‘Arsy Allah (Kerajaan Allah) dan Racism

Bismillah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Secara etimologi ‘ARSY berasal dari bahasa Arab yang berbentuk mashdar dari kata kerja ‘ARASYA,  YA’ RISYU, ‘ARSYAN yang berarti “Bangunan atau singgasana atau takhta atau juga Istana”.

Dalam al-Qur’an disebut sebanyak 33 kali kata ‘arsy, dan mempunyai banyak arti, namun telah disepakati oleh para Ulama Islam bahwa makna ‘arsy pada umumnya adalah “singgasana atau takhta Tuhan” (Kerajaan Allah).

Al-Qur’an dan Alkitab mencatat bahwa …

  • Allah bersemayam di atas ‘arsy, atau sebagai tempat Allah bertakhta dan berdiam di singgasana. QS. 7:54, 10:3, 13:2, 20:5.
  • Allah yang memiliki ‘arsy, Allah yang empunyai kuasa penuh atas takhta kerajaan-Nya, selain Dia tidak ada yang berhak dan berkuasa. QS. 9:129, 17:42, 21:22, 23:84.
  • Para malaikat bertasbih dan bertoaf (mengelilingi) ‘arsy Allah, dan selalu mengingat dan menyebut nama Allah dengan kalimat-kalimat taiban (yang agung dan mulia). QS. 39:75, 40:7.
  • Dari berbagai bangsa,  suku, kaum dan bahasa untuk berdiri di hadapan ‘arsy atau takhta dan di hadapan Anak Domba (al-Masih Isa). Kitab Suci Injil, Surah Wahyu 7:9.

Alkitab dengan jelas mencatat bahwa kelak nanti semua manusia dari bani Adam tanpa kecuali, akan datang dan berdiri di hadapan Takhta Kerajaan Tuhan itu (‘Arsy). Penting bahwa, Takhta Kerajaan Allah (‘Arsy), bukan milik Suku dan Bangsa tertentu atau oleh Kaum dan Bahasa tertentu, melainkan milik Allah di depan al-Masih.

Kerajaan Tuhan (‘Arsy Allah)  tidak diskriminatif. Tuhan tidak bersikap yang tidak sopan, namun dengan santun dan lemah lembut. Tuhan tidak mengadili dengan tidak berkeadilan, namun dengan adil dan bijaksana. Tuhan tidak menimbang berdasarkan Kasta tertentu, atau berdasarkan Kultur tertentu dan Ras tertentu, suku, kaum, bahasa dan bahkan bangsa tertentu, melainkan dengan cinta kasih yang universal dan menyeluruh bagi bani Adam.

Sebagaimana al-Qur’an dan Alkitab mencatat …

  • Allah yang menciptakan manusia dari yang satu dan menciptakan manusia dari berbangsa-bangsa dan bersuku-bersuku agar mereka saling kenal-mengenal dan yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya adalah ketakwaan mereka. QS. 49:13.
  • Iman berkomitmen bahwa, perbedaan semua manusia bani Adam dalam hal ini tidak ada lagi orang Yahudi, tidak ada hamba (budak). Atau orang, merdeka tidak ada laki-laki atau perempuan, kerana kamu semua adalah wahid (atau), kerana semuanya adalah satu di depan takhta kerajaan Tuhan al-Masih Isa (‘Arsy). Kitab Suci Injil, Surah Galatia 3:26-29.
  • Allah melarang manusia bani Adam agar supaya dari suatu kaum jangan mengolok-olok kaum yang lain atau dari sekelompok wanita yang bertakwa mengolok-olok wanita yang lain kerana jangan-jangan yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok, dan agar jangan mencela diri sendiri dan memanggil dengan panggilan yang buruk (tidak sopan), kerana akan dianggap Allah sebagai orang yang tidak beriman. QS. 49:11.
  • Allah melarang orang yang beriman untuk menjauhi prasangka buruk (syu’uzan) kerana sesungguhnya prasangka buruk itu adalah dosa. Jangan juga orang beriman mencari-cari kesalahan orang lain dan sebagian kamu menggunjing sebagian yang lainnya kerana perbuatan semacam itu sangat membuat jijik, yang diumpamakan seperti seorang di antara kamu yang sukakan untuk memakan bangkai sesamanya yang sudah mati, tentu hal itu pasti akan sanggat menjijikkan. QS. 49:12.

Sabda Isa …

Kasihlah Allah Tuhanmu dengan seluruh energi dan potensimu dan kasihilah sesamu manusia seperti dirimu sendiri.

(Kitab Suci Injil, Surah Lukas 10:27.)

Sabda Isa kepada orang yang beriman,

Tetapi kamu yang mendengarkan Aku, kasihilah musuhmu, berbuat baik kepada orang yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi orang yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu. Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

(Kitab Suci Injil, Surah Lukas 6:27-28.)

Injil juga mencatat,

Kerana itu janganlah kita saling menghakimi lagi!  Tetapi kamu lebih baik menganut pandangan ini: ‘Janganlah kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung.’

(Kitab Suci Injil, Surah Rom 14:13.)

Demikian inilah cara yang pantas untuk bagaimana manusia bani Adam mengatasi fenomena konflik dan masalah (Rasis) baik diri kita, keluarga, teman, sahabat, kaum, suku, bahasa, entnis, bangsa dan agama.

Cara yang praktis boleh dapat dimulai dengan:

  • Mengundang manusia untuk berfikir rasional dan positif, tidak paradiktif tapi juga spiritual,
  • Menjadi model bagaimana mengenal orang lain dan bergaul melewati batas ruang yang luas,
  • Berhati-hati dan lebih bijak bila berbicara dan bersikap terhadap orang lain supaya tidak menimbulkan perasaan ketersinggungan atau dilecehkan,
  • Mengundang manusia untuk jangan anarkis membela sesuatu yang tidak manusiawi dengan sikap dan tindakan yang lebih tidak manusiawi lagi,
  • Berani untuk menegakkan kebenaran kitab-kitab Allah supaya tidak hanya sebagai catatan-catatan yang tidak bermakna,

Semoga artikel yang singkat ini dapat bermanfaat.

Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz M. Faridz Al-Salmani

Artikel yang sebelum ini Blog Ustaz M. Faridz Al-Salmani Artikel yang selepas ini