Keprihatinan Muhammad Ketika itu Mengenai Kejadian Terpecah-Pecahnya Umat Terdahulu: Anti Rom vs Pro Rom

Dalam alam upayanya mencegah kemungkinan terjadinya perpecahan di antara kaum Nashara yang ANTI Kaisar Rom dan di antara kaum Kristen yang PRO kepada Kaisar Rom mengenai Sayidina ‘Isa Al-Masih, Muhammad memutuskan untuk bergerak menapak tilasi atau mengungkap ketauhidan murni Sayidina Ibrahim.

Tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya perselisian dan pertikaian di antara orang Arab dan kemungkinan terjadinya ketegangan antara mereka dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang tidak sama mengenai ketauhidan dalam kaitannya dengan Sayidina ‘Isa Al-Masih.

Dalam perjuangnya, Nabi Muhammad sendiri dengan tegas mendukung keislamannya para pendahulu pendahulu beliau dan pengungkapan keislaman tersebut di zaman beliau. Beliau menyatakan bahawa beliau termasuk golongan Islam yang sejak dahulu kala sudah dipeluk oleh para pendahulu-pendahulu beliau, menegakkan ajaran-ajaran pendahulu-pendahulu beliau tersebut, serta memberi tuntunan kepada para pengikutnya untuk menerima dengan tulus contoh- contoh dan ajaran-ajaran pendahulu-pendahulu beliau.

Apakah ini perintah Tuhan Allah? Atau apakah ini himbauan langsung dari Waraqa selaku Ra’is Aam?

Berikut jawabannya walaupun tidak lengkap:

Aku hanyalah diperintahkan supaya menyembah Allah Tuhan negeri (Makkah) ini yang telah menjadikannya suci lagi dihormati dan yang menguasai segala-galanya; dan aku diperintahkan supaya tetap menjadi dari orang-orang Islam (yang menyerah diri bulat-bulat kepadaNya.

QS An Naml [27]:91.

Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku dilarang menyembah benda-benda yang kamu sembah yang lain dari Allah – setelah datang kepadaku keterangan-keterangan yang jelas nyata dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk taat bulat-bulat kepada perintah Tuhan sekalian alam.

QS Al Ghafir [40]:66.

Kerana mendapat amanah sebagai pemimpin umat, yang diurusi Muhammad bukanlah urusan-urusan dunia yang bersifat lahiriah sahaja. Namun karena tinggal di dunia, otomatis sebagai pemimpin umat, Muhammad masih terikat dengan undang-undang dan piagam-piagam dan peraturan-peraturan dan hirarki susunan dan peran kepemimpinan masyarakat yang berlaku ketika itu. Tapi walaupun begitu, Muhammad sebagai pemimpin umat lebih mengurusi hal-hal soal akhirat dan bertanggung jawab kepada Tuhan Allah yang menetapkan dan memberi amanah, bukan mempertanggung jawabkan hal-hal dan perkara-perkara di dunia semata.

Sebenarnya, Al-Qur’an secara terang-terangan lebih tertarik pada kepemimpinan urusan akhirat dan urusan kekhusu’an batin dan tidak tertarik pada pemimpin yang mengurusi hal-hal dunia yang hanya mengurusi hal-hal yang bersifat lahiriah saja.

Islam sudah ada lebih dahulu sebelum Muhammad lahir. Islam yang ada sebelum Muhammad tersebut dipeluk oleh seluruh nabi-nabi Allah. Al-Qur’an mengakui keberadaan Islam yang jauh lebih dahulu ada sebelum Muhammad. Al-Qur’an mengakui dan menyanjung-nyanjung keberadaan Islam yang dipeluk oleh seluruh nabi-nabi Allah sebelum datangnya seorang nabi ke peradaban Arab.

Al-Qur’an lebih mengingatkan umat akan keberadaan Islam yang jauh lebih dahulu ada sebelum Muhammad dan lebih mengingatkan umat akan keberadaan Islam yang dipeluk oleh seluruh nabi-nabi Allah sebelum datangnya nabi ke peradaban Arab. Al-Qur’an mengingatkan bahwasanya Islam atau berserah diri bulat-bulat kepada Allah adalah alam pikiran keyakinan seluruh nabi-nabi Allah sebelum datangnya nabi ke bangsa Arab.

Jadi macam mana pengungkapan Islam yang dikatakan sudah ada sebelum berwarna dan bercorak Arab tersebut?

Islam tersebut tidak berbeza dari alam pikiran insan-insan nashara duafa atau nashara ebionit yang berhijrah dari Al-Quds Yerusalim ke Mekah. Sedangkan Islam yang akhirnya menjadi berwarna dan bercorak Arab tidak lain adalah bukti adanya pengungkapan ketauhidan insan-insan Arab yang hidup di awal-awal abad ke-7.

Penganut Islam pasti haqul yaqin bahawa akarnya adalah haniifan musliman Sayidina Ibrahim dan kehaqul yaqinannya tersebut dibuktikan dengan menakdzimi semua kitab-kitab Allah terdahulu yakni Taurat, Zabur, Injil.

Kitab-kitab Allah terdahulu tersebut mewajibkan para penerima hikmah wahyu ilahi terakhir untuk mengimani dan mengamalkan semua arahan-arahan terdahulunya dalam rangka keterpaduan dari awal sampai akhir.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini