Mencontoh Qabil, Mengambil Hak Allah

Padahal, sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang sabar

Diceritakan, oleh Tuhan Allah, Qabil dinyatakan sebagai kafir laknat, keparat, terlaknat dan terkutuk, sebab bumi telah menyimpan darahnya adiknya yang telah Qabil tumpahkan ke tanah. Oleh karena itulah, kalau Qabil menggarap tanah, Qabil tidak akan mendapatkan hasil apa-apa dari tanah. Di manapun Qabil tinggal di bumi ini, Qabil tidak akan kerasan, tidak akan betah, Qabil akan selalu merasa terhimpit walau kaya raya dan tinggal di daerah yang sangat luas sekalipun! Anak cucu Qabil berdiam di Tanah Nuud di timurnya Taman Jannatul Firdaus.

Disebutkan, anak cucu Qabil sama saja angkuhnya dengan Qabil nenek moyang mereka yang kafir laknat, tidak takut dan tidak hormat sama sekali pada Tuhan Allah, alias kebanyakan tingkah yang memuakkan dan kurang ajar dan tingkah yang menyebabkan tidak enak dan memalukan! Pasrahnya kepada Tuhan Allah tidak sungguhan. Tidak taat kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa.

Banyak yang bodoh tapi merasa benar sendiri!

Mereka suka perang saudara dan suka membunuh. Wanita hanya objek pemuas nafsu seks laki-laki. Keturunan laki-laki Qabil memiliki banyak wanita sebagai istri-istri atau gundik-gundik mereka.

Keturunan Qabil semakin hari semakin banyak jumlahnya. Karena suka bertengkar dengan sesama saudara dan suka membunuh orang, mereka cenderung pendek umurnya. Mereka hidup hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Mereka tidak takut dengan siapa pun. Allah pun mereka sudah lupa dan sudah tidak ingat lagi.

Anak sulung Qabil bernama Hanuk. Anak sulung Hanuk bernama ‘Iraad. Anak sulung ‘Iraad bernama Mahuya’il. Anak sulung Mahuya’il bernama Matusya’il,. Anak sulung Matusya’il bernama Laamak.

Laamak punya istri dua bernama ‘Adah dan Zillah. Dari istrinya yang bernama Adah, Laamak punya dua anak yang bernama Jabal dan Jubal. Dari istrinya yang bernama Zillah, Laamak punya anak yang bernama Tubal Qabil. Tubal Qabil punya adik perempuan Naamah.

Balas dendam adalah ugama dan pendirian mereka. Semua keturunan Qabil sejak dari kecil sudah diajar dan dilatih untuk selalu balas dendam. Tidak boleh tidak. Seringkali Laamak memanggil istri-istri dan putra-putrinya, dan di hadapan istri-istri dan putra-putrinya, Laamak menyampaikan wasiatnya untuk diteruskan kepada seluruh anak-cucunya.

23-وَقَالَ لامِكُ لامْرَأَتَيْهِ عَادَةَ وَصِلَّةَ: “يَا عَادَةُ وَصَلَّةُ, اسْمَعَا قَوْلِي, يَا امرَأَتَيْ لامِكَ, أَصْغِيَا لِكَلامِي, أَنَا قَتَلْتُ رَجُلا جَرَحَنِي, شَابًّا ضَرَبَنِي. 24 فَإَنْ كَانَ يُنْتَقَمُ لِقَابِيلَ سَبْعَةَ أَضْعَافٍ, فَإِنَّهُ يُنْتَقَمُ لِلامِكَ سَبْعَةً وَسَبْعِينَ مَرَّةً.”

23 Laamak berkata kepada isteri-isterinya, “Adah dan Zilla, dengarlah kataku. Aku sudah membunuh seorang pemuda kerana dia memukul aku.

24 Jika tujuh orang dibunuh sebagai pembalasan terhadap orang yang membunuh Kain, tujuh puluh tujuh orang akan dibunuh jika aku dibunuh.”

Tarjamah Kitab Allah Taurat Surah At-Takwin (Kejadian) 4:23-24.

Tidak sama dengan Qabil, Syits anak daripada Adam, pengganti Habil, yang adalah nenek moyang dari Idris. Anak cucu Syits diajar untuk tidak memikirkan diri sendiri dan diajar untuk tidak menuruti nafsu diri sendiri karena bagi Bani Syits nafsu adalah musuh terbesar mereka. Mereka tertarik pada apa saja pokoknya bukan nafsu menyenangkan diri sendiri.

Oleh karena itulah, mereka sangat cinta Allah dan cintai semua makhluk-makhluk Allah. Pendirian Bani Syits adalah hidup adalah untuk mengalahkan nafsu yang menyenangkan diri sendiri sahaja dan yang mencari keuntungan diri sendiri. Itulah musuh terbesar yang harus dikalahkan. Mereka cinta Allah dan cinta semua makhluk-makhluk Allah.

Manusia pada zaman dahulu tersebut, semakin hari, semakin banyak jumlahnya. Tapi semakin hari, manusia semakin tambah buruk pola tingkah lakunya. Manusia semakin senang menuruti hawa nafsunya sendiri. Manusia tidak senang mentaati kehendak Tuhan Allah. Manusia tidak suka kehendak Allah. Manusia berubah menjadi makhluk yang menyusahkan, yang suka membuat suasana berubah menjadi tidak enak dan sungguh memalukan. Manusia menjadi makhluk yang acuh tak acuh!

Tuhan Allah berfirman,

“Sebab manusia menyimpan nafsu yang tidak mengingat Aku, manusia tidak mau tunduk pada kekuasaanKu. Manusia berubah menjadi makhluk yang menyusahkan dan suka membuat suasana berubah menjadi tidak enak dan sungguh memalukan.”

Ketika Tuhan Allah melihat umat manusia dan mengetahui bahwa manusia memang keras kepala dan tidak mau bertaubat dan tidak butuh Tuhan Allah dan tidak mau berserah diri, malahan semakin hari, manusia semakin buruk tingkah lakunya dan sungguh berlagak, maka Tuhan Allah terus bersabda,

“Karena manusia tidak dalam keadaan pasrah kepada-Ku, maka manusia yang Kutetapkan tinggal di atas bumi ini akan Aku tumpas!”

Ketahuilah pada saat itu ada insan manusia yang bernama Nuh. Rumahnya Nuh tersebut di atas gunung yang sangat jauh dari laut. Oleh Tuhan Allah, Nuh sungguh ditinggikan derajadnya, sebab Nuh itu orang yang sungguh pasrah kepada Tuhan Allah. Nuh itu orang yang sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan Allah lahir-bathin. Nuh itu orang yang membutuhkan Tuhan Allah bak orang sakit membutuhkan obat.

Jelas, Nuh bukan keturunan Qabil. Nuh jelas kuturunan Syits, anak bungsu Adam. Syits punya anak bernama Anusyi, Qiinaan, Mahlal’il, Jarod, Idris, Matuusyaalah, Laamak, Nuh.

Anusyi punya anak bernama Qiinaan, Qiinaan punya anak bernama Mahlal’il, Mahlal’il punya anak bernama Jarod, Jarod punya anak bernama Idris, Idris punya anak bernama Matuusyaalah, Matuusyaalah punya anak bernama Laamak, Laamak punya anak bernama Nuh.

Moyang lelaki Nuh adalah Idris yang selalu mengisytiharkan perang terhadap nafsu dan selalu melancarkan perang melawan nafsu yang menyenangkan diri sendiri dan melawan nafsu yang mencari keuntungan untuk diri sendiri sahaja. Bagi Idris, musuh yang terbesar adalah nafsu yang mencari keuntungan diri sendiri sahaja. Idris cinta Allah dan cinta semua makhluk-makhluk Allah Sang Khaliq. Laamak bapaknya Nuh adalah orang yang tidak kufur pada Allah. Beliau selalu bersyukur kepada Allah. Ketika memberi nama bayinya yang baru lahir, Laamak menyatakan wasiatnya yang termaktub dalam Tarjamah Kitab Allah Taurat Surah At-Takwin (Kejadian) 5:29

هَذَا يُعَزِّيَنَا فِي تَعَبِنَا وفِي الْمَشَقَّات الَّتِي نُعَانِيهَا فِي الأَرْضِ الَّتِي لَعَنَهَا اللهُ

yang bermaksud,

“Anak ini akan memberi keringanan pada masa kita bekerja keras untuk mengusahakan tanah yang dikutuk oleh Tuhan Allah.”

Dan oleh Laamak, bayinya tersebut diberi nama Nuh.

Tarjamah Kitab Allah Zabur 94:1.

Tarjamah Kitab Allah Injil Syarif Hawariyyun Matta (Matius) 18:22.

Tarjamah Kitab Allah Injil, Risalah ila Mu’miniin fi Ruum (Rom) 12:19.

Tarjamah Kitab Allah Taurat Surah Al-Awiyaina (Imamat) 19:18.

Tarjamah Kitab Allah Taurat, Surah At-Takwin (Kejadian) Bab 4 dan 5.

Kesimpulan:

PARA NABI ITU BERSAUDARA, UGAMANYA SATU.

Hadis Riwayat Ahmad.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini