Kitab Taurat, Zabur, Injil dan Qur’an Satu Suara: Mentauhidkan Allah

Turunnya wahyu bukan paristiwa yang sekali, langsung jadi, namun adalah proses yang terdiri dari rentetan paristiwa. Nabi yang datang kemudian selalu memastikan bahawa contoh dan perjuangan nabi-nabi sebelumnya dalam menjunjung tinggi tauhid adalah sungguh-sungguh sempurna dan harus terus ditegakkan dan dijunjung tinggi. Surah-surah Injil selalu berdasarkan kitab-kitab sebelum Injil. Orang beriman menemukan dan merasakan hubungan yang khusus sebagai hamba Allah dengan Tuhan Allah bila mereka menemukan dan merasakan bahawa sesungguhnya seluruh kitab-kitab Allah satu suara – yaitu mentauhidkan Allah. Al-Qur’an dalam bahasa Arab dengan jelas, ringkas dan tegas menyatakan bahawa seluruh kitab-kitab Allah satu suara yaitu mentauhidkan Allah.

Wahyu untuk Nabi Muhammad yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah bukti yang meyakinkan bahawa wahyu yang ada pada Nabi Muhammad adalah wahyu sama yang dibawa dan yang diresapi oleh nabi-nabi sebelum Muhammad. Kitab Injil didasari oleh Kitab Zabur dan Kitab Taurat. Orang beriman menemukan hubungannya dengan Tuhan Allah pada waktu ia menemukan kesatuan pesan ilahi. Al-Qur’an berbahasa Arab menyatakan posisi kesatuan ini dengan ungkapan yang sangat ringkas.

Wahyu-wahyu ilahi satu suara, yakni mentauhidkan Allah

Muhammad sangat sadar bahawa turunnya wahyu ilahi itu bukan peristiwa yang sekali langsung jadi, namun merupakan proses yang terdiri dari rentetan paristiwa. Sebelumnya telah turun wahyu-wahyu ilahi bagi nabi-nabi Allah yang mentauhidkan Allah. Jadi, pesan tauhid yang disampaikan oleh Muhammad bukan pesan yang baru. Contoh-contoh perjuangan dalam mentauhidkan Allah sungguh telah diamalkan dan diteladankan oleh insan-insan hamba Allah sebelum Muhammad. Wahyu untuk Nabi Muhammad yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah bukti yang meyakinkan adanya wahyu sama yang dibawa dan yang diresapi oleh nabi-nabi sebelum Muhammad.

Sungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (wahai Muhammad), sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh, dan Nabi-nabi yang diutus kemudian daripadanya; dan Kami juga telah memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim, dan Nabi Ismail, dan Nabi Ishak, dan Nabi Yaakub, serta Nabi-nabi keturunannya, dan Nabi Isa, dan Nabi Ayub, dan Nabi Yunus, dan Nabi Harun, dan Nabi Sulaiman; dan juga Kami telah memberikan kepada Nabi Daud: Kitab Zabur.QS An Nisa’ [4]:163.

Berulang-ulang, Al-Qur’an menekankan bahwa wahyu yang diturunkan kepada Muhammad adalah wahyu yang sama yang diturunkan kepada para pendahulunya:

Sebagaimana yang terkandung dalam surah ini dan surah-surah yang lain – diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada Rasul-rasul yang terdahulu daripadamu, oleh Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. QS Asy-Syura [42]:3.

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada Nabi-nabi yang terdahulu daripadamu …” (QS Az-Zumar [39]:65).

Apa kata Al-Qur’an tentang Kitab Suci-Kitab Suci Sebelumnya

Dan Al-Quran yang Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) ialah yang benar yang tetap mengesahkan Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan sedalam-dalamnya akan keadaan sekalian hambaNya, lagi Maha Melihat dan memerhatikan. QS Fatir [35]:31.

Dan janganlah kamu berbahas dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali orang-orang yang berlaku zalim di antara mereka; dan katakanlah: “Kami beriman kepada yang diturunkan kepada kami dan kepada (Taurat dan Injil) yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah Satu; dan kepadaNyalah, kami patuh dengan berserah diri.QS Al ‘Ankabut [29]:46.

Peristiwa yang demikian ialah sebahagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad), sedang engkau tidak ada bersama-sama mereka ketika mereka mencampakkan qalam masing-masing (untuk mengundi) siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau juga (wahai Muhammad) tidak ada bersama-sama mereka ketika mereka berkelahi (tentang perkara menjaga dan memelihara Maryam).QS Ali ‘Imran [3]:44.

(Kisah nabi Yusuf) yang demikian ialah dari berita-berita yang ghaib yang kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad), sedang engkau tidak ada bersama-sama mereka semasa mereka sekata mengambil keputusan (hendak membuang Yusuf ke dalam perigi) dan semasa mereka menjalankan rancangan jahat (terhadapnya untuk membinasakannya). QS Yusuf [12]:102.

(Kisah Nabi Nuh) itu adalah dari perkara-perkara yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad), yang engkau dan kaum engkau tidak mengetahuinya sebelum ini …” QS Hud [11]:49.

Tiap-tiap satu perintah itu, menyalahinya adalah kejahatan yang dibenci di sisi Tuhanmu. Perintah yang demikian itu ialah sebahagian dari hikmat yang telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) oleh Tuhanmu ...” QS Al Isra’ [17]:38-39.

Jadi, jika wahyu yang diturunkan ke Muhammad adalah wahyu yang sama yang diturunkan ke nabi-nabi sebelumnya, maka hal tersebut seharusnya tampak jelas diwahyu sebelumnya. Demikian juga dengan kitab yang dibawa Muhammad didahului oleh kitab yang sudah ada sebelumnya. Kitab yang sudah ada sebelumnya sungguh menyimpan wahyu ilahi yang dibawa dan dijaga oleh kitab sesudahnya. Namun perlu diketahui bahawa terdapat juga beberapa acuan tentang adanya aspek-aspek ghaib dari turunnya wahyu ilahi. Wahyu ilahi turun dengan cara diisyarakatkan dari “yang terpelihara dengan sebaik-baiknya” (Lauh Mahfuz) QS Al Buruj [85]:22 atau yang tersimpan dalam “Kitab yang cukup terpelihara” (kitaabimmaknuun) (QS Al Waqi’ah [56]:78).

Muhammad sendiri tidak tahu hal-hal ghaib dan tersembunyi. “Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahawa) perbendaharaan Allah ada di sisiku, dan aku pula tidak mengetahui perkara-perkara yang ghaib …” (QS Al An’am [6]:50; QS Hud [11]:31); Katakanlah lagi: Tiada sesiapapun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib melainkan Allah!” Dan tiadalah mereka menyedari bilakah masing-masing akan dibangkitkan hidup semula (sesudah mati). (QS An-Naml [27]:65).

Sedangkan di sisi lain, Tuhan Allah memberi Muhammad wahyu ilahi tersebut dari suatu misteri, ertinya dari dari hal-hal tersembunyi atau dari alam ghaib (al-ghayb) yang tidak diketahui. Apabila ada hal-hal yang tampaknya bertentangan ini bukanlah suatu permasalahan bagi Muhammad kerana Muhammad ditakdirkan oleh Allah menjadi sarana terungkapnya misteri tersebut atau terungkapnya hal-hal yang tersembunyi dan pelik tersebut.