Bak Petrol Menjadi Bahan Bakar Kereta Proton – Alam Pikir Hanif dan Alam Pikir Nashara Menjadi Sebab Terjadinya Gerakan Berserah Diri Bulat-Bulat Kepada Allah

Keyakinan haniif Ibrahim

Haniif (bentuk jamaknya hunafa’) adalah mereka yang mengikuti keimanan Ibrahim (QS Al Hajj [22]:31). Allah “telah menuntunnya di jalan yang lurus” (QS Al Bayyinah [98]:5).

Haniifan adalah ciri khas alam pikir keyakinan Ibrahim sekaligus alam pikir keyakinan Muhammad. “… (ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Allah telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu …” (QS Al Ḥajj [22]:77-78).

Sejarah tidak boleh disangkal, pada zaman dahulu kala, dari antara para haniif, Ibrahim pelopor haniif. Di zaman kemudian, sejarah tidak boleh disangkal, Muhammad pelopor muslim. Dan tidak boleh pula disangkal, Ibrahim, seperti Muhammad, adalah seorang yang lurus haniifan lagi muslim (tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah) (QS Ali ‘Imran [3]:67).

Islam akhirnya menjadi berwarna dan bercorak Arab, namun sebelumnya sangat bernafaskan keyakinan Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai selalu dalam keadaan haniif karena Nabi Muhammad sendiri memeluk keyakinan haniif nya Nabi Ibrahim tersebut.

Kata haniif (bentuk jamaknya hunafa’) disebut berulang-ulang dalam 12 ayat dalam Al-Qur’an. Beberapa di antaranya adalah ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan lainnya merupakan ayat-ayat yang diturunkan saat Muhammad berada di Madinah, pada tahun 622 hingga 632 Sesudah Masehi. (Qur’an Hanif mengacu 2:135; 3:167; 4:125; 6:79, 161; 10:105; 16:120-123; 22:31; 30:30; 98:5).

Haniif seringkali dikenal selalu membawa pesan bahawa manusia harus dengan sungguh-sungguh mengutamakan Allah sahaja dan harus mengutuk segala macam ilah-ilah selain Allah. Kata haniif kadang dipakai untuk mengungkapkan keyakinan yang teguh akan Jalan Yang Lurus.

Jalan Yang Lurus

Berikut ini adalah sekilas tentang keyakinan dan amalan-amalan haniif yang diwarisi Waraqa dari para leluhurnya yang akhirnya diwariskan kepada anak asuhnya yang bernama Muhammad.

Bicara haniif berarti bicara tentang Nabi Ibrahim dan paradigma keyakinan beliau, dan insan-insan yang mengikuti tauladan beliau yang tidak memperilah ilah-ilah lain selain Allah dan yang tidak pernah mengenal perselisihan dan perpecahan. Mereka mengamalkan “diin yang lurus” atau “diin yang benar” dengan artian mereka menauhidkan Allah Yang Maha Esa.

QS Al Bayyinah [98]:5

Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Ugama yang benar.

Haniif menggambarkan bagaimana seseorang yang:

  • meninggalkan segala macam perbuatan yang memperilah segala macam ilah selain Allah, dan
  • menjauhkan diri dari perselisihan atau perpecahan dalam suatu keyakinan,
  • menghindari kejahatan dan kemaksiatan dan hal-hal yang tidak terpuji dan menghindari hal-hal yang nantinya boleh jadi fitnah. (QS Al Hajj [22]:30-31).

Haniif adalah orang yang …

  • menyembah Allah dengan cara tidak memperilah segala macam ilah-ilah selain Allah dan dengan cara mendirikan shalat dan membayar zakat (QS Al Bayyinah [98]:5),
  • berserah diri pada Allah, dan bersedekah (QS An Nisa’ [4]:125), serta
  • bertaqwa pada Allah dengan cara tidak mengutamakan segala macam ilah-ilah lain selain Allah atau dengan cara tidak mempersekutukan Allah (QS Ar Rum [30]:30-31).

Haniif menggambarkan adalah orang yang mukmin yaitu orang yang beriman. “… Allah telah menciptakan manusia menurut fitrah Allah(*). Allah menciptakan manusia (dengan keadaan bersedia dari semulajadinya) untuk menerimanya. QS Ar Rum [30]:30.

Manusia dalam keadaan haniif itu memang sudah menjadi fitrah Allah, jadi tidak boleh berubah dan tidak akan berubah. Disebutkan didalam Kitab Taurat Al-Khuruj (Keluaran) Bab 33 ayat 11, ibaratnya Nabi Ibrahim itu adalah shohib nya Allah (sahabat nya Allah) yang adalah contoh bagi kita untuk ikhlas berserah diri kepada Allah dan mengerjakan kesalehan atau kebaikan sebagai wujud fitrah Allah. QS An Nisa’ [4]:125).

