Keadaan Masyarakat Mekah di Zaman Muhammad

Wasiyat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub

QS Al Baqarah [2]:132 …

Dan Nabi Ibrahim pun berwasiat kepada anak-anaknya, dan (demikian juga) Nabi Yaakub (berwasiat kepada anak-anaknya) katanya: “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih Islam (berserah diri kepada Allah) menjadi ikutan kamu, maka janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan Islam (dalam keadaan berserah diri kepada Allah).”

Dalam keadaan berserah diri bulat-bulat kepada Allah itulah keadaan yang sempurna.

QS Ali ‘Imran [3]:19 …

Sesungguhnya keadaan (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam (keadaan berserah diri bulat-bulat kepada Allah).”

QS Ali ‘Imran [3]:85

Dan sesiapa yang mencari ugama selain ugama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi.”

QS Al An’am [6]:125 …

Maka sesiapa yang Allah kehendaki untuk memberi hidayah petunjuk kepadanya nescaya Ia melapangkan dadanya (membuka hatinya) untuk menerima Islam yakni keadaan yang berserah diri bulat-bulat kepada Allah …”

QS Az Zumar [39]:22 …

“… Jika orang telah dilapangkan Allah dadanya untuk menerima Islam, ia tetap berada dalam cahaya (hidayah petunjuk) dari Tuhannya.”

QS Al Ma’idah [5]:3 …

“… ada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu ugama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi ugama untuk kamu.

QS Al Ḥujurat [49]:17 …

“… Janganlah kamu mengira keislaman kamu itu sebagai budi kepadaKu, bahkan (kalaulah sah dakwaan kamu itu sekalipun maka) Allah jualah yang berhak membangkit-bangkitkan budiNya kepada kamu, kerana Dia lah yang memimpin kamu kepada iman (yang kamu dakwakan itu), kalau betul kamu orang-orang yang benar.

Tidak seperti yang dikesankan oleh golongan-golongan tertentu, secara umum keadaan masyarakat di mana Muhammad hidup ketika itu bukanlah masyarakat penyembah berhala dan juga bukan masyarakat yang ateis yang tidak percaya adanya Tuhan. Tidak seperti yang diterangkan di sirah-sirah dari berbagai macam perawi, masyarakat Kota Mekah ketika itu, bukanlah masyarakat yang asing pada konsep Tuhan Allah Yang Maha Besar. Para penduduk Mekah, meskipun memiliki kecenderungan mengamalkan praktik-praktik penyembahan berhala dalam kehidupan sehari-harinya, namun mereka tidak pernah membantah Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu Allah (qul huwa allahu ahad). Walau mereka mengamalkan praktik-praktik penyembahan berhala, mereka tidak pernah bantah qul huwa Allahu ahad.

Prakek-praktek penyembahan berhala di Mekah ketika itu, sebagaimana dilaporkan oleh Al-Qur’an, adalah praktek-praktek yang terkesan takut mempersekutukan ilah-ilah dengan Allah. Ertinya bukan praktek-praktek yang terang-terangan menyembah berhala dan segala macam ilah-ilah. Namun walaupun tidak terang-terangan, memang ada bentuk-bentuk penyembahan berhala dan segala macam ilah-ilah, dan ada pemujaan-pemujaan perantara-perantara antara manusia dengan Allah, dan memang ada ritual-ritual aneh-aneh yang tidak mengutamakan Allah.

Yang seringkali dianggap sebagai perantara yang afdol dan mujarab oleh masyarakat Mekah ketika itu adalah …

Sementara orang-orang Arab di Mekah ketika itu tidak pernah memperilah seorang manusia. Menurut mereka, pokoknya gaib, barulah oleh mereka dianggap pantas menjadi perantara mereka menghadap Tuhan Allah. Al-Qur’an tidak mengutuk para penduduk Mekah atas sikap khilaf dan lupa dan jauh mereka pada Tuhan Allah.

Itu bukan syirik. Yang dianggap syirik oleh Al-Qur’an adalah memperilah berhala-berhala dan idola-idola mereka. Tidak ada yang pantas diperillah selain Allah. Berhala-berhala dan idola-idola manusia tidak pantas diperillah. Hal-hal demikian merusak ilmu dan keimanan mereka terhadap Tuhan Allah. Meskipun sebagaian besar orang-orang Mekah ketika itu mengaku percaya adanya Tuhan Allah namun mereka menciptakan berbagai macam ilah-ilah rekaan mereka sendiri.

Dan (orang-orang yang beriman kepada Allah), kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukannya juga dengan yang lain.”

QS Yusuf [12]:106.

“… Demi Allah Tuhan kami, kami tidak pernah menjadi orang-orang yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain).”

QS Al An’am [6]:23.

Ketika itu Muhammad sendiri mengetahui keadaan masyarakatnya ketika itu yang cenderung melakukan amalan-amalan syirik yang pengungkapannya tidak secara terang-terangan. Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam.

Allah Pencipta langit dan bumi. Itulah pembukaan dalam tata peribadahan menurut Al-Qur’an. Tata peribadahan menurut Al-Qur’an selalu diawali dengan itu. Walaupun begitu Muhammad tahu bahawa masyarakatnya ketika itu cenderung syirik yang pengungkapannya tidak terang-terangan. Muhammad menyatakan bahkan kalau mereka ditanya,

“Siapakah yang mencipta langit dan bumi?” Sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah.”

QS Az Zumar [39]:38.

Kemudian Muhammad memberi beberapa pertanyaan retoris untuk ditanyakan kepada masyarakatnya ketika itu,

“Siapakah yang menciptakan mereka?” Sudah tentu mereka akan menjawab: “Allah!”

QS Az Zukruuf [43]:87.

Disebutkan di Al-Qur’an, kalau mereka ditanya,

“Siapakah Tuhan yang memiliki dan mentadbirkan langit yang tujuh, dan Tuhan yang mempunyai Arasy yang besar?” Mereka akan menjawab: “(Semuanya) kepunyaan Allah.”

QS Al Mu’minun [23]:86-87.

Lebih lanjut lagi, tata ibadah tersebut juga dengan tegas menyinggung orang-orang suku Quraysh ketika itu.

“Tanyakanlah lagi: Siapakah yang memegang kuasa pemerintahan tiap-tiap sesuatu, serta ia dapat melindungi (segala-galanya) dan tidak ada sesuatupun yang dapat disembunyi daripada kekuasaannya? (Jawablah) jika kamu mengetahui!” Mereka akan menjawab: “(Segala-galanya) dikuasai Allah.

QS Al Mu’minun [23]:88-89.

Bertanyalah kepada mereka (yang musyrik itu):

“Siapakah Yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan makhluk yang hidup dari benda yang mati, dan mengeluarkan benda yang mati dari makhluk yang hidup? Dan siapakah pula yang mentadbirkan urusan sekalian alam? “(Dengan pertanyaan-pertanyaan itu) maka mereka (yang musyrik) tetap akan menjawab (mengakui) dengan berkata: “Allah jualah yang menguasai segala-galanya!”

QS Yunus [10]:31.

Tapi anehnya kalau melakukan perbuatan-perbuatan yang keji dan sungguh memalukan dan sungguh tidak mulia, mereka akan dengan mudah berkata,

Dan (orang-orang yang tidak beriman itu) apabila mereka melakukan sesuatu perbuatan yang keji, mereka berkata: “Kami dapati datuk nenek kami mengerjakannya, dan Allah perintahkan kami mengerjakannya.”

QS Al A’raf [7]:28.

Pengungkapan syirik yang tidak terang-terangan yang dilakukan bangsa Arab ketika itu justru bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka sendiri mengenai keesaan Tuhan Allah (qul huwa allahu ahad). Para penduduk Mekah ketika itu mungkin sudah tahu bahawa Tuhan Allah adalah satu-satunya Pencipta, namun mereka merasa bertemu dengan Tuhan Allah melalui perantaraan apa yang mereka bayang-bayangkan sendiri, melalui perantaraan malaikat dan orang-orang keramat, melalui perantaraan simbol-simbol dalam bentuk patung-patung, dan berhala-berhala.

Karena Muhammad dibesarkan dalam masyarakat yang seperti itu, pengalaman-pengalaman Muhammad kemungkinan besar terlalu berbeza dengan para kerabatnya dan tetangga-tetangganya. Tapi bagaimanapun juga Waraqa bin Nawfal berperan sebagai pendamping bagi Muhammad saat Muhammad datang kepada Sang Ra’is Aam yang beralampikiran nashara ebionit atau nashara fakir tersebut untuk menjawab kesusahan dan kepelikan dan tantangan yang muncul di masyarakat Mekah tahun 700-an yang mendua dimana alampikiran serta amalan hidup mereka tidak sama. Kedua insan ini yaitu Waraqa dan Muhammad adalah bukti ketauhidan dari alampikiran nashara. Bukti lebih lanjut dari persahabatan dan rasa hormat yang diungkapkan Muhammad terhadap alampikir nashara ini juga tertanam di Al-Qur’an.

QS Al Ma’idah [5]:82

Dan demi sesungguhnya engkau akan dapati orang-orang yang dekat sekali kasih mesranya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Bahawa kami ini ialah orang-orang Nashara”).

Dalam din Islam, Allah itu utama dan yang harus diutamakan. Segala puja dan puji hanya bagi Allah. Allah tidak akan mengakui alampikiran lain selain yang dicontohkan Muhammad kepada bangsa Arab. Dari sini muncul beberapa pertanyaan yang tak boleh dihindari:

  • Apakah Islam merupakan suatu alampikir baru ketika itu dan apakah Muhammad adalah orang yang pertama kali memiliki alampikir tersebut, atau alampikir tersebut sudah umum bahkan sebelum Muhammad?
  • Apakah alampikir nashara, yang didaras atau dipelajari Muhammad dari Waraqa, berselisih dengan ajaran-ajaran Islam yang ditemukan di Al-Qur’an?
  • Apakah sebelumnya Islam tidak pernah ada ataukah Islam adalah cara bangsa Arab melestarikan alampikir nashara?

Hanya Al-Qur’an yang mampu memberikan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawaban-jawaban yang bukan dari Al-Qur’an selalu meragukan.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini