Muslim Menikmati dan Mengamalkan Kitab-Kitab Allah Sebelum Qur’an: Taurat, Zabur dan Injil

Wahai Muslim, beranikah kalian menjadi salafiyah, yakni menjadi seperti Muslim pada Zaman Keemasan Islam di tahun 800-an sampai 1400-an?

Pada Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu kala, banyak teknologi dikembangkan dari hasil penelitian ilmuwan Muslim. Bagaimanapun juga, mereka telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dalam kehidupan ini. Tapi anehnya, sekarang ini yang boleh meneruskan dan mengembangkan hasil penelitian ilmuwan Muslim yang saleh tersebut justru bangsa-bangsa kafir yang dulunya justru menyembah dewa-dewa seperti misalnya bangsa-bangsa di benua Eropa.

Penyebabnya adalah bangsa-bangsa kafir tersebut menterjemahkan dan menikmati membaca Kitab-Kitab Allah Taurat, Zabur, dan Injil.

Dan yang lebih aneh lagi, masyarakat Muslim di Zaman Sekarang ini yang seharusnya menjadi pewaris hasil penelitian ilmuwan Muslim yang saleh di Zaman Keemasan Islam tersebut justru malah tidak suka melakukan penyelidikan sains, suka meniru dan membajak hasil karya orang lain dan terkesan mundur dan gagap dan tidak tahu menahu soal pemanfaatan tekhnologi.

Bangsa-bangsa Muslim di Zaman Moden ini justru bangga dengan kemiskinan. Di masyarakat Muslim sekarang ini, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, perang harga diri, pembiaran kebodohan dan pembiaran masalah, rasuah, nepotisme, rekaan atau akal-akalan dalam berbagai hal yang ujungnya menzalimi rakyat sendiri yang tidak tahu apa-apa.

Lain halnya, pada tahun 800-an sampai 1400-an,masyarakat Muslim pada saat itu paling maju dalam bidang sains, penelitian, teknologi, industri, dagang, dan lain-lain. Tahun-tahun tersebut antara lain menghasilkan Muslim yang genius dalam bidang logika, penyelidikan, sains, literatur dan filsafat, antara lain:

  • Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari (838-923 M)
  • Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar
  • Al Ansari Al Qurtubi (1214-1273 M)
  • Muhammad b Umar Fakhr al-Din al-Razi  (1149-1209 M)
  • Omar Khayam (1048-1122 M)
  • Al-Zahrawi (936-1013 M)
  • Al-Khowarizmi (780-850 M)
  • Al-Biruni (973-1050 M)
  • Al-Kindi (801-873 M)
  • Al-Battani (850-929 M)
  • Ibn-Sina (973-1037 M)
  • Al Ghazali (1058-1111 M)
  • Abdallah Al-Maarri (973-1057 M)
  • Ibn-Rushd (1128-1198 M)
  • Jalaluddin Rumi (1207 M)

Mengapa Muslim yang saleh yang hidup pada Zaman Keemasan Islam pada Tahun 800-an sampai 1400-an pada zaman dahulu tersebut boleh maju dalam penelitian sains dan teknologi terapan, semacam, teknologi terapan matematika, ilmu logika (mantiq), ilmu aljabar atau ilmu hisab (ilmu hitung), astronomi, ilmu hayat (biologi), oceanologi, ilmu kedokteran, ilmu jiwa atau ilmu qolbu dll.

Bahkan sistim angka yang dipakai sampai pada zaman moden sekarang ini adalah sistim angka yang ditemukan oleh cendikiawan-cendikiawan Muslim di Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu kala.

Salah satu hal yang paling penting untuk dipertanyakan kemudian adalah mengapa sebegitu maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan pada masa itu?

Apakah rahasia-rahasia dan amalan-amalan insan-insan Muslim yang saleh di Zaman Keemasan Islam pada dahulu kala tersebut?

Rahasia nya adalah mereka begitu suka mencari ilmu dan mereka rendah hati dan tidak sombong dan tidak suka memperlekehkan bangsa lain. Mereka tawaduk dan takzim kepada Nabi Isa. Mereka sungguh beramah-mesra dengan segala bangsa tanpa membeza-bezakan dan tanpa pandang bulu. Mereka suka menterjemahkan kitab-kitab termasuk Kitab-Kitab Allah Taurat, Zabur dan Injil dan menikmati membaca dan mengamalkan semua kitab-kitab Allah tersebut.

Di dalam Kitab Injil Surah Yahya 8:31-32 …

31 وَقَالَ عِيسَى لِليَهُودِ الَّذِينَ آمَنُوا بِهِ: “إِنْ ثَبَتُّمْ فِي كَلامِي تَكُونُونَ حَقًّا تَلامِيذِي،

32 فَتَعْرِفُونَ الْحَقَّ، وَالْحَقُّ يُحَرِّرُكُمْ.”

Isa berkata kepada orang-orang keturunan Nabi Ya’qub yang tawadu’ dan takzim kepada yang sudah ditetapkan Allah menjadi Almasih yaitu Isa, “Kalau kamu mengikut ajaran-Ku, kamu pengikut-Ku yang sejati. Maka kamu akan mengenal kebenaran dan kebenaran akan membebaskanmu.

Kebenaran yang daripada Allah membebaskan orang daripada segala rasa takut. Kalau orang-orang kafir sahaja boleh tidak merasa takut menerima dan mengamalkan kebenaran dan akhirnya menjadi lebih maju dan lebih kaya daripada orang-orang muslim, pastilah muslim akan menjadi lebih manfa’at dan menjadi rahmatan lil alamin.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini