Pandangan Al Qur’anul Karim Mengenai Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil yang diBaca oleh Insan-Insan Saleh yang Bernafaskan Yahudi dan Nashara

Seperti diketahui, Kitab Allah Al Qur’anul Karim sangat menghormati dan sangat menghargai Kitab-Kitab Allah At Taurat, Az Zabur dan Al Injil yang oleh Kitab Allah Al Qur’anul Karim disebut sebagai Wahyu-Wahyu yang diturunkan Allah Azza wa Jalla sebelum Kitab Allah Al Qur’an. Menurut Kitab Allah Al Qur’anul Karim, Wahyu-Wahyu yang diturunkan Allah sebelum Kitab Allah Al Qur’anul Karim tersebut adalah At Taurat yang biasa dibaca insan-insan saleh yang bernafaskan Yahudi yang diturunkan melalui Nabi Musa a.s. dan Az Zabur yang diturunkan melalui Nabi Dawud a.s. dan Al Injil yang biasa dibaca insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara yang diturunkan melalui Nabi ‘Isa a.s.

Kitab Allah Al Qur’anul Karim tidak pernah berkata bahwa At Taurat dan Al Injil dan Az Zabur itu jelek dan rendah nilainya. Menurut Kitab Allah Al Qur’anul Karim, At Taurat dan AI Injil itu dari Allah Azza wa Jalla.

Kitab Allah Al Qur’anul Karim justru mengkritik para Ahli Kitab yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara baik perorangan maupun golongan. Oleh Kitab Allah Al Qur’anul Karim, mereka dikritik tidak sungguh-sungguh pada pesan-pesan amanah ilahi yang, oleh Allah Azza wa Jalla, disampaikan kepada nabi-nabi yang diutus Allah. Oleh Kitab Allah Al Qur’anul Karim, para Ahli Kitab yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara baik perorangan maupun golongan, justru diperintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam membaca, merenungkan dan mengamalkan pesan-pesan amanah ilahi yang dipelihara oleh Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil.

Disebutkan dalam Kitab Allah Al Qur’anul Karim Surah Al Ma’idah [5] ayat 44 dan ayat 46 bahawa di dalam Kitab-Kitab Allah sebelum Kitab Suci Al Qur’anul Karim tersebut yakni At Taurat dan Al Injil itu ada petunjuk hidayah dan nur cahaya yang menerangi.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, yang mengandungi petunjuk dan cahaya yang menerangi; dengan Kitab itu nabi-nabi yang menyerah diri (kepada Allah) menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi, dan (dengannya juga) ulama mereka dan pendita-penditanya (menjalankan hukum Allah), sebab mereka diamanahkan memelihara dan menjalankan hukum-hukum dari Kitab Allah (Taurat) itu, dan mereka pula adalah menjadi penjaga dan pengawasnya. Oleh itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi hendaklah kamu takut kepadaKu; dan janganlah kamu menjual (membelakangkan) ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit (kerana mendapat rasuah, pangkat dan lain-lain keuntungan dunia); dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang kafir.

dan Surah Al Ma’idah [5]:46

Dan Kami utuskan Nabi Isa Ibni Maryam mengikuti jejak langkah mereka (Nabi-nabi Bani Israil), untuk membenarkan Kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya; dan Kami telah berikan kepadanya Kitab Injil, yang mengandungi petunjuk hidayah dan cahaya yang menerangi, sambil mengesahkan benarnya apa yang telah ada di hadapannya dari Kitab Taurat, serta menjadi petunjuk dan nasihat pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.

Kitab Allah Al Qur’anul Karim seringkali menyebutkan bahawa di dalam At Taurat dan Al Injil itu ada petunjuk hidayah dan cahaya yang menerangi yang daripada Allah.

Kitab Allah Al Qur’anul Karim bahkan berulang-ulang mengakui kesalehannya insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara dan kesalehannya insan-insan saleh yang bernafaskan Yahudi sebagai tradisi kesalehan yang sungguh-sungguh nyata dan bukan main-main dan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Disebutkan di dalam Kitab Al Qur’anul Karim di Surah Yunus [10] ayat 94

Oleh sebab itu, sekiranya engkau merasa ragu-ragu tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka bertanyalah kepada orang-orang yang membaca kitab-kitab yang diturunkan dahulu daripadamu (kerana mereka mengetahui kebenarannya). Sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran dari Tuhanmu, maka jangan sekali-kali engkau menjadi dari golongan yang ragu-ragu.

Menurut pandangan Kitab Allah Al Qur’anul Karim, yang diamanahkan para nabi Allah adalah ketauhidan dan kepasrahan kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa.

Dalam perihal Ketauhidan dan kepasrahan kepada Tuhan Allah Yang Maha Esa, At Taurat, Az Zabur, Al Injil, Al Qur’an bagaikan mata rantai yang saling bergandengan dan berkaitan. Oleh karena itulah, oleh Kitab Allah Al Qur’anul Karim, insan-insan saleh yang bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara diberi gelar kehormatan yaitu Ahli Kitab.

Kitab Allah Al Qur’anul Karim dalam Surah Ali ’Imran [3]:113 menceritakan bahawa para Ahli Kitab yakni insan-insan saleh yang bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara itu, oleh Kitab Allah Al Qur’anul Karim, disebut sebagai insan-insan saleh yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yakni mentilawatkan Wahyu-Wahyu Ilahi dalam Kitab-Kitab At Taurat, Az Zabur, dan Al Injil yakni Kitab-Kitab yang ada sebelum Kitab Al Qur’an.

Ahli-ahli Kitab itu tidaklah sama. Di antaranya ada golongan yang tetap dan mereka membaca ayat-ayat Allah pada waktu malam, semasa mereka sujud (mengerjakan sembahyang).

Bahkan beberapa kali, salah satunya di Surah Ali ’Imran [3]:187, Kitab Allah Al Qur’anul Karim mengatakan bahawa insan-insan saleh yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Nashara itu sebagai insan-insan, yang oleh Allah Azza wa Jalla, diberi hidayah Kitab Suci.

Disebutkan dalam Surah Ali ’Imran [3]:187

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian setia dari orang-orang yang telah diberikan Kitab (iaitu): “Demi sesungguhnya! Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada umat manusia, dan jangan sekali-kali kamu menyembunyikannya”. Kemudian mereka membuang (perjanjian setia) itu ke belakang mereka, serta mereka menukarnya dengan mengambil faedah dunia yang sedikit. Maka amatlah buruknya apa yang mereka dapati dari penukaran (Kalamullah dan janjiNya) itu.

Dan disebutkan di dalam Kitab Allah Al Qur’anul Karim bahawa insan-insan saleh yang bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara itu, tidak lain adalah insan-insan yang, oleh Kitab Allah Al Qur’anul Karim, disebut sebagai insan-insan yang diperintahkah untuk ta’at menuruti dan menegakkan At Taurat dan Al Injil.

Disebutkan dalam Surah Al Ma’idah [5]:68

Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dikira mempunyai sesuatu ugama sehingga kamu tegakkan ajaran Kitab-kitab Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhan kamu (iaitu Al-Quran)” Dan demi sesungguhnya, apa yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad) dari Tuhanmu itu, akan menambahkan kederhakaan dan kekufuran kepada kebanyakan mereka. Oleh itu janganlah engkau berdukacita terhadap kaum yang kafir itu.

Dan berikut ini adalah ayat di dalam Kitab Allah Al Qur’anul Karim yang mendukung perlunya bersikap sopan dan baik terhadap insan-insan saleh yang bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara.

Kitab Allah Al Qur’anul Karim menyebutkan bahawa pokoknya insan-insan saleh yang kebiasaan ugamanya bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara itu sungguh-sungguh memegang keyakinan mereka, maka amalan-amalan mereka pun akan diterima Allah Azza wa Jalla.

Tersebut dalam Surah Al Ma’idah [5]:69

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang Yahudi, dan orang-orang Saabiein, dan orang-orang Nashara atau Kristian – sesiapa sahaja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan (beriman kepada) hari akhirat serta beramal soleh, maka tidaklah ada kebimbangan terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacita.

Kitab Allah Al Qur’anul Karim memiliki pandangan yang baik mengenai Kitab-Kitab Allah At Taurat dan Az Zabur dan Al Injil. Hal ini tentu tidak mengejutkan kita. Kerana Kitab Allah Al Qur’anul Karim itu adalah Wahyu Ilahi, jadi sudah semestinya Kitab Allah Al Qur’anul Karim sangat menghargai Wahyu-Wahyu Ilahi sebelum Kitab Suci Al Qur’anul Karim. Itulah indahnya mata rantai tauhid dari Allahu Ahad Tuhan Yang Maha Esa.

Namun walau Kitab Allah Al Qur’anul Karim secara jelas mengakui adanya Kitab-Kitab Allah yang dianut oleh insan-insan saleh yang bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang bernafaskan Nashara, di dalam Kitab Suci Al Qura’nul Karim juga ada ayat-ayat yang rupanya menyatakan tentang adanya usaha oknum-oknum tertentu untuk “mengubah-ubah” maqom kedudukan dalam rangka menggeser maqom kedudukan Kitab-Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, Al Injil tersebut.

Jadi karena adanya pernyataan yang tampaknya saling bertentangan inilah, banyak perbezaan pandangan diantara insan-insan Muslim yang saleh, baik para cendikiawan Muslim dan pemikir-pemikir Muslim serta sarjana-sarjana Muslim dan juga insan-insan awam Muslim. Mereka berbeza pandangan mengenai bagaimana seharusnya Kitab-Kitab Allah At Taurat, Az Zabur dan Al Injil yang sekarang ada tersebut diakui kewibawaannya dan seberapa jauh seharusnya Kitab-Kitab Allah sebelum Kitab Suci Al Qur’anul Karim yang sekarang ada tersebut diakui keaslianya dan kesahihannya dan seberapa jauh seharusnya Kitab-Kitab Allah sebelum Kitab Suci Al Qur’anul Karim tersebut boleh dianut oleh insan-insan Muslim.

Berikut ini, kita akan menyelidiki dimana