Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang

Diceritakan, sebelum mencipta bumi atau alam dunia ini, Tuhan Allah sebenarnya sudah mencipta alam yang bukan alam dunia. Di alam yang bukan alam dunia tersebut, Tuhan Allah mencipta malaikat-malaikat. Malaikat-malaikat tersebut berada di alam yang bukan alam dunia. Malaikat-malaikat tersebut selalu bersujud kepada Tuhan Allah. Malaikat-malaikat tersebut selalu mengagungkan dan memuliakan serta memuji-muji Tuhan Allah. Malaikat-malaikat tersebut sungguh membutuhkan Tuhan Allah Pencipta mereka. Malaikat-malaikat tersebut pasrah kepada Tuhan Allah Pencipta mereka. Malaikat-malaikat tersebut gembira menjadi pesuruh dan hambanya Tuhan Allah.

Diceritakan, di antaranya para malaikat tersebut, ada satu malaikat yang, oleh Tuhan Allah, dijadikan malaikat yang paling arif dan paling baik. Dengan seizin Tuhan Allah, malaikat yang paling arif dan paling baik tersebut dipangkat menjadi ketuanya para malaikat. Tapi, lama-lama, malaikat yang paling arif dan paling dan paling baik tersebut berubah menjadi pintar dan sungguh licin dan akhirnya menjadi sangat sombong dan angkuh.

Malaikat yang dahulu tergolong paling arif dan paling baik tersebut berubah menjadi lupa pada Tuhan Allah Pencipta mereka. Malaikat yang dahulu paling arif dan paling baik tersebut berani mendahului Tuhan Allah. Malaikat yang dahulu paling arif dan paling baik tersebut menyuruh malaikat-malaikat bersembah sujud kepadanya.

Oleh Malaikat yang dahulu paling arif dan paling baik tersebut, malaikat-malaikat tidak diperbolehkan menyembah Tuhan Allah dan tidak diperbolehkan sujud kepada Tuhan Allah. Malaikat yang dahulu paling arif dan paling baik tersebut menjadi ingin disembah. Malaikat yang dahulu paling arif dan paling baik tersebut berubah menjadi malaikat yang paling pintar dan paling licin, paling menyusahkan dan paling membuat suasana menjadi tidak enak dan sungguh paling memalukan.

Diceritakan, ada juga malaikat-malaikat yang patuh kepada malaikat yang pintar dan licin tersebut. Sebagaian malaikat-malaikat terkena pengaruh fitnahnya Malaikat yang sangat pintar dan licin tersebut. Oleh sebagaian malaikat-malaikat, Malaikat yang pintar dan licin tersebut justru disembah dianggap sebagai penggantinya Tuhan Allah. Tapi, sebagaian malaikat-malaikat tetap setia menghadap kepada Tuhan Allah dan tetap setia menyembah dan bersujud kepada Tuhan Allah dan tetap membutuhkan Tuhan Allah dan tetap pasrah kepada Tuhan Allah.

Diceritakan, Tuhan Allah sesungguhnya sudah tahu persis isi hati Malaikat yang sangat pintar dan licin tersebut. Jadi, Tuhan Allah sama sekali tidak terkejut melihat tingkah polanya Malaikat yang dahulu paling arif dan paling baik tersebut.

Diceritakan, oleh Tuhan Allah, Malaikat yang dahulu paling arif dan paling baik tersebut diusir keluar dari alamnya para malaikat menuju ke alam dunia yang ketika itu masih sepi tidak ada isinya apa-apa dan masih gelap gulita bagaikan samudra yang dalam dan gelap gulita. Sifat pintar dan licin, Tuhan Allah tidak suka. Sifat arif, itulah yang disukai Tuhan Allah. Malaikat yang senang menjadi pintar dan licin tersebut dinamai Syaiton atau Almasih Dajjal yang artinya Berlagak.

Tafsir Kitab Taurat, Surah At-Takwin (Kejadian) 3:1-5; 6:2-4.

Tafsir Kitab Tulisan Para Nabi, Surah ‘Isya’ya 14-15, Surah Hazqiya 28:11-19.

Ciptaan Alam Dunia

Allah yang mencipta alam dunia ini. Perlu diketahui, mula-mula, bumi ini dahulu sepi tidak ada isinya apa-apa. Pada waktu itu, bumi bagaikan samudra yang dalam sekali dan gelap gulita. Pada waktu itu, Ruh Kuasa Allah sudi serta rida berada di atas permukaan air. Kemudian, dengan ridaNya Allah, terdengar Kalimat Allah berfirman, “Kun!”

“Langsung jadilah terang benderang!” Seketika keadaan di alam dunia menjadi terang benderang ! Setelah itu, Tuhan Allah memisahkan terang dari gelap. Yang terang dinamai “Siang,” yang gelap dinamai “Malam.” Setelah malam, kemudian fajar merekah. Itulah cerita hari yang ke-satu.

Pada hari yang ke-dua, Tuhan Allah menjadikan cakrawala yang disebut “Langit.” Langit itu menjadikan air yang di atas terpisah dengan air yang di bawah. Ketahuilah, air yang di atas itu disebut “Mendung.”

Pada hari yang ke-tiga, Tuhan Allah menjadikan samudra terpisah dari daratan. Dengan perantaraan Kalimat Allah, di daratan kemudian tumbuh rerumputan dan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan.

Pada hari yang ke-empat, Tuhan Allah mencipta matahari, bulan dan bintang.

Pada hari yang ke-lima, Tuhan Allah mencipta semua hewan yang hidup di dalam air, dan segala macam burung-burung dan segala macam hewan yang bersayap. Terus, oleh Tuhan Allah, seluruhnya diberi rahmat dan barokah, berfirman Tuhan Allah:

“Semua sempurna! Berkembang biaklah dan beranak pinaklah.”

Di hari yang ke-enam, Tuhan Allah menjadikan bumi mengeluarkan hewan-hewan. Jadi, dengan perantaraan Kalimat Allah, segala macam hewan yang merayap di tanah dan segala macam hewan darat semuanya keluar dari bumi. Setelah itu, Tuhan Allah berfirman,

“Marilah Kita menciptakan manusia yang mengikut keadaan dan sifat Ilahi Kita, dengan demikian manusia tersebut menjadi khalifatulloh fi’l ardhi, yakni, diberi kewajiban untuk menguasai atau  mengenal segala macam hewan-hewan dan segala macam ikan-ikan di laut dan segala macam burung-burung yang berterbangan di langit. Semua yang ada di bumi ini harus diketahui dan dikenal dan diatur oleh manusia tersebut.”

Tuhan Allah lalu mengambil tanah liat dibentuk-bentuk untuk membuat manusia. Kemudian, oleh Tuhan Allah, diberi nyawa dengan cara, oleh Tuhan Allah, ditiup lobang hidungnya. Dengan demikian manusia tersebut hidup. Manusia yang pertama tersebut diberi nama Adam. Setelah itu, Tuhan Allah berfirman,

“Kurang baik apabila manusia sendirian saja. Kurang baik apabila manusia seorang diri saja. Kami usahakan supaya ada yang menemaninya untuk hidup bersama-sama dengan dia.”

Diceritakan, oleh Tuhan Allah, Adam dibuat menjadi tidur pulas. Jadi ketika Adam tidur pulas, Tuhan Allah lalu mengambil sebagian tulang rusuknya Adam. Lobang bekas pengambilan tulang rusuk tersebut, oleh Tuhan Allah, ditutup lagi. Tulang rusuknya Adam tersebut, oleh Tuhan Allah, dipakai untuk membuat manusia perempuan yang kemudian dipertemukan dengan Adam. Saat mengetahui orang perempuan tersebut, Adam langsung berkata,

“Sesungguhnya tulang ini berasal dari tulang ku, dan daging ini dari daging ku, oleh karena itulah namanya adalah wanita karena sesungguhnya dia berasal dari lelakinya.”

Perlu diketahui, kedua insan manusia tersebut, oleh Tuhan Allah, diberi rahmat dan barokah, berfirman Tuhan Allah,

“Beranak-pinaklah. Dengan demikian, keturunan kalian bisa memenuhi bumi ini dan melakukan kewajibannya untuk mengenal dan mengatur apapun yang menjadi isi bumi ini.”

Perlu diketahui, keadaan dan sifat manusia pertama tersebut begitu sempurna dan, karena nikmat Allah, mereka mengikut keadaan dan sifatnya Tuhan Allah. Kemudian Tuhan Allah memandang segala apa yang sudah diciptakanNya tersebut. Tuhan Allah berfirman,

“Sesungguhnya semuanya sempurna keadaannya.”

Pada hari yang ke-tujuh, Tuhan Allah berhenti dari segala apa yang telah dilakukanNya. Hari yang ketujuh tersebut, oleh Tuhan Allah, diberi rahmat dan barokah. Dan hari yang ketujuh tersebut, oleh Tuhan Allah, dipandang sebagai hari yang suci dan keramat. Itulah hari yang baik. Semua yang ada di alam dunia ini ada karena adanya Tuhan Allah.

Adanya Tuhan Allah itu bisa dirasa lewat perantaraan sifatnya Tuhan Allah, yakni, sifat sungguh-sungguh atau sifat menghargai dan sifat penyayang, sifat suci yang tidak pernah menyalahi atau sifat yang sungguh murni, dan sifat baik yang tidak pernah berubah.

Adanya Tuhan Allah dan Sifat Tuhan Allah tersebut tampak jelas dalam kehidupan manusia pertama tersebut, yaitu Adam dan Hawwa.

Manusia yang pertama tersebut memiliki sifat yang sungguh-sungguh atau sifat menghargai dan sifat penyayang dan juga memiliki sifat yang suci yang tidak pernah menyalahi atau sifat yang sungguh murni dan juga memiliki sifat baik yang tidak pernah berubah.

Keberadaan manusia yang pertama dan sifat mereka tersebut, karena nikmat Allah, mengikut keberadaan dan sifat Allah Tuhan Pencipta manusia. Manusia yang pertama tersebut bersifat pasrah kepada Tuhan Allah, dalam arti, manusia yang pertama tersebut tunduk dan ta’at pada Kalimat Allah Sang Pencipta.

Tafsir Kitab Taurat, Surah At-Takwin (Kejadian)1:1 sampai 2:3.

Jannatul Firdaus

Diceritakan, Allah SWT membuat satu taman yang sungguh indah yang diberi nama Jannatul Firdaus. Taman Jannatul Firdaus itu, oleh Tuhan Allah, dipakai sebagai tempat tinggalnya manusia. Oleh Tuhan Allah, manusia diberi kedudukan sebagai “Khalifatullah” yang artinya, oleh Tuhan Allah, manusia tersebut disuruh menempati Taman Jannatul Firdaus dan, oleh Tuhan Allah, manusia tersebut disuruh mengatur Taman Jannatul Firdaus.

Di dalam Taman Jannatul Firdaus tersebut, terdapat sungai empat. Sungai-sungai tersebut sungguh jernih airnya. Di Taman Jannatul Firdaus tersebut terdapat banyak pepohonan yang buahnya sedap dimakan. Dan di tengah-tengah Taman Jannatul Firdaus tersebut terdapat satu pohon yang bernama Pohon Buah Khuldi. Dan disebutkan Tuhan Allah beri perintah ke manusia, bersabda Tuhan Allah:

“Semua buah-buahan yang ada di dalam Taman Jannatul Firdaus ini boleh kalian makan, kecuali Buah Khuldi yang berada di tengah-tengahnya Taman Jannatul Firdaus, itulah yang tidak boleh kalian makan, sebab kalau kalian sampai memakan Buah Khuldi tersebut, kalian langsung akan mengalami ajal.”

Dan disebutkan, pada suatu hari, ketika orang perempuan tersebut sedang berjalan-jalan di sekitar pohon yang terdapat di tengah-tengahnya Taman Jannatul Firdaus tersebut, terus ada seekor ular yang licik dan pintar membuat tipu-daya. Tapi sebenarnya, yang di dalam ular tersebut adalah Almasih Dajjal. Ular yang sesungguhnya adalah Almasih Dajjal tersebut terus bertanya kepada orang perempuan tersebut, katanya:

“Apa kamu dan orang laki tersebut, oleh Tuhan Allah, tidak diperbolehkan memakan buah-buah yang ada di Taman Jannatul Firdaus?”

Jawab orang perempuan tersebut:

“Saya diperbolehkan makan semua buah-buah yang ada di dalam Taman Jannatul Firdaus, kecuali Buah Khuldi yang ada di tengah-tengah Taman Jannatul Firdaus. Hanya itulah yang tidak boleh dimakan. Buah Khuldi tersebut ada di tengah-tengah Taman Jannatul Firdaus. Oleh Tuhan Allah, buah Khuldi tersebut disentuh saja tidak boleh, apalagi dimakan, semakin tidak boleh! Kalau larangan Allah tersebut dilanggar, saya pasti nanti akan mengalami ajal!”

Ular yang sesungguhnya Almasih Dajjal tersebut langsung tertawa dan berkata:

“Tidak, kamu tidak akan mengalami ajal walaupun kamu memakan Buah Khuldi yang terdapat di tengah-tengah Taman Jannatul Firdaus tersebut. Tuhan Allah berkata yang seperti itu sebab dia sudah tahu bahwa kalau kamu memakan Buah Khuldi tersebut, pikiranmu akan langsung menjadi terbuka dan kemudian kamu bisa menjadi Allah.”

Ketika itu juga, orang perempuan tersebut memandang pohon yang berada di tengah-tengah Taman Jannatul Firdaus tersebut. Dan orang perempuan tersebut langsung menjadi senang memandang rupa buah tersebut dan orang perempuan tersebut langsung membayang-bayangkan betapa enak dan manisnya buah tersebut. Orang perempuan tersebut lalu berpikir:

“Kalau aku memakan Buah Khuldi yang berada di tengah-tengah Taman Jannatul Firdaus tersebut, aku pasti bisa menjadi Tuhan Allah. Wah begitu enak sekali itu!”

Jadi, buah tersebut, oleh orang perempuan tersebut, terus langsung dipetik dan dimakannya. Kemudian, laki-lakinya diberinya juga. Laki-lakinya tersebut langsung juga ikut memakan buah Khuldi tersebut. Itu bisa disebut sebagai tidak pasrah kepada Tuhan Allah kerena tidak tunduk dan tidak mengikuti Tuhan Allah dan tidak patuh pada Sabda Allah. Yang diikuti Almasih Dajjal. Itu namanya tidak pasrah pada Tuhan Allah. Itu namanya mengikuti Almasih Dajjal.

Baru saja selesai makan Buah Khuldi tersebut, pikiran mereka memang sungguh-sungguh terbuka dan bebas! Kedua manusia tersebut lalu mengetahui bahwa mereka sungguh prihatin atas ketelanjangan dan hal-hal yang mereka sadari memalukan di dalam diri mereka. Jadi, manusia langsung terus mengambil dedaunan yang mereka sambung-sambung dijadikan penutup ketelanjangan mereka dan penutup hal-hal yang mereka sadari memalukan di dalam diri mereka.

Pada siang di hari tersebut itu juga, orang laki dan orang perempuan tersebut terus mendengar datangnya Tuhan Allah ke Taman Jannatul Firdaus. Kedua manusia tersebut langsung bersembunyi di belakangnya pepohonan yang besar-besar sebab mereka takut, was-was dan malu pada Tuhan Allah. Tidak seperti biasanya, sekarang kedua manusia tersebut bersembunyi, takut, was-was, dan malu sekali kepada Tuhan Allah. Lalu Tuhan Allah memanggil Adam, katanya: “Adam, kamu ada di mana?”

Menyahut Adam:

“Saya memang mendengar Engkau datang ke Taman Jannatul Firdaus ini, Ya Allah. Tapi, tidak seperti biasanya, saya sekarang takut, was-was dan malu sekali kepada Engkau, Ya Allah, karena saya merasa ketelanjangan di dalam diri saya, dan ada hal-hal yang memalukan di dalam diri saya yang mencoreng muka Engkau, Ya Allah!”

“FirmanMu, Ya Allah, tidak aku ikuti. Aku merasa sudah menyusahkan dan membuat Engkau murka. Siksalah aku sampai darahku tertumpah dan memang aku pantas dihukum seperti itu agar bisa mengobati rasa malu di dalam hidup ku ini. Sungguh aku bahkan merasa pantas disiksa sampai mati.” Kata Adam.

Tuhan Allah mendatangi Adam dan berkata kepada Adam:

“Siapa yang membuat kau menyadari akan ketelanjangan mu tersebut? Apa engkau memakan Buah dari pohon yang berada di tengah-tengahnya Taman Jannatul Firdaus tersebut?”

Orang laki tersebut menyahut:

“Orang perempuan pemberian mu tersebut lah yang memberi Buah Khuldi itu kepada saya. Jadi, saya makan Buah Khuldi tersebut.”

Terus Tuhan Allah mendatangi orang perempuan tersebut dan berkata kepadanya:

“Mengapa kau bertingkah seperti itu?”

Orang perempuan itu menyahut:

“Ular itulah yang memberi tipu dayanya kepada saya sehingga saya akhirnya memakan Buah terlarang tersebut.”

Terus Tuhan Allah mendatangi ular tersebut dan berkata kepada ular tersebut:

“Sebab tingkah mu yang seperti itu, Aku akan mengadzabmu. Di antara semua hewan, hanya kamu yang Kami kutuk! Mulai sekarang kamu harus merangkak menggunakan perutmu dan seumur hidupmu, kamu, mau tidak mau, harus puas merayap di tanah saja. Hai Almasih Dajjal, oleh Kami, kamu mulai sekarang akan kami dimusuhkan dengan manusia perempuan ini. Hai Almasih Dajjal, mulai sekarang, kamu dan Putera dari perempuan akan saling bermusuhan. Hai Almasih Dajjal, kepala mu akhirnya akan diremukkan oleh Sang Putera dari perempuan.”

“Sedangkan, kamu, hai, Almasih Dajjal, hanya bisa melukai kakinya Sang Putera dari perempuan. Dan kelak, hanya sebab perjuangan yang dilaksanakan oleh Sang Putera dari perempuan, manusia bisa menjadi pasrah kepada Kami dan bisa menjadi sungguh-sungguh mengikuti Kami dan patuh kepada Kami.” Bersabda Tuhan Allah.

Dan kemudian Tuhan Allah mendatangi orang perempuan tersebut dan bersabda kepadanya:

“Ketika kamu sedang hamil, akan Kami buat, dari hari ke hari semakin menyusahkan mu. Kalau sudah sampai pada saat melahirkan, kamu akan Kami buat semakin sakit. Dan kamu akan diatur dan dikuasai lelaki mu.”

Kemudian, Tuhan Allah terus bersabda kepada yang laki:

“Sebab kamu telah terpengaruh mengikuti perempuanmu sampai kamu juga memakan Buah Terlarang tersebut, maka tanah di seluruh bumi ini menjadi terkutuk dan keras karena kamu. Karena kamu terlalu banyak tingkah bagaikan burung pipit bersayap garuda, dan karena kamu terlalu banyak tingkah, tanah di bumi ini menjadi terkutuk. Seumur hidup, kamu harus bekerja keras kalau kamu ingin dapat hasil dari tanah ini. Dari dalam tanah ini akan keluar semak-semak belukar yang berduri dan tumbuhan-tumbuhan liar akan menjadi makanan pokok mu. Kamu harus bekerja keras sampai berpeluh jika kau ingin mendapat hasil. Kamu akan mengalami hidup yang susah tersebut selama-lamanya sampai kau mati kembali ke tanah lagi, karena kau asalnya dari tanah, jadi kau harus kembali ke tanah lagi.”

Oleh Adam, perempuannya tersebut diberi nama Hawwah, sebab orang perempuan tersebut menjadi ibu nya segala orang. Lalu oleh Tuhan Allah, kambing yang putih disembelih dan diambil kulitnya untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawwah dan untuk menutupi hal-hal yang memalukan dalam diri mereka. Karena dalam keadaan yang tidak pasrah kepada Tuhan Allah, Adam dan Hawwah, oleh Tuhan Allah, diusir keluar dari  Taman Jannatul Firdaus. Keadaan yang tidak pasrah tersebut terlihat jelas oleh Tuhan Allah, karena Adam dan Hawwah telah memakan satu buah yang dilarang oleh Tuhan Allah untuk dimakan.

Setelah manusia tersebut diusir keluar dari Taman Jannatul Firdaus oleh Tuhan Allah, di depannya Taman Jannatul Firdaus, diperintahkan untuk selalu dijaga oleh malekat yang membawa pedang yang tajam berkilau-kilau untuk menjaga Jalan Yang Lurus yang menuju masuk ke Taman Jannatul Firdaus di mana di tengah-tengahnya terdapat satu pohon yang buahnya, oleh Allah, dilarang dimakan. Satu larangan dari Satu Tuhan yaitu Tuhan Allah.

Tafsir Kitab At Taurat, Surah At-Takwin (Kejadian) 2:8 sampai 3:24.

Qabil dan Habil

Diceritakan, Adam mempunyai dua putera. Yang sulung bernama Qabil. Yang bungsu bernama Habil. Pekerjaan Qabil bertani. Sedangkan Habil menggembalakan kambing.

Diceritakan, pada suatu hari, kedua insan bersaudara tersebut masing-masing memberi qurban kepada Tuhan Allah. Qurban yang diberikan Qabil berupa hasil pertaniannya. Habil memberi qurban berupa anak kambing sulung.

Diceritakan yang diterima Tuhan Allah adalah qurban yang diberi Habil, karena, menurut Tuhan Allah, Habil lah yang sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan Allah lahir-bathin. Habil membutuhkan Tuhan Allah bak orang sakit membutuhkan jamu. Habil membutuhkan Tuhan Allah bak orang bangkrut yang menyadari tidak bisa membayar hutang sungguh membutuhkan uang untuk melunasi hutangnya. Habil membutuhkan Tuhan Allah bak orang yang sangat haus sekali membutuhkan air. Ya seperti itulah, butuhnya Habil kepada Tuhan Allah. Jadi jelas, Habil sungguh-sungguh pasrah dan ta’at pada Firman Tuhan Allah.

Tapi, oleh Tuhan Allah, Qabil dianggap tidak butuh Tuhan Allah. Oleh Tuhan Allah, Qabil dianggap tidak pasrah kepada Tuhan Allah. Tuhan Allah sungguh merasa tidak dibutuhkan Qabil. Oleh Tuhan Allah, tunduknya Qabil kepada Tuhan Allah dianggap tidak sungguhan. Keta’atan Qabil pada Firman Tuhan Allah tidak sungguhan. Oleh Tuhan Allah, tunduknya Qabil kepada Tuhan Allah dan keta’atan Qabil pada Tuhan Allah dianggap tidak sungguhan dan terkesan dibuat-buat. Tuhan Allah tahu dalamnya hati orang. Tuhan Allah melihat bukan hanya luarnya orang. Oleh karena itulah, Tuhan Allah tidak bisa dibohongi. Karena kurban yang diberikan Qabil tidak diterima oleh Tuhan Allah, Qabil menjadi sedih dan marah.

Lalu Tuhan Allah berfirman:

“Mengapa kamu berubah menjadi marah? Kalau kamu sungguhan berniyat mendekat kepada Ku, tentunya kamu ikhlas. Mengapa kamu berubah menjadi marah? Kalau kamu sungguhan berniyat baik, masak, oleh Aku, tidak diterima? Kalau kamu memang sungguhan berserah diri kepada Ku dan keta’atanmu kepada Ku memang sungguhan, masak, oleh Aku, ditolak? Tapi kalau tingkah mu jelek, hatimu didekati hal-hal yang sangat kurang ajar, yaitu, keinginan menuruti nafsu diri-sendiri dan sama sekali tidak memperhatikan apa yang Kukehendaki. Dengan begitu, kamu tidak sungguh-sungguh pada yang Kukehendaki. Akibatnya, hal-hal yang memalukan dan tidak terpuji mewarnai hidupmu, tapi kamu harus mengalahkan godaan-godaan yang mengajak kamu untuk melakukan hal-hal memalukan dan kamu harus berusaha jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang memalukan dan jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang menyusahkan! Untuk itu, berserahlah kepadaKu! Ta’atlah kepadaKu! Jangan melakukan yang tidak pantas! Jangan sampai kurang ajar! Jangan sampai menyebabkan yang tidak enak! Jangan sampai menyusahkan! Jangan sampai memalukan!”

Tidak lama setelah itu, Qabil terus berkata kepada Habil: “Dik, mari kita ke tegal.”

Setelah sampai di tegal, Habil langsung dipukul oleh Qabil sampai mati!

Qabil sungguh kurang ajar pada Habil. Qabil terbukti tidak ta’at pada Firman Allah. Qabil terbukti tidak pasrah pada Tuhan Allah. Firman Allah tidak dituruti dan tidak diindahkan dan dianggap sama sekali. Sesungguhnya Qabil kurang ajar pada Tuhan Allah karena yang menciptakan Habil adalah Tuhan Allah. Kok teganya adiknya sendiri dibunuh, mengapa? Qabil telah merusak milik Tuhan Allah.

Tuhan Allah terus berfirman kepada Qabil, “Di mana Habil, adikmu?”

Dijawab oleh Qabil, “Aku tak tahu! Apa kau pikir aku ini pengawasnya adikku?”

Allah berfirman,

“Kamu telah melakukan apa, nak, kok sampai darahnya adikmu meminta tolong kepadaKu dari dalam tanah, seperti suara yang berteriak minta tolong kepadaKu? Oleh sebab itulah, oleh Aku, kamu dinyatakan sebagai terlaknat dan terkutuk sebab bumi telah menyimpan darahnya adikmu yang telah kau tumpahkan ke tanah. Oleh karena itulah, nak, kalau kamu menggarap tanah, kamu tidak akan mendapatkan hasil apa-apa dari tanah. Di manapun kau tinggal di bumi ini, kau tidak akan kerasan, kamu akan selalu merasa terhimpit walau tinggal di daerah yang luas sekalipun!”

Kemudian Qabil berseru kepada Tuhan Allah,

“Hukuman dari Mu tersebut sungguh terlalu berat. Aku tidak mampu menanggungnya. Aku terusir dari tanah ini ke alam yang jauh dari Engkau. Tinggal di manapun, aku tidak akan kerasan. Siapapun yang berjumpa dengan aku, pasti dia akan membunuh aku.”

Tapi, Tuhan Allah berfirman, “Tidak seperti itu!”

Oleh Tuhan Allah, Qabil kemudian diberi tanda agar siapa saja yang berjumpa dengan Qabil memahami tanda peringatan tersebut, dengan demikian Qabil tidak sampai dibunuh oleh orang. Qabil kemudian mundur dari hadirat Allah. Qabil kemudian berdiam di Tanah Nuud di timurnya Taman Jannatul Firdaus.

Disebutkan, keturunan-keturunannya Qabil sama saja angkuhnya dengan Qabil moyang mereka yang tidak takut dan tidak hormat sama sekali pada Tuhan Allah, alias kebanyakan tingkah yang memuakkan dan kurang ajar dan tingkah yang menyebabkan tidak enak dan memalukan ! Pasrahnya kepada Tuhan Allah tidak sungguhan. Tidak ta’at kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa. Bodoh tapi ngotot!

Setelah Habil mati, Adam dan Hawwah mempunyai putera lagi namanya Syits, yang artinya “pengganti yang telah tiada.”

Disebutkan, keturunannya Syits ada yang bernama Idris. Disebutkan, Idris membutuhkan Tuhan Allah bak orang sakit membutuhkan jamu. Idris membutuhkan Tuhan Allah bak orang bangkrut yang menyadari tidak bisa membayar hutang sungguh membutuhkan uang untuk melunasi hutangnya. Idris membutuhkan Tuhan Allah bak orang yang sangat haus sekali membutuhkan air. Ya seperti itulah, butuhnya Idris kepada Tuhan Allah. Memang Idris sungguh-sungguh pasrah dan ta’at pada Firman Tuhan Allah. Pasrahnya Idris pada Tuhan Allah sungguhan. Ta’atnya Idris kepada Firman Allah sungguhan alias tidak dibuat-buat. Idris sungguh-sungguh menerima dan menyadari posisinya lahir-bathin di hadapan Tuhan Allah. Lahir dan bathin Idris memang sungguhan bersujud berserah diri kepada Tuhan Allah. Karena begitu sungguhan butuhnya Idris pada Tuhan Allah, pasrah dan butuhnya Idris pada Tuhan Allah jauh dari sekedar pura-pura dan dibuat-buat. Karena begitu sungguhan butuhnya Idris pada Tuhan Allah, oleh Tuhan Allah, Idris diangkat ke langit secara hidup-hidup.

Tafsir Kitab At-Taurat, Surah At-Takwin (Kejadian) 4:1-26.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini