Kerana diZalimi Seseorang Menjadi Hijrah (Secara Lahiriah Maupun Hijrah Secara Bathin)

Sejak zaman dahulu kala, orang-orang yang dizalimi selalu dibela oleh Allah SWT. Dizalimi bukanlah pengalaman yang selesa. Dizalimi berarti menjadi orang buangan yang sangat sangat butuh pertolongan. Hijrah adalah pengalaman yang berlaku semata-mata dengan izin Allah.

Nabi Allah Nuh dizalimi oleh semua orang di zamannya. Nuh melaksanakan perintah Allah untuk membuat bahtera dan menjemput haiwan-haiwan untuk masuk ke dalam bahtera yang dibuatnya. Semua orang menertawakan Nuh dan menghina Nuh. Namun Allah SWT membela Nuh dengan cara Allah SWT memusnahkan semua orang yang menertawakan Nuh. Allah SWT memberi berkat bagi orang-orang yang dizalimi.

Raja Namrud adalah orang yang zalim yang menertawakan orang-orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Tinggi. Namrud merendahkan Allah Yang Maha Tinggi dengan cara membina menara yang sangat tinggi di Kota Babil. Namun Allah mengacaukan bahasa orang-orang zalim tersebut, maka gagallah segala rencana Namrud yang zalim tersebut.

Nabi Allah Ibrahim yang berasal dari Kota Uur Qasdim diperintah Allah untuk meninggalkan kampung halamannya menuju ke tempat yang dijanjikan Allah kepada Ibrahim. Ibrahim hijrah sebab perintah Allah. Semua orang menertawakan Ibrahim. Namun Allah menjadi pembela Ibrahim dan menyebut Ibrahim Khalilullah (Kekasih Allah) dan Bapak daripada orang-orang beriman.

Nabi Allah Ya’qub oleh Allah diberi nama yang baru yakni Isra’il kerana Ya’qub rela berjuang dan bersusah-susah demi untuk memperoleh pahala dari Allah. Orang-orang keturunan Ya’qub disebut Bani Isra’il. Allah memberi derajad yang mulia bagi keturunan-keturunan Ya’qub atau Bani Isra’il. Banyak sekali dari Bani Isra’il menjadi nabi-nabi Allah.

Yusuf adalah salah satu Bani Isra’il, keturunan-keturunan daripada Nabi Allah Ya’qub. Yusuf mengalami banyak kesusahan dan penderitaan. Yusuf menanggung kesusahan demi kesusahan dengan kesabaran. Allah mengangkat derajad Yusuf tinggi sekali. Yusuf dipercaya menjadi sahabat Raja Fir’aun untuk menyelamatkan manusia ketika itu dari bencana kelaparan. Yusuf akhirnya disebut sebagai Nabi Allah Yusuf.

Jaluth adalah orang Filistin. Jaluth bertubuh besar bak seorang raksasa. Bangsa Filistin di zaman Jaluth adalah bangsa yang tidak bersunat, sebab mereka bukan keturunan Nabi Ya’qub yang menyembah Allah SWT. Jaluth menghina orang-orang keturunan Ya’qub yaitu Bani Isra’il dengan cara memaki-maki tuhan yang disembah orang-orang keturunan Ya’qub. Orang-orang keturunan Ya’qub atau Bani Isra’il beribadah kepada Allah. Mereka adalah bangsa yang bersunat yang menjunjung tinggi iman tauhid kepada Allah.

Dawud adalah seorang Bani Isra’il yang berperawakan kecil. Dengan bermodalkan batu kecil dan iman kepada Allah SWT, Dawud boleh membunuh raksasa yang bernama Jaluth yang zalim kepada Bani Isra’il tersebut.

Daniyal adalah orang keturunan Ya’qub yang berasal dari Tanah Suci Baitul Muqadas Uur Salim atau yang sekarang disebut Yerusalem. Orang-orang bersunat di Tanah Suci Baitul Muqadas Uur Salim dijajah dan dizalimi oleh Bangsa Yang Tidak Bersunat yang dipimpin oleh Raja Nebuchadnezzar. Daniyal menjadi orang buangan di Negeri Bangsa Tidak Bersunat yang rajanya bernama Raja Nebuchadnezzar. Walaupun menjadi orang buangan di Negeri Tidak Bersunat, sebagai orang beriman kepada Allah dari Bani Isra’il, Daniyal bersabar dan terus setia mengerjakan sholat beribadah kepada Allah SWT.

QS Al Baqarah [2]:153

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar.

Ayub dizalimi oleh Syaitan sehingga Ayub sakit teruk. Allah menjaga dan memelihara Ayub.

Ingatlah tentang Kisah Azhabul Kahfi, penghuni-penghuni gua dari Tanah Suci Baitul-Mukaddis di Uur Salim yang menjunjung tinggi iman TAUHID mengutamakan Allah yang disembah oleh Ibrahim, Isma’il, Ishaq dan Ya’qub. Ketika Tanah Suci Baitul-Mukaddis di Uur Salim dikuasai oleh bangsa tidak bersunat yang zalim, orang-orang beriman kepada Allah itu terpaksa menjadi musafir atau orang buangan di negeri Efesus (sekarang di Turki) yang dikuasai oleh seorang raja yang zalim.

Menurut sejarahwan Turki Selahattin Erdemgil dalam kitabnya Selcuk Ephesus, musafir tersebut berjumlah 7 yang bernama Mernus, Debernus, Sazenus, Kafestatiyyus, Yemiyha, Mekseliyna, Misliyna. Cerita ini sangat terkenal bahjan manarik perhatian orang-orang Rom yang tidak bersunat. Penduduk di negeri tersebut mengutamakan sultan mereka. Orang-orang buangan dari Tanah Suci Baitul-Mukaddis di Uur Salim tersebut mengutamakan Allah yang disembah oleh Ibrahim, Isma’il, Ishaq dan Ya’qub. Melihat mereka mengutamakan Allah SWT, sultan Efesus yang zalim di negeri tersebut iri hati lantas menjadi sangat marah kepada mereka. Sultan memerintahkan askar-askarnya untuk menangkap dan menghukum mati para penjunjung tinggi iman Tauhid kepada Allah tersebut. Mereka dikejar dan diburu oleh askar-askar raja tidak bersunat tersebut. Mereka lari tunggang langgang terengah-engah kehabisan nafas. Iman mereka yang bulat dan sepenuhnya kepada Allah tersebut menarik seorang penduduk tempatan dan anjingnya sehingga keduanya pun mengutamakan Allah. Mereka ikut lari tunggang langgang sampai mereka kelelahan dan mereka bersembunyi di dalam gua dan tertidur di dalam gua tersebut. Mereka mengira hanya tidur beberapa jam saja.

Namun sebab perlindungan Allah, mereka sebenarnya tidur ratusan tahun. Ketika mereka bangun, sultan yang zalim yang memburu mereka sudah tidak ada di bumi. Ketika mereka bangun dan beli makanan di kedai di sekitar gua, uang receh mereka adalah uang receh ratusan tahun yang lalu. Di uang receh yang mereka pakai untuk beli makanan terdapat gambar sultan zalim tersebut. Uang tersebut adalah sudah tidak digunakan orang lagi dan sudah dilupakan orang. Sultan zalim tersebut sudah dilupakan orang. Bahkan secara tidak disadari, Allah telah melindungi dan menjaga orang-orang yang dizalimi tersebut. (Tengok kisah ini di Qur’an Surah Al Kahf [18].)

Nabi Isa bin Maryam dan Hawariyun, penyokong-penyokong setia Nabi Isa, beserta puak-puak mereka yaitu Bani Isra’il dizalimi oleh bangsa tidak bersunat yaitu Bangsa Rom. Orang-orang Rom memandang Bani Isra’il adalah unta atau budak daripada orang-orang Rom. Nabi Isa memberi nasihat kepada orang-orang yang dizalimi untuk menerima nasib menjadi budak dengan penuh keikhlasan dan syukur kepada Allah. Banyak Hawariyun, penyokong-penyokong setia Nabi Isa, terpaksa hijrah dan menjadi orang buangan di Jazirah Arab bahkan sampai di Yathrib, sekarang Medinah, dan Mekah.

Salah satu Hawariyun penyokong setia Nabi Isa tersebut bernama Astofan mati sebagai syuhada’ dibunuh oleh orang-orang zalim yang dipimpin oleh Bulus yang sangat membenci Hawariyun penyokong setia Nabi Isa tersebut. Namun Bulus akhirnya didatangi oleh Nabi Isa sendiri dan, oleh Nabi Isa, Bulus disadarkan dan dijadikan Hawariyun yang menjadi contoh bagi orang-orang bagi bangsa tidak bersunat untuk takdzim dan tawadu’ kepada Nabi Isa. Rasulullah belum lahir kerana hal itu terjadi sebelum Peristiwa Tahun Gajah tahun 570 Masehi.

Waraqah bin Nawfal adalah salah satu keturunan orang buangan dari Tanah Suci Baitul-Mukaddis di Uur Salim yang tinggal di Mekah. Waraqah bin Nawfal dan datuk-datuknya selalu mentilawatkan dan membaca Kitab Injil Bahasa Ibrani dari Tanah Suci Baitul-Mukaddis di Uur Salim. Bapak dari Rasulullah bernama Abdullah, yang artinya Hamba Allah. Jadi keluarga besar Nabi bukanlah orang orang Jahiliyah yang tidak mengenal Allah kerana mereka adalah orang orang Quraisy musafir dari Tanah Suci Baitul-Mukaddis di Uur Salim. Oleh persekutuan orang-orang buangan di Mekah dan Yathrib ketika itu terkenal dengan sebutan Kaum Quraisy atau Persekutuan Kaum Musafir, Waraqah bin Nawfal dianggap sebagai penghulu adat Kaum Quraisy yang bijaksana dan dalam ilmunya (tengok Qur’an Surah Quraisy [106]).

Waraqah, Khadijah dan Muhammad adalah putera-puteri Kaum Musafir Quraisy.

Khadijah memiliki sepupu bernama Waraqah bin Nawfal. Waraqah, Khadijah, dan Muhammad, ketiganya berasal dari kaum Quraisy. Waraqah, putera dari Nawfal, putera Assad, putera Abdul ‘Uzzah, putera Qussayy. Khadijah, adalah puteri Khuwaylid, putera Assad, putera Abdul ‘Uzzah, juga putera Qussayy. Khadijah menjadi isteri pertama Muhammad, putera Abdullah, putera Abdul Muttalib, putera Hashim, putera Abd Manaf, putera Qussayy.

Pemimpin Kaum Musafir Quraisy, Waraqah bin Nawfal menulis kitab Ibrani. Ia menulis dari Injil Ibrani apa yang diinginkan Tuhan. (Sahih Bukhari 1:3)

Pemimpin Kaum Musafir Quraisy, Waraqah bin Nawfal, menulis buku Arab. Ia menulis dari Injil ke dalam bahasa Arab apa yang diinginkan Tuhan. (Sahih Muslim 301)

Waraqah bin Nawfal dan kakek dan bapak dan paman Muhammad semua adalah orang orang musafir yang menjunjung tinggi tauhid kepada Allah Tuhan Yang disembah Ibrahim, Isma’il, Ishaq dan Ya’qub. Mereka sangat takdzim dan tawadu’ kepada Nabi Isa bin Maryam.

Abdul Muthalib kakek Muhammad dan Abdullah bapak dari Muhammad melakukan amalan ibadah tahanus mengasingkan diri untuk menyembah Allah di Gua Hira. Muhammad juga melakukan apa yang dilakukan oleh kakek dan bapaknya dan pamannya Abu Thalib.

Waraqah bin Nawfal lah yang menjadi ketua kaum Quraisy yang memberi nasihat kepada Muhammad saat Muhammad mengalami pengalaman yang luar biasa di Gua Hira tersebut. Oleh Siti Khadijah, Muhammad dibawa ke rumah Waraqah bin Nawfal yang berkata bahawa Muhammad mengalami kekuatan Tuhan Allah yang disembah Nabi Musa.

Orang orang yang berhijrah mengembara atau orang-orang buangan selalu dilindungi dan dipelihara dan dijaga oleh Allah SWT. Nabi Isa bin Maryam bersabda (Injil Surah Matius 5:10-12) …

10 هَنِيئًا لِمَنْ يَضْطَهِدُهُمُ النَّاسُ مِنْ أَجْلِ الصَّلاَحِ، لأَنَّ لَهُمْ مَمْلَكَةَ اللهِ.

11 هَنِيئًا لَكُمْ إِذَا شَتَمُوكُمْ وَاضْطَهَدُوكُمْ وَافْتَرَوْا عَلَيْكُمْ لأَنَّكُمْ أَتْبَاعِي،

12 افْرَحُوا وَابْتَهِجُوا،لأَنَّ أَجْرَكُمْ فِي السَّمَاءِ عَظِيمٌ. فَإِنَّهُمُ اضْطَهَدُوا الأَنْبِيَاءَ الَّذِينَ قَبْلَكُم بِنَفْسِ الطَّرِيقَةِ.

10 Diberkatilah mereka yang dianiaya kerana menegakkan kebenaran, kerana kerajaan syurga untuk mereka.

11 Diberkatilah kamu apabila orang menghina, menganiaya dan memfitnahmu kerana mengikut-Ku.

12 Bersukacita dan bergembiralah, kerana ganjaran besar telah disediakan untukmu di syurga. Begitu jugalah para nabi zaman dahulu dianiaya.

Allah SWT tidak akan membiarkan orang yang teraniaya terus menerus dalam penderitaannya akibat perbuatan buruk orang yang zalim. Salah satunya ialah bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’anya. Selain itu, Allah akan kembalikan hak-haknya yang telah dirampas. Sementara orang-orang yang berlaku aniaya segera akan mendapatkan laknat, siksaan dan kebinasaan.

Allah berfirman di QS Ibrahim [14]:42, yang artinya:

Dan janganlah engkau (wahai Muhammad) menyangka Allah lalai akan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim; sesungguhnya Ia hanya melambatkan balasan mereka hingga ke suatu hari yang padanya terbeliak kaku pemandangan mereka, (kerana gerun gementar melihat keadaan yang berlaku).

Ayat ini menegaskan, bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan perbuatan orang yang menganiaya, sekaligus memberi hiburan kepada orang yang teraniaya, bahawa dengan kesabarannya ia pasti akan memperoleh hak-haknya (kemenangan) yang telah dirampas oleh pelaku kezaliman.

Ya, Allah akan menjadi penolong baginya, cepat atau lambat ia pasti akan memperoleh hak-haknya dan Dia juga akan menimpakan azab kepada mereka yang aniaya (zalim) terhadap orang lain.

Ada tiga doa yang tak akan ditolak oleh Allah SWT, yakni doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang teraniaya, dan doa seorang musafir. (HR. Abu Hurairah)

Dalam sebuah hadits qudsi dinyatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dan Allah berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu (wahai hamba yang terzalimi) sekalipun tidak segera.” (HR. Turmudzi)

Salah satu pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang teraniaya ialah dengan mengabulkan do’a-do’anya terhadap orang yang menganiaya dirinya. Hal mana sama seperti Allah mengabulkan do’anya seorang ibu kepada anaknya, atau do’anya kaum muslimin kepada saudaranya dari kejauhan. Sungguh do’a-do’a mereka itu adalah do’a yang sangat dahsyat mustajab.

Salah satu hikmah diijabahnya do’a orang teraniaya adalah agar orang tidak seenaknya melakukan penganiayaan terhadap orang lain, atau terhadap pihak manapun.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini