Ilmu-Ilmu dari Wahyu-Wahyu Sebelumnya Tidak Pernah diMubazirkan

Adanya rentetan paristiwa-paristiwa turunnya wahyu-wahyu ilahi tersebut membuktikan adanya keterpaduan wahyu-wahyu ilahi tersebut yang sesungguhnya satu suara yaitu sama-sama mentauhidkan Allah. Walau dalam bahasa yang berbeza, wahyu-wahyu yang turun terdahulu tidak lain adalah wahyu yang turun berikutnya. Walau dalam bahasa yang berbeza, pada hakikatnya sama! Ada keterpaduan suara. Ada keterpaduan antara nabi-nabi pendahulu dan nabi-nabi berikutnya.

Sudah selayaknya, wahyu ilahi Al-Qur’an dalam bahasa Arab sesungguhnya sama dengan wahyu ilahi Kitab dalam bahasa Ibrani. Hal-hal yang berhubungan dengan manusia dan takdirnya, ketentraman dan keselamatannya lahir-bathin, selalu sama tidak berubah dari awal dan akan terus berlanjut selamanya. Muhammad tidak pernah memubazirkan ’ilmu-‘ilmu dari wahyu-wahyu ilahi sebelumnya yang diperolehnya dari Waraqa, ahli yang bijak mengenai ‘ilmu-‘ilmu dari wahyu-wahyu ilahi sebelum Qur’an.

Walau memang terdapat sangat sedikit sumber dari kumpulan-kumpulan riwayat nabi dan buku-buku sejarah lainnya. Tidak ada lagi nama yang pernah disebutkan selain nama Waraqa Sang Ra’is Aam. Jadi Waraqa Sang Rais Aam lah yang kemungkinan besar memberi contoh-contoh dan teladan dalam mengamalkan ‘ilmu-‘ilmu wahyu-wahyu ilahi sebelumnya, yang dipisahkan oleh rentang waktu yang lama. Muhammad tidak pernah memubazirkan ’ilmu-‘ilmu dari wahyu-wahyu ilahi sebelumnya.

Muhammad, adalah andalan Sang Ra’is Aam, Waraqa, untuk memastikan keberlanjutan kepemimpinan jama’ah silaturahmi insan-insan Quraysh yang beralampikiran nashara yang takdzim dan tawadu’ kepada Sayidina ‘Isa di Mekah ketika itu. Oleh Waraqa Sang Ra’is Aam, Muhammad ditugasi untuk mengajarkan hal-hal ukhrawi dan diiniyah dan iman kepada umatnya. Bagaimanapun juga untuk memahami iman, seseorang perlu menyimak dan meyakini kata-kata yang disampaikan seseorang yang ditakdirkan dan ditugasi dan diberi amanah untuk menjadi guru.

Awalnya, Waraqa kemudian Muhammad menerima panggilan untuk mengajarkan kebenaran ilahi kepada bangsa Arab. Keduanya menjelaskan arahan dan ampunan ilahi kepada para penduduk Mekah serta menyediakan panduan akhlaq untuk menjaga mereka agar tetap berada di jalan yang benar. Para guru-guru dari bangsa Arab semestinya meneruskan tugas ini kerana semakin banyak orang di Timur Tengah yang menjauhi Tuhan Allah dan lebih memikirkan mengejar kekayaan serta beranak-pinak.

Sudah tiba waktunya bagi Muhammad untuk menyampaikan pesan ilahi, beliau menyampaikannya dengan kitab hikmah tersebut. Beliau membacakan dan mentilawatkan ayat-ayat kitab tersebut kepada mereka sehingga mereka mendengar dan meyakini kerana macam mana orang boleh percaya tanpa mendengar terlebih dahulu. Pasti tidak ada yang percaya tanpa mendengar terlebih dahulu. Muhammad memandang dirinya sebagai seseorang yang mengajarkan apa yang tidak difahami orang ketika itu.

Sesungguhnya Allah telah mengurniakan (rahmatNya) kepada orang-orang yang beriman, setelah Ia mengutuskan dalam kalangan mereka seorang Rasul dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, dan membersihkan mereka, serta mengajar mereka Kitab Allah dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu adalah dalam kesesatan yang nyata.

QS Ali ‘Imran [3]:164.

Pesan ini ditemukan beberapa kali dalam Al-Qur’an.

Kami mengutuskan kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu, yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, dan membersihkan kamu (dari amalan syirik dan maksiat), dan yang mengajarkan kamu kandungan Kitab serta Hikmat kebijaksanaan, dan mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui.

QS Al Baqarah [2]:151.

Muhammad faham bahawa kitabnya tersebut adalah peringatan dari Tuhan Allah untuk mendorongnya menyebarkan ajaran dan menjadi pemandu ke arah kebenaran.

“… Allah menjadi Saksi antaraku dengan kamu, dan diwahyukan kepadaku Bacaan (Qur’an) ini, supaya aku memberi amaran dengannya kepada kamu.

QS Al An’am [6]:19.

Dan ini ialah Kitab yang Kami turunkan, yang mengandungi berkat (banyak faedah-faedah dan manfaatnya), lagi mengesahkan kebenaran Kitab-kitab Suci yang diturunkan sebelumnya, dan supaya engkau memberi peringatan kepada penduduk “Ummul-Qura” (Makah) serta orang-orang yang tinggal di kelilingnya.

QS Al An’am [6]:92.

“(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad dari Tuhanmu). Oleh itu, janganlah ada perasaan bimbang dalam dadamu mengenainya, supaya engkau memberi amaran dan supaya menjadi peringatan.

QS Al A’raf [7]:2.

Ini disampaikan kepada manusia supaya mereka diberi ingat dan diberi nasihat dengannya.”

QS Ibrahim [14]:52.

Al-Quran pula sebuah Kitab – yang mengesahkan kebenaran (kitab-kitab yang telah lalu), – diturunkan dalam bahasa Arab untuk memberi amaran.

QS Al Aḥqaf [46]:12.

Al-Qur’an tidak lain hanyalah suatu kitab yang …

menjelaskan tiap-tiap sesuatu dan menjadi hidayah petunjuk, serta membawa rahmat dan berita yang mengembirakan, bagi orang-orang yang berserah diri.

(QS An Naḥl [16]:89.)

Tidaklah patut adanya pada manusia yang ingkar itu perasaan hairan disebabkan Kami telah wahyukan kepada seorang lelaki dari jenis mereka.

QS Yunus [10]:2.

Bila pesan ini terlalu pelik bagi kawan-kawan dan lawan-lawannya di antara para penduduk Mekah, maka mereka tinggal meminta saksi dari mereka para penduduk Mekah ketika itu yang memiliki pengetahuan atas kitab.

Oleh itu bertanyalah kamu kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan yaitu para Ahli Zikri (Ahl al-Zikr) jika kamu tidak mengetahui.

QS An Naḥl [16]:43.

Dan Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad) melainkan orang-orang lelaki yang Kami wahyukan kepada mereka (bukan malaikat); maka bertanyalah kamu kepada AhluzZikri” jika kamu tidak mengetahui.”

QS Al Anbiya’ [21]:7.

Daripada para ahli kitab, mereka bisa mendapatkan jawabannya.

“… kamu akan mengetahui kelak siapakah orang-orang yang berada atas jalan yang lurus, dan juga siapa yang mendapat petunjuk.”

QS Ṭaha [20]:135.

Dia lah yang menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci Al-Quran. Sebahagian dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat “Muhkamaat” (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. Dan yang lain lagi ialah ayat-ayat “Mutasyaabihaat” (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbulah faham yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) – adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut yang disukainya). Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah. Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu ugama, berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami” dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran.

QS Ali ‘Imran [3]:7.

Di Qur’an ada ayat-ayat yang muhkamaat, (ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat difahami dengan mudah), itulah pokok-pokok kitab Al-Qur’an dan yang lain mutasyaabihaa …” (ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian, yang pelik dan susah difahami).

Muhammad dengan pasrah memohon pertolonganan Allah agar dia boleh menyampaikan kebenaran ilahi dengan taat dan tawadu’.

“… Dan jadikanlah bagiku sebutan yang baik (nama yang harum) dalam kalangan orang-orang yang datang kemudian.”

QS Asy Syu’ara [26]:84.

Di kampung halamannya, Mekah, Muhammad dihormati sebagai orang yang jujur. Ia dipanggil dengan gelar Al-Amin, yang ertinya orang yang boleh dipercaya. yang diturunkan di Mekah, kita boleh menyimpulkan bahawa kitab yang digunakan oleh Waraqa dan insan-insan yang beralampikiran nashara akhirnya menjadi,

“Injil orang-orang Arab.”

(Kabar Gembira Yang Melegakan orang-orang Arab.)

Injil di tahun 40 Sesudah Masehi sampai tahun 600-an Sesudah Masehi tidak dalam bentuk satu bendel buku seperti di zaman moden sekarang ini.

Injil …

  • dalam bahasa Yunani Evangel
  • dalam Bahasa Melayu Kabar Gembira Yang Melegakan
  • dalam bahasa Inggris Good News
  • dalam Bahasa Arab al-busyro atau al-mubassyiriin atau akhbarsyara

Injil diturunkan bukan sebagai buku yang langsung turun dari langit dengan memakai tinta langit dan huruf huruf langit, namun diturunkan lewat para saksi mata dan yang mendengar dan melihat secara langsung Sayidina ‘Isa di zaman beliau dan segala keadaan sosial politik dan sentimen sejarah di zaman Sayidina ‘Isa.

Saksi-saksi mata yang menulis Kabar Gembira Yang Melegakan tersebut tentu sudah ditetapkan Allah. Mereka adalah …

  • Matta al-Hawari
  • Marqusa al-Hawari
  • Luqa al-Thabib
  • Yahya al-Hawari

yakni insan-insan yang sejaman dengan Sayidina ‘Isa yakni pada awal Abad I Sesudah Masehi, tahun 1 sampai 40-an Sesudah Masehi.

Itu menjelaskan tiap-tiap sesuatu dan menjadi hidayah petunjuk, serta membawa rahmat dan berita yang mengembirakan, bagi orang-orang yang berserah diri.

QS An Naḥl [16]:89.

Ini sesuai dengan wahyu ilahi yang menyatakan bahawa,

“… tiap-tiap umat diseru untuk menerima kitab suratan …”

QS Al Jasiyah [45]:28)

dan …

wa maa ahlaknaa min qaryatin illa walaa kitaabun ma’luum

Dan tiadalah Kami binasakan (penduduk) sesebuah negeri melainkan ada baginya tempoh yang tertentu dan termaklum untuk akhirnya memiliki Kitab dalam bahasa yang boleh mereka fahami.”

Pokoknya tiap kampung memiliki kitabnya: QS Al Hijr [15]:4.

Berkat perjuangan dan pengabdian Waraqa, bangsa Arab kini memiliki kitab sucinya sendiri dalam bahasa Arab.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini