Ibrahim dan Bahasa Arab

Nabi Ibrahim bukan orang Arab. Nabi Ibrahim adalah berasal dari Tanah Ur.

Nabi Ibrahim berseru kepada sesembahan nya.

Nabi Ibrahim berseru kepada EL Eliyun.

El Eliyun. Begitulah Nabi Ibrahim apabila berseru kepada sesembahan nya.

Dalam Bahasa Arab, sesembahan Nabi Ibrahim EL ELIYUN adalah  Al ‘Aliyyu ertinya Yang Maha Tinggi.

Dalam Bahasa Arab, sesembahan Nabi Ibrahim itu sering disebut Subhanahu Wa Ta’ala. Terpuji dan Maha Tinggi.

Yang Maha Tinggi sesembahan Nabi Ibrahim itu juga dijadikan nama surah di Al Qur’an yaitu Surah Al A’la (Yang Maha Tinggi).

Nabi Ibrahim bukan orang Arab. Nabi Ibrahim tidak menggunakan Bahasa Arab.

Nabi Ibrahim menyebut EL yang apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Suryani Negeri Syam menjadi ELAH. Lihat Kitab Taurat Surah Ezra Bab 5 ayat 1, di situ disebutkan Be shum Elah yang dekat dengan ungkapan Bahasa Arab Bismillah.

Nabi-nabi yang berbahasa Suryani menyebut ELAH.

Nabi Daniyal menyatakan dalam Bahasa Suryani,

di elahekon hu Elah elahin”

ertinya,

sesungguhnya, Ilah-mu itu Ilah yang mengatasi segala ilah.

(Lihat Kitab Taurat Surah Daniel 2:47.)

Orang-orang Melayu sering meminjam istilah dalam Bahasa Suryani ini.  Kata pinjaman itu tercatat dalam Kamus Bahasa Melayu disebut ilahi.

Ya Ilahi Ya Tuhan.

Jelas sekali, kata asli Bahasa Melayu untuk EL adalah Tuan atau Tuhan.

Orang-orang Bani Isra’il menyebutnya ELOAH.

Kadang mereka menyebut ELOHIM.

Untuk Elohim, orang-orang Arab menyebut اَللَّهُمَّ (ALLAHUMMA) (Wahai Allah).

Orang-orang Arab menyebut AL ILAH (Sang Tuhan) atau ALLAH yang merupakan bentuk pendek daripada AL ILAH (Sang Tuhan).

Dr Nur Cholis Majid, seorang cendikiawan Muslim terkenal di Indonesia, pernah menterjemahkan,

لا إله إلا الله

la ilaha illallah.

Tiada tuhan selain Tuhan.

Berikut ini adalah termaktub di Al Qur’an (Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala) …

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (al Baqarah [2:]255).

فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Maka putusan (sekarang ini) hanyalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Ghafir [40]:12).

Ayat ini dengan tegas menjelaskan nama Allah Al ‘Aliyy, yang maknanya Maha Tinggi. Makna ini sekaligus menunjukkan sifat-Nya.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi. (al A’la [87]:1).

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ

Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi. (an-Nahl [16]:60).

Anggapan bahawa para nabi hidup di negeri Arab sebenarnya perlu sedikit dikoreksi. Hal itu mengingat batas wilayah negeri Arab di masa kini jauh berbeza dengan di masa lalu.

Di masa lalu, iaitu pada zaman para nabi itu diutus, negeri-negeri yang mereka tempati bukanlah negeri Arab. Setidaknya pada waktu itu belum lagi menjadi negeri Arab. Tetapi memang benar kalau dilihatnya pada zaman sekarang, karena negeri-negeri yang dulunya bukan Arab, sekarang ini sudah jadi negeri Arab.

Jaluth yang dikalahkan Nabi Daud adalah seorang Filistin sebuah bangsa yang tidak berkhatan. Sekarang Filistin adalah Palestin.

Daud adalah Bani Isra’il sebuah bangsa yang berkhatan. Dengan demikian yang lebih tepat dikatakan adalah bahawa dahulu para nabi tidak berada di negeri Arab. Dan oleh karena itu tidak tepat kalau disebutkan bahawa para nabi ada di negeri Arab.

Dan sesungguhnya para nabi yang selain Arab itu cukup banyak, misalnya Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Isa dan lainnya. Dari 25 orang nama para nabi yang disebutkan di dalam Al-Quran, hanya Nabi Muhammad s.a.w. sahaja yang dipastikan berkebangsaan Arab dan benar-benar tinggal di Jazirah Arabia.

Selebihnya justru para nabi yang kita kenal itu malah berkebangsaan selain Arab. Dan yang paling banyak adalah para nabi yang berkebangsaan Isra’il.

Kalau saya sebut para nabi itu berkebangsaan Yahudi, maksudnya tentu bukan Yahudi Zionis yang kita kenal di zaman moden seperti sekarang ini. Tetapi Yahudi yang dimaksud adalah Yahudi dalam pengertian nama sebuah jenis ras, nama darah dan nama sebuah bangsa.

Mungkin Anda hairan, kalau para nabi di dalam Al-Quran itu bukan Arab, kenapa mereka bercakap dalam bahasa Arab?

Misalnya di QS Al Baqarah [2]:131-133 …

2|131| إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

2|132| وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

2|133|أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

2|131| (Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Serahkanlah diri (kepadaKu wahai Ibrahim)!” Nabi Ibrahim menjawab: “Aku serahkan diri (tunduk taat) kepada Tuhan Yang Memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.”

2|132| Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat dengan ugama itu kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anak-anaknya) katanya: “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih keadaan ini menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan berserah diri bulat-bulat kepada Tuhan.”

2|133| (Demikianlah wasiat Nabi Yaakub, bukan sebagaimana yang kamu katakan itu wahai orang-orang Yahudi)! Kamu tiada hadir ketika Nabi Yaakub hampir mati, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang kamu akan sembah sesudah aku mati?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan datuk nenekmu Ibrahim dan Ismail dan Ishak, iaitu Tuhan yang Maha Esa, dan kepadaNyalah sahaja kami berserah diri (dengan penuh iman).”

Kalau para nabi bukan orang Arab dan tidak bercakap dalam bahasa Arab, mengapa di dalam Al Qur’an para nabi bercakap dalam bahasa Arab?

Jawabannya simple, karena kisah para nabi itu disampaikan oleh Al-Quran yang bertutur dengan menggunakan bahasa Arab, maka secara otomatis semua dialognya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan tidak mungkin dialog mereka disampaikan dalam bahasa aslinya.

Ini bererti di dalam Al Qur’an, selain kegiatan hafal-menghafalkan, kegiatan terjemah-menterjemahkan juga dianggap MUSTAHAK dan SAHIH.

Kegiatan hafal-menghafalkan dilakukan agar supaya mushafnya tetap sama. Kegiatan terjemah-menterjemahkan dilakukan agar supaya maknanya tetap sama.

Terjemahan juga dianggap mustahak dan sahih untuk mengungkapkan kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

Dan dari sisi geografis, para nabi itu juga tidak tinggal di negeri Arab, sebab di masa lalu, negeri tempat para nabi diutus itu belum lagi menjadi negeri Arab.

Sebutlah misalnya Mesir. Memang sekarang ini nama resminya adalah Republik Arab Mesir. Tetapi di zaman Nabi Ibrahim atau zaman Nabi Musa, Mesir itu bukan negeri Arab.

Begitu juga Palestin, memang sekarang ini adalah sebuah negara Islam dan berpenduduk mayoritas Islam, bahkan rakyatnya berbahasa Arab. Tetapi di masa Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Dawud dan Nabi Isa hidup, Palestin bukan negeri Arab, penduduknya pun tidak berbahasa Arab. Ketika itu Palistin dikenal sebagai Filistin

Hal yang sama juga dengan Iraq dan Yaman, Iraq dan Yaman di zaman para nabi di umat terdahulu juga bukan negeri Islam. Iraq itu dulunya adalah wilayah kekaisaran Persia, penduduknya menyembah api (Majusi), bahasanya juga bukan bahasa Arab. Dan Yaman di masa Ratu Balqis bukan negara Arab. Bahkan di masa kelahiran Nabi Muhammad s.a.w., orang-orang Yaman masih merupakan kerajaan Kristen.

Al Qur’an Surah Fathir [35]:24 …

وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ,

yang ertinya,

“… dan tidak ada, sesuatu umat pun melainkan telah ada dalam kalangannya dahulu seorang Rasul pemberi ingatan dan amaran.”

Tuhan Yang Maha Tinggi sesembahan Nabi Ibrahim sungguh sangat dekat dengan setiap insan manusia. Tuhan Yang Maha Tinggi sesembahan Nabi Ibrahim sangat ingin berhubung dengan siapa sahaja tidak kira bangsa dan tidak kira bahasa apa saja yang dipakainya.

Tuhan Yang Maha Tinggi tidak membeza-bezakan bangsa dan bahasa. Demikian disebutkan di Kitab Al Qur’an Surah An Nas.

Ertinya,

114|1| Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada Tuhan Pemulihara sekalian manusia.

114|2| “Yang Menguasai sekalian manusia,

114|3| “Tuhan yang disembah oleh sekalian manusia,

114|4| “Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, –

114|5| “Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, –

114|6| “(Iaitu pembisik dan penghasut) dari kalangan jin dan manusia”.

Kitab Taurat ditulis dalam Bahasa Bani Isra’il dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kitab Zabur ditulis dalam Bahasa Bani Isra’il dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kitab Injil ditulis dalam Bahasa Grika Yunani dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kitab Al Qur’an ditulis dalam Bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Kitab-Kitab Allah dan terjemahan-terjemahannya semua wajib diimani dan diamalkan.

Tuhan Yang Maha Tinggi sungguh akrab dan sangat ingin berhubung dengan siapa sahaja tidak kira bangsa dan tidak kira bahasa apa saja yang dipakainya.

Disebutkan di Al Qur’an Surah Qaf [50] ayat 16

“Tuhan Yang Maha Tinggi Yang Mencipta setiap manusia sungguh sangat dekat dengan manusia tanpa pandang bulu. Dekatnya Tuhan kepada manusia diibaratkan, lebih dekat Tuhan Yang Maha Tinggi daripada urat leher manusia.”

Berhubunglah dengan Tuhan Yang Maha Tinggi dengan cara membaca dan mendengarkan KalimahNya di http://ya-rahman.com/.

Tuhan itu pemurah dan penyayang. Tuhan itu kasih.