(*) Fitrah Allah ialah ciptaan Allah SWT. Manusia diciptakan Allah SWT mempunyai naluri beragama iaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh persekitaran. Lihat TERJEMAHAN AL-HIDAYAH AL-QURAN AL-KARIM (RASM UTHMANI) DALAM BAHASA MELAYU.

Haniif adalah keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa pada zaman Nabi Muhammad namun bukan kekuatan atau kemapanan politik di masyarakat. Keyakinan haniif ini sudah ada jauh sebelum Kitab Al-Qur’an. Kekuatan atau kemapanan politik di masyarakat sebelum Kitab Al-Qur’an juga sudah ada misalnya kemapanan kekuatan politik Kristian, kemapanan kekuatan politik bani Bani Isra’il boneka Rom dan kemapanan Saabi’iin. (Ṣaabi’iin ialah umat sebelum Nabi Muhammad yang mengetahui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Lihat Al-Qur’anulkarim Terjemah per-kata hal. 10 (2007).

Tapi, haniif adalah keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa pada sebelum dan di zaman Nabi Muhammad namun sama sekali bukan kekuatan atau kemapanan politik di masyarakat. Haniif atau (alim, arif) adalah pengungkapan alam pikir atau paradigma keyakinan Nabi Ibrahim pada tauhid yang mengutamakan hanya Allah bukan mengutamakan ilah-ilah lain selain Allah. Secara tata bahasa, kata itu digunakan di semua ayat Qur’an sebagai suatu sifat ‘haniifan’ dan bukan nama diri dan juga bukan nama golongan atau nama kemapanan kekuatan politik di masyarakat. QS An Nahl [16]:120.

Al-Qur’an mencantumkan keberadaan keyakinan haniif. Keberadaan keyakinan haniif juga disebutkan dalam riwayat-riwayat oleh beberapa perawi. Para perawi tersebut menyatakan bahawa haniif adalah insan-insan Samawi (Semitik) dan juga insan-insan Arab yang anti budaya penyembahan berhala-berhala dan haniif sudah ada sebelum Islam. Insan-insan haniif justru mendukung apa yang dilakukan Nabi Ibrahim di zaman dahulu pada waktu beliau menghancurkan apapun yang diidolakan dan dipuja-puja oleh masyarakat beliau. Insan-insan haniif itu mengutuk segala macam bentuk-bentuk dan praktek-prakek ketika itu yang mengutamakan segala macam ilah-ilah selain Allah. Para Perawi dan penulis berbagai Sirah menggarisbawahi bahwasanya Muhammad lebih bangga pada insan-insan haniif.

Menurut para perawi dan penulis-penulis Sirah, insan-insan haniif lebih tidak sombong terhadap orang lain dan lebih menyayangi umat manusia jika dibandingkan dengan sikap insan-insan Yahudi boneka Rom yang “… dengan lembut memutarbalikkan lidahnya dan mempermainkan diin Allah.” QS An Nisa’ [4]:46.

Menurut hadis berikut, Muhammad mengatakan, “Aku telah menyatakan suatu diin yang peduli pada keadaan manusia dan tidak sombong terhadap orang lain dan memudahkan” (Lisan al-Arab, Vol. IX, hal. 51).

Diin yang diridhai Allah adalah diin yang penuh kesalehan (kebaikan hati) dan kearifan namun peduli pada keadaan manusia dan tidak sombong terhadap orang lain (Al-Tabrasi, Vol. I, hal. 515).

“Aku tidak berpihak pada Bani Isra’il dan juga tidak berpihak pada Kristen, (aku tidak berpihak kepada Kaum Berkhatan Boneka Rom dan juga tidak berpihak kepada Kaum Tidak Berkhatan yakni Kekaisaran Rom), namun keyakinan yang peduli pada keadaan manusia dan yang tidak sombong terhadap orang lain, itulah yang kusuarakan.”(*)

(Ibn Hanbal, Vol. IV, hal. 116; Vol. VI, hal. 33).

(*) QS Ali ‘Imran [3]:113 Mereka itu tidak (semuanya) sama. Diantara Ahli Kitab ada golongan yang berlaku jujur, mereka mentilawatkan ayat-ayat Allah pada beberapa waktu dimalam hari, dan mereka bersujud mendirikan solat). QS Al Ma’idah [5]:82 Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nashara.” Yang demikian itu disebabkan kerana dikalangan mereka itu (orang Nashara) terdapat para ra’is aam dan para rahib, juga kerana sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.

Terdapat ciri-ciri khas dari alam pikir keyakinan haniif yang dicantumkan dalam kisah-kisah hidup Muhammad. Laki-laki harus dikhatan. Mereka selalu siap sedia pergi ke Tanah Suci (Lisan Al-Arab, Vol. X, hal. 402; Zamakshari, Al-Kashshaf (“Sang Penemu”) Vol. I, hal. 178; al-Tabrasi, Vol. I, hal. 467).

Seseorang yang beriman yang dalam keadaan haniif meyakini apa yang diyakini Nabi Ibrahim dan mengamalkannya (Al-Tabari, Vol. III, hal. 105, 306).

Seorang penganut haniif mengharamkan segala macam ilah-ilah yang dipuja-puja selain Allah. Insan-insan haniif selalu melakukan ritual pembasuhan wudhu dan thaharah dengan air sebagai tanda kerinduan mereka untuk dalam keadaan putih dan bersih dari dosa dan kemaksiatan yang menajiskan (Al-Zubaydi, Taj al-Arous “Mahkota Pengantin Perempuan,” Vol. VI, hal. 77; Lisan al-Arab, Vol. IX, hal. 56).

Selain itu insan-insan haniif juga tidak mau memakan daging sesaji serta minum minuman beralkohol (Al-Qartabi, Vol. IV, hal. 109; Ibn Khaldun, Vol. II, hal. 707).

Dalam konteks ini Al-Tabari melaporkan,

“Orang-orang Modar yang melaksanakan ibadah dengan cara pergi ke Ka’bah pada Zaman Jahiliyah disebut sebagai ‘insan-insan haniif.”

(Al-Tabari, Tafsir sourat al-baqara “Komentar mengenai Surat Kedua,”, Vol. II, hal. 135.)

Menurut para perawi dan kisah-kisah insan-insan haniif dan para Ra’is Aam dan rahib-rahib Nashara, antara alam pikir keyakinan haniif dan nashara itu adalah bagaikan pinang dibelah dua. Tidak ada bedanya.

Waraqa bin Nawfal sering bersilaturahmi dengan dua Ra’is Aam Nashara lainnya, yang bernama …

  • Ibn Saida, dan
  • ‘Usman al-Huwayrith

… sebagai bagian dari jama’ah insan-insan haniif ketika itu.

Mereka dikenal sebagai orang-orang Arab ketika itu yang meninggalkan budaya penyembahan berhala mereka dan menjadi insan-insan yang berkeyakinan nashara lagi haniif.

Dalam hadis lainnya, Muhammad mengatakan mengenai Ra’is Aam Ibn Sa’idah sebagai ‘seorang pria dari ‘Ayad. Ia menjadi seorang yang berkeyakinan haniif di Zaman Jahiliyah (Ibn Sa;d, Vol. I, hak, 22, 55).

Dalam kitab …

Muruj al-Zahab (Tanah yang Penuh dengan Harta Karun),

… Al-Mass’udi melaporkan,

“Hanzalah bin Safwan, Khalid bin Sinan al-Absi, Ri’ab al-Shafi, Ra’is aam Ibn Sa’idah, Umayyah bin Abi al-Salt al-Thaqafi, Ra’is aam Waraqa bin Nawfal, ‘Addass al-Qubayss, Sarma abi Uns al-Ansari, Abi ‘Amir al-Oussi, Abdallah bin Jahsh dan Ra’is aam Buhairah…semuanya adalah insan-insan yang haniif (alim dan arif dan lurus) karena mereka semua adalah insan-insan yang beralam pikir nashara.”

(Al-Mas’udi, Vol. I, hal. 76-88).

Orang yang mendapat sebutan haniif biasanya memiliki sifat mulia yang peduli kepada orang lain dan tidak sombong. Pada zaman dahulu di masyarakat Timur Tengah, insan-insan yang berkeyakinan nashara dan insan-insan penganut tauhid sebelum Islam lah yang seringkali diberi sebutan haniif oleh masyarakat ketika itu. Nabi Ibrahim adalah seorang yang haniifan musliman (QS Ali ‘Imran [3]:67) dan seorang yang aslama haniifan atau muslim haniifan – orang yang berserah diri kepada Allah dan lurus (QS An Nisa’ [4]:125).

Sesungguhnya Allah telah memberi Nabi Ibrahim petunjuk ke jalan yang lurus. (QS Al An’am [6]:161). “Siapapun yang melaksanakan solat dan menunaikan zakat pasti berkeyakinan haniif, yakni berkeyakinan lurus (benar)” (QS Al Bayyinah [98]:5). Jadi ketika itu di Timur Tengah, orang yang disebut berkeyakinan haniif pasti alam pikirnya adalah nashara dan muslim.

Dalam perkembangannya, nashara, haniif dan islam menjadi satu citra keterpaduan yang indah sekali tidak lama setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Bila kita mengacu pada Al-Qur’an, riwayat-riwayat, dan dokumen-dokumen perawi, kita akan menemukan sikap Muhammad terhadap para Ahli Kitab(*).

Insan-insan Bani Isra’il, insan-insan Kristen, dan insan-insan nashara yang menetap di Mekah dan Jazirah Arab ketika itu semua boleh disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahl Al-Kitab.

(*) Ahli Kitab atau Ahl al-Kitab adalah penganut-penganut kitab suci yang diwahyukan sebelum Al-Qur’an.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini