Etika dalam Perspektif Al-Qur’aniah dan Al-Kitabiah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Allah itu pusat moral. Qur’an dan Alkitab itu ada petunjuk (model) moral. Manusia insan kamil sebagai prototipe yang bermoral. Segala sesuatu yang ada, masing-masing juga dikaruniai akhlak, moral dan budi pekerti yang mulia.

Terkecuali  pada sosok makhluk yang ini, insya-Allah pasti sama sekali tidak punya moral yang baik kecuali yang buruk saja yakni: “As-Syaitan, iblis laknatullah,” manakah yang pantas untuk manusia memilih dan berakhlak dengannya?

Telah disabdakan oleh Tuhan semesta alam (QS 17:70, QS 94:4) …

“Sesungguhnya Aku menciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Allah menciptakan manusia itu sungguh amat baik, serupa, segambar dan seteladan dengan Allah al-Khalik meskipun tidak sama persis dengan-Nya. Pengertian ini mengindikasikan bahawa manusia insani secara fitrani telah dibekali dengan akhlak bawaan yang  baik dan mulia. Ini berarti, dengan moral inilah manusia dapat menata hidup dan perikehidupannya di bumi untuk ber-Hablur min Allah, ber-Hablur min Annas dan ber-Hablur min ‘Alam. Selain dari itu, untuk mempengaruhi bumi ini kepada kebaikan yang selurus dengan kebaikan Tuhan dan Jannah Firdaus tempat manusia berawal.

Jika itu telah terpenuhi, seperti yang diharapkan dalam akhir setiap doa,

“Rubbana ‘atina Fidunnia Hasanah wa fil ‘Akhiroti Hasanah waqina ‘azabannar”

(Ya Tuhan kami, beri pada kami kebaikan dan kebahagiaan di dunia ini dan kebaikan dan kebahagiaan di akhirat kelak nanti dan jauhkanlah kami dari kutuk dan ‘azab api neraka.)

Sesungguhnya itu pula yang menjadi tujuan Tuhan menciptakan manusia datang di bumi ini, untuk taat dan beribadah kepada Tuhan dalam posisis akhlak yang baik lagi menyenangkan sehingga tidak ada yang tersisa kecuali “BERAKHLAK  dan BERBUDI PEKERTI YANG MULIA”

Jauhi akhlak buruk, perspektif Al-Qur’an (QS 49:11-12) …

… janganlah dari kaum laki-laki yang mukmin di antara kamu, mengolok-olok kaum laki-laki yang lain, atau dari kaum perempuan yang mukmin diantara kamu, mengolok-olok kaum perempuan yang lain . . . jangan pula saling mencela satu dengan yang lainnya, jangan pula . . . panggil memanggil dengan panggilan yang buruk …

Jangan pula berprasangka buruk (Su’uzon) dan jangan suka mencari-cari kesalahan orang lain, dan jangan pula sebagian yang lain di antara kamu menggunjing sebagian yang lain …

Tetapi saling mengajak untuk menuju akhlak yang baik dan berwibawa.

Allah yang menciptakan manusia itu baik laki-laki dan perempuan dan Allah pula yang ciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk mereka saling kenal-mengenal (lita’aruf) (ayat 13) dan bukan untuk saling menggigit dan memakan satu dengan yang lain. Jika sudah saling memakan satu dengan yang lainnya, bukankah itu sama dengan telah memakan daging sesamanya sendiri yang telah busuk? Itu pasti sangatlah menjijikkan.

Karena itu, jika engkau mengasihi sesamamu, kasihilah seperti mengasihi dirimu sendiri. Dan kasihi juga musuhmu dan berdoalah kpada orang yang berbuat jahat kepadamu (Kitab Suci Injil Matius 5:44).

Akhlak mulia dalam perspektif Hukum Allah (Kitab Suci Taurat Keluaran 20:1-17) …

… mentauhidkan Allah, jangan menyembah berhala, jangan berbuat Syirik kepada Allah, hormati hari Sabat,  hormati orangtua, jangan membunuh, jangan zinah, jangan bercerai kecuali zinah, jangan berdusta, jangan mencuri dan jangan ingini barang milik sesama.

Dan  hasilkanlah buah-buah akhlak yang mulia (Kitab Suci Injil Galatia 5:22-23) …

Sebaliknya, buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, lemah lembut dan penguasaan diri. Tiada hukum yang menentang segala ini.

Alhamdulillah, jikalau Al-Qur’an dan Alkitab telah menjelaskannya dengan baik dan telah diumumkan daripada para Nabi dan Rasul sejak zaman purbakala bahkan di zaman kekinian kita, sudah terbiasa mendengarnya dan bahkan diumumkan setiap waktu tentang AKHLAK DAN MORAL INI.

Kalau sudah demikian, di manakah nurani akhlak itu seharusnya di wujudkan?

Sudah seharusnya manusia segera menyedarinya, sebagai makhluk yang tinggal dan menjelajahi bumi, juga untuk menyeru kepada kebaikan Allah dan mencegah dari yang buruk. Dan sejatinya akhlak ini baik sekali untuk diterapkannya tanpa tendensi, karena memiliki potensi untuk membuat hidup manusia dan bumi akan lebih harmonis dan berimbang dan mencegah percepatan kerusakannya yang terus menerus dalam kerusakan.

Kiranya dengan akhlak ini juga  bumi kembali segar untuk mengeluarkan berkat-berkatnya dan menopangi kebutuhan manusia yang masih bertempat tinggal diatasnya.

SATU PERBUATAN YANG BAIK DISERTAI AKHLAK YANG MULIA AKAN JAUH LEBIH BAIK GAUNGNYA DARI SERIBU PERKATAAN.

Ustaz M. Faridz Al-Salmani

Artikel yang sebelum ini Blog Ustaz M. Faridz Al-Salmani Artikel yang selepas ini