahawa sesungguhnya kami orang-orang Islam (berserah diri kepada Allah). QS Al Ma’idah [5]:111.

Surah Al Maidah di Al Qur’an tersebut menjadi saksi mengenai Sayidina ‘Isa. Injil itu dalam bahasa Yunani Evangel yang dalam Bahasa Indonesia Kabar Yang Melegakan. Dalam bahasa Inggris Good News. Dalam Bahasa Arab al busyro atau al mubassyiriin atau akhbarsyara. Injil diturunkan bukan sebagai buku yang langsung turun dari langit dengan memakai tinta langit dan huruf huruf langit, namun diturunkan lewat para saksi mata dan yang mendengar dan melihat secara langsung Sayidina ‘Isa di zaman beliau dan segala keadaan sosial politik dan sentimen sejarah di zaman Sayidina ‘Isa. Saksi-saksi mata yang menulis Kabar Yang Melegakan tersebut tentu sudah ditetapkan Allah. Mereka adalah Matta al Hawari, Marqusa al Hawari, Luqa al Thabib, Yahya al Hawari, yakni insan-insan yang sezaman dengan Sayidina ‘Isa yakni pada awal Abad I Sesudah Masehi, tahun 1 sampai 40-an Sesudah Masehi.

Dalam Bahasa Inggris penamaan mereka adalah Matthew, Mark, Luke, John. Dalam Bahasa Indonesia penemaan mereka Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Pengalaman yang dialami oleh saksi mata selalu sahih dan tidak dibuat-buat dan tidak bisa disanggah oleh siapapun karena Injil adalah semacam keterangan saksi mata.

Insan-insan yang takdzim dan tawadu’ kepada Sayidina ‘Isa di seluruh dunia membaca Injil mengenai Sayidina ‘Isa berdasarkan saksi mata saksi mata tersebut yang bernama Matius, Markus, Lukas, Yahya. Setiap keterangan saksi mata adalah sahih.