Islam Awal (Tentang Abdul Mutallib)

Sejak dari dahulu kala alam pikiran nashara bukan ada khusus untuk membela keberadaan para ra’is aam orang-orang yang beralampikiran nashara dan juga bukan ada khusus untuk membela guru-guru yang bealampikiran nashara macam Waraqa yang selalu dalam keadaan musafir kemana-mana di Mekah dan Jazirah Arab. Menurut sejarawan Al-Ya’qubi (meninggal pada 284 Sesudah Masehi, Al-Halabiyya, Vol. I, hal. 37), sejumlah besar orang-orang Quraysh ketika itu memang sungguh-sungguh beralampikiran nashara.

Menurut penemuan dari Al-Azraki yang dicatat pada karyanya yang berjudul,

“Penggalian situs-situs purbakala di Mekah” (Al-Azraki, Akbar Makka, Vol. I, hal. 37)

menyatakan bahawa keberadaan insan-insan yang takdzim dan tawadu’ pada Isa yang bergelar Al-Masih dari Naashirah ini terdeteksi di Ka’bah. Sang Ra’is Aam, Waraqa, dulu pernah menjadi pengasuh tarekat di Ka’bah Mekah ketika itu.

Tarekat ibadah tersebut pada saat itu selalu berdasarkan kitab Allah yaitu Injil yang selalu dibawa oleh insan-insan Ibrani ahlul injiil yang hijrah dari Qudsi Yerusalem ke Mekah tersebut. Lihat QS Al Ma’idah [5]:47; QS Ali ‘Imran [3]:113.

Beberapa penulis Riwayat Nabi Muhammad yang sangat pakar dalam fakta-fakta sejarah di Zaman Nabi menyatakan bahawa keberadaan alampikiran nashara harus diakui memang ada dalam keluarga besar Muhammad. Kakeknya Muhammad, orang tuanya Muhammad, pamannya Muhammad, dan kerabat-kerabat dekatnya Muhammad merupakan insan-insan yang sangat beralampikiran nashara.

Ketika itu, guru-guru yang beralam pikiran nashara macam Waraqa yang selalu dalam keadaan musafir ke mana-mana di Mekah dan Jazirah Arab, ketika itu mereka dikenal sebagai “penyembah-penyembah Allah.” Mereka sangat dekat dengan Muhammad dan memiliki pengaruh yang sangat mendalam terhadap Muhammad dan kenabiannya kelak.

Abdul Muttalib, salah satu insan ketika itu yang sangat beralam pikiran nashara.

Abdul Muttalib, kakek Muhammad,

“dianggap termasuk golongan yang menolak budaya berhala di zaman Jahiliyah.”

(Al-Ya’qubi, Vol. II, hal. 10.)

Seorang yang hidup sezaman dengan Abdul Muttalib menyatakan bahawa Abdul Muttalib memeluk keyakinan yang sama dengan yang dianut oleh Nabi Ibrahim. Itu berarti Abdul Muttalib bukan seorang penyembah berhala (Al-Makkiyya, Vol. I, hal. 72).

Keyakinan yang dianut oleh Nabi Ibrahim adalah “keyakinan yang sudah selazimnya,” yakni mentauhidkan atau mengutamakan Tuhan Allah Yang Maha Esa dan sebagai akibatnya mengutuk amalan-amalan yang tidak mengesakan atau tidak mengutamakan Allah Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Qur’an, mengesakan atau mengutamakan Tuhan Allah adalah “agama yang benar” (QS At Taubah [9]:33) atau “agama yang lurus” (QS Yusuf [12]:40; QS Ar Rum [30]:30).

Ada tanda-tanda yang meyakinkan bahawa Abdul Muttalib adalah haniifan musliman, yakni seorang insan yang berserah diri kepada Tuhan Allah secara total, atau boleh dikatakan Abdul Mutallib seorang penganut keyakinan monoteisme yakni “mengutamakan Tuhan” (Al-Halabiyya, hal. 4; al-Makkiyya, hal. 22, 23).

Mengutamakan Allah! Itulah ciri khas insan-insan yang beralam pikiran nashara yang takdzim dan tawadu’ kepada Sayidina ‘Isa di masyarakat-masyarakat yang berbahasa Arab ketika itu. Tidak seperti mayoritas penduduk Mekah ketika itu yang memiliki kebiasaan mengutamakan Allah namun juga mengutamakan illah-illah selain Allah, Abdul Mutallib mengutamakan Allah sahaja.

Kalau melihat kehidupan Abdul Mutallib dan keteguhan watak beliau tauladan serta contoh-contoh dan nasihat yang diberikan beliau pada anak-anak beliau, itu semua dengan jelas membuktikan bahwasanya beliau menunjukkan akhlak mulia sebagai akibat dari kehidupan beliau yang mengutamakan Tuhan Allah.

Menurut Ibn Hisham, Abdul Mutallib merupakan salah satu laki-laki paling bijak dan dermawan di antara suku Quraysh. Beliau menerima pernyataan Muhammad yang mengumumkan kenabiannya. Beliau melarang dirinya sendiri meminum alkohol. Beliau merupakan salah satu di antara yang pertama yang dengan teguh melaksanakan amalan ke Gua Hira untuk bertahanush. Beliau rutin mengunjungi Gua Hira tiap tahunnya di awal bulan Ramadan untuk bertahanush. Beliau mendorong dirinya sendiri untuk dengan ikhlas melakukan amalan-amalan memberi zakat fitrah demi menolong fakir miskin.

Saat Abdul Mutallib bertirakat di Gua Hira, beliau mendirikan salat dan berdoa dan bertafakur mengingat kebaikan Tuhan Allah. Beliau sering berbagi makannya dengan burung-burung liar dan binatang-binatang liar. Karena itulah, ia dijuluki,

“pemberi makan burung-burung liar” atau “sang dermawan yang sangat ikhlas dan tidak pelit dalam bersedekah.”

(Ibn Hisham, Sirah, Vol. I, hal. 43.)

Sumber lain menyanjung kebajikan-kebajikan Abdul Mutallib kerana pengabdian beliau pada tauhid, semangat yang dicontohkan beliau pada anak-anaknya untuk melakukan amalan-amalan bersedekah, dan amalan ibadah tahanush Gua Hira dan perasaan iba dan belas kasih beliau terhadap kaum fakir miskin, termasuk yang dicontohkan beliau dalam berbagi makanan dengan burung-burung liar dan binatang-binatang liar.

Sumber yang sama melaporkan bahawa beliau memiliki sikap bahawa hukum dan keadilan harus dijunjung tinggi. Beliau sangat setuju dengan hukum potong tangan terhadap seorang pencuri. Beliau mengutuk dengan sangat keras perbuatan minum minuman yang mengandung alkohol, perbuatan zina dan perbuatan maksiat, dan perbuatan bersetubuh antara bapak dengan anaknya sendiri atau ibu dengan anaknya sendiri atau kakek-nenek dengan cucunya sendiri atau paman atau bibi dengan keponakannya sendiri.

Bentuk-bentuk kemaksiatan tersebut sangat dikutuk dan ditentang habis-habisan oleh Abdul Mutallib. Kalau keluar rumah, beliau selalu berpakaian sopan dan rapi. Kalau keluar rumah, beliau tidak pernah terlihat tanpa mengenakan baju. Beliau seringkali berkata: “Atas nama Tuhan Allah, di balik hidup ini ada hidup lain di situlah orang-orang yang suka bersedekah akan diberi pahala namun orang-orang yang melanggar apa yang sudah ditetapkan Allah akan dihukum.” (Al-Halabiyya, hal. 4; al-Makkiyya, hal. 73).

Penolakan Abdul Mutallib pada hal-hal yang cenderung syirik sungguh mencerminkan alampikiran insan-insan Al Qudsi (Yerusalim)[1] yang tidak lain adalah Bani Isra’il dan insan-insan yang berpolapikiran nashara ebionit (fakir miskin)[2] yang hijrah dari Kota Al Qudsi Yerusalim. Tidak bisa ditutup-tutupi, kedua paradigma atau alampikiran Semitik atau Samawi tersebut meninggalkan napak tilas[3] jejak-jejak mereka di Mekah dan daerah-daerah sekitar Jazirah Arab. Perlu diketahui, Abdul Mutallib adalah kakeknya Muhammad. Fakta tentang Abdul Mutallib yang sering ditonjolkan oleh para penulis Riwayat Nabi adalah sifat penuh iba dan belas kasihannya Abdul Mutallib pada binatang-binatang liar dan burung-burung liar[4] serta kedermawanannya terhadap fakir miskin (menyantuni orang fakir miskin adalah perbuatan sangat disarankan oleh Kitab Taurat).

[1] Paradigma keyakinan Qudsi atau atau Yerusalim Kuno sekarang ini sering secara sederhana disebut “Yudaisme.”

[2] Istilah yang sering dipakai di Zaman Modern untuk mengacu pada alam pikiran nashara fakir miskin adalah Kristian Ebionit. Pahahal, nashara adalah pengungkapan ketakdziman kepada Sayidina ‘Isa dalam konteks masyarakat Qudsi atau Yerusalim Kuno, Timur Tengah. Dalam bahasa Ibrani, ebionit artinya duafa atau fakir. Sedangkan Kristian adalah pengungkapan ketakdziman kepada Sayidina ‘Isa dalam konteks sosio-politik budaya dan religiositas masyarakat Ruum Tanah Eropa.

[3] Napak tilas itu istilah yang di pakai untuk kaum penjelajah alam. Sering kita melakukan napak tilas (missal, rute perjalanan gerilya nenek moyang pahlawan kita di zaman dahulu). Jadi kita mencoba menelusuri jejak perjalanan mereka dengan kondisi sekarang, dan berharap kita semakin dekat dengan alam dan selalu mengingat, betapa beratnya perjalanan perjuangan para pendahulu).

[4] Kerana Nabi Daud dan puteranya Sulaiman melakukan Firman Allah di dalam Kitab Taurat, Nabi Daud dan Sulaiman boleh bersikap ramah dan penyantun bahkan kepada burung-burung dan haiwan-haiwan liar dan mereka bahkan boleh bercakap-cakap dengan burung. QS An Naml [27]:15-16.

Dari fakta mengenai Abdul Mutallib tersebut, kita di Zaman Moden ini boleh mengambil hikmah dari alam pikiran nashara. Fakta mengenai Abdul Mutallib tersebut adalah cerminan alam pikiran nashara musafir di Zaman Jahiliyah di Mekah dan bukan hasil dari kontak-kontak formal dengan Bani Isra’il manapun di daerah sekitar Mekah ketika itu.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini