Di dalam Islam, Macam Mana Kitab-Kitab Allah itu Seharusnya diTakrifkan

Seperti sudah diketahui bahawa banyak insan-insan Muslim sudah terlanjur berpandangan bahawa KITAB-KITAB ALLAH itu adalah kisah tentang ditulisnya dan dibukukannya Wahyu-Wahyu Allah SWT kepada nabi-nabiNya. Kalau menurut pandangan tersebut, ertinya yang menulis adalah langsung Allah, yang membendel, menjilid serta membukukannya juga Allah, pakai tinta dan kertas langsung daripada Allah. 100% langsung daripada Allah. Tidak berantara! Jadi menurut pandangan ini, Wahyu Ilahi dan Kitab Allah itu semuanya harus langsung dari Allah SWT. Tidak boleh ada sentuhan manusia sama sekali. Kalau tidak langsung daripada Allah SWT berarti bukan Kitab Allah. Jadi menurut pandangan ini, Wahyu Ilahi atau Kalimat Allah tidak boleh ada apapun yang sifatnya dari manusia. Bahkan kertas, dan tintanya pun harus langsung daripada Allah.

Sebenarnya pandangan mengenai definisi Kitab-Kitab Allah yang seperti itu secara rinci tidak ada dalam Kitab Suci Al Qur’an dan tidak ada dalam Hadis. Itu adalah pandangan yang dikembangkan oleh para ahli fiqih Muslim pada zaman dahulu ketika mereka berada dalam dinamika mencari pandangan tentang diwahyukannya Al Qur’an dan perlu tidaknya Wahyu Ilahi dalam Al Qur’an dibukukan agar menjadi satu Kitab.

Tapi, lama-kelamaan, pandangan mengenai definisi Kitab-Kitab Allah ini berkembang menjadi keyakinan yang dibakukan.

Yang menjadi penyebab utama mengapa pandangan ini mendapat dukungan khalayak ramai dalam masyarakat Muslim pada zaman dahulu ialah dinamika adanya keperluan di tahun-tahun pertama setelah datangnya Islam untuk menunjukkan kepada Ahli Kitab bahawa Al Qur’an itu juga asli dan juga memiliki wewenang sejajar dengan Kitab-Kitab Allah yang sebelumnya, yaitu Taurat, Zabur dan Injil.

Keperluan untuk menunjukkan bahawa Al Qur’an itu juga asli dan juga memiliki wewenang yang sejajar dengan Kitab-Kitab Allah Yang Sebelumnya menjadi semakin terasa kuat dengan adanya hubungan silaturahmi yang semakin sering antara Kekalifahan Masyarakat Muslim yang baru terbentuk ketika itu dengan Kerajaan-Kerajaan yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Nashara yang sudah lama ada sebelum datangnya Islam. Misalnya, Kerajaan Ruum di Eropa yang terkenal dengan Semangat Kemaslahatan untuk Orang Ramai atau Jami’ atau Masyarakat Umum atau Public atau Catholic. Semangat Kemaslahatan untuk orang ramai agar bersikap tawadu’ dan sopan santun kepada Isa bin Maryam sudah sangat umum bahkan sebelum Rasulullah lahir di Tahun Gajah di tahun 570. Ketika itu sebarang orang yang bersikap tawadu’ dan sopan santun kepada Isa bin Maryam disebut Nashara atau Kristian. Itu adalah hal yang biasa dan masuk akal.

Kerajaan-Kerajaan yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Nashara yang sudah lama ada sebelum datangnya Islam tersebut adalah Peradaban Suriyani atau Arab Suriah atau Negeri Syam di bawah Kekaisaran Rom.

Dalam Alam Kerajaan-Kerajaan yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Nashara yang sudah lama ada sebelum datangnya Islam tersebut, insan-insan Muslim pada zaman dahulu tersebut mendapati bentuk kesalehan serta adat kebiasaan yang saleh yang bernafaskan Nashara tersebut secara diniyah dan fiqih sudah canggih dan sudah mapan. Dalam Alam Kerajaan Yang Kebiasaan Agamisnya Bernafaskan Nashara yang sudah lama ada sebelum datangnya Islam tersebut, insan-insan Muslim pada zaman dahulu tersebut mampu mengambil hikmah-hikmah dari kesalehan serta kebiasaan berfilsafat dan berfikir dan pencarian ilmu diniyah nya insan-insan saleh Nashara tersebut. Itulah yang membentuk Zaman Keemasan Islam.

Ketika masih kanak-kanak, Muhammad bin Abdullah di bawa berniaga oleh paman beliau yang bernama Abu Thalib bersama kafilah dagang ke negeri Syam. Negeri Syam yang ketika itu adalah bagian dari Kerajaan yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Kristian.

Di negeri Syam itulah terjadi silaturahmi Abu Thalib dan keponakannya yang masih kanak-kanak yang bernama Muhammad bin Abdullah dengan Pendeta Kristian ketika itu yang bernama Pendeta Buhaira dari Negeri Syam.

Ketika Muhammad bin Abdullah hijrah, yang melindungi beliau adalah Raja Habsyi dari Kerajaaan Habasyah atau Abbessina atau Ethiopia yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Kristian.

Sholat ghaib yang pertama adalah atas meninggalnya seorang Kristian.

Jelas tertera dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim: Ada seorang Najasyi meninggal, Rasulullah segera memberi tahu para sahabatnya, sabdanya: ”Saudara kita di negeri Habasyah telah meninggal sholatlah kalian untuknya.” Mereka pun keluar menuju lapangan, membuat barisan, dan mengerjakan sholat untuknya (Tafsir Ibnu Katsir I hal. 443).

Seorang Najasyi adalah orang Kristian. Memusuhi orang-orang Kristian jelas bukan sunnah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad justeru tidak pernah memberi contoh seperti itu.

Itulah sikap Muslim yang menyebabkan berlakunya Zaman Keemasan Islam.

Insan-insan Muslim yang saleh di Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu tersebut memegang teguh Al Qur’an dan Hadits Rasulullah sebagai dalil.

Hadis Nabi s.a.w. menggunakan perkataan السريانية As Suryaaniyah adalah untuk menggungkapkan Bahasa Suryani. Dalam kitab yang berjudul: al-Mu’jam al-mufahras li-alfaz al-Hadith al-Nabawi, mencatat bahwa, kata al-suryaniyyat tersebut dijumpai dalam beberapa kitab Hadis, salah satu di antaranya adalah kitab al-Jami’ al-Sahih, Jilid 1, bab Fi Ta’lum al-Suryaniyyat karya al-Tirmidzi, sebagai berikut:

حدثنا علي بن حجر أخبرنا عبد الرحمن بن أبي الزناد عن أبيه عن خارجة بن زيد عن ثابت عن أبيه زيد بن ثابت قال : أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم له كتاب يهود قال إني والله ما آمن يهود على كتاب قال فما مر بي نصف شهر حتى تعلمته له قال فلما تعلمته كان إذا كتب إلى يهود كتبت إليهم وإذا كتبوا إليه قرأت له كتابهم قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح

وقد روي من غير هذا الوجه عن زيد بن ثابت رواه الأعمش عن ثابت بن عبيد الأنصاري عن زيد بن ثابت قال أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم السريانية قال الشيخ الألباني : حسن صحيح

Ertinya:

Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah s.a.w. memerintahkan kepadaku untuk mempelajari bahasa Ibrani guna menterjemahkan surat insan-insan Yahudi. Zaid berkata dengan nada bersemangat:”Demi Allah, sesungguhnya akan kubuktikan kepada insan-insan Yahudi bahwa aku mampu menguasai bahasa mereka.” Zaid melanjutkan: “Setengah bulan berikutnya aku mempelajarinya untuk Nabi s.a.w. dengan tekun dan setelah aku menguasainya, maka aku menjadi juru tulis Nabi s.a.w. apabila beliau berkirim surat kepada mereka, akulah yang menuliskannya; dan apabila beliau menerima surat dari mereka, akulah yang membacakan dan yang menerjemahkannya untuk Nabi s.a.w. Berkata Abu Isa Hadis ini hasan shahih.

Menurut riwayat lain, bahwa Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah s.a.w. telah menyuruh aku belajar bahasa Suryani. Berkata Syekh al-Bani Hadis ini Hasan Shahih (Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmizy, tt: 67).

Dalam Hadis ini Nabi s.a.w.menganjurkan Zaid ibn Tsabit untuk mempelajari bahasa Suryani. Imam Ghazali (w. 505/1111) mengatakan bahwa pengetahuan seseorang yang tidak pernah belajar logika – salah satu cabang filsafat- adalah tidak bisa diandalkan (Nurchalis Madjid, 1985: 47).

Logika atau filsafat atau theologi adalah salah satu ciri khas kebiasaan Kristian. Menterjemahkan Kitab Taurat, Zabur dan Injil dalam Bahasa Ibrani ke dalam yang bahasa yang bisa mereka fahami yakni dengan huruf-huruf hijaiyah adalah kesukaan orang-orang Muslim di Zaman Keemasan Islam agar boleh mereka amalkan perintah-perintah Allah di dalam Kitab-Kitab Allah Taurat, Zabur, Injil.

Itulah yang menyebabkan Zaman Keemasan Islam.

Jom, kita berusaha untuk mengulangi lagi Zaman Keemasan Islam di Zaman Moden seperti sekarang ini!

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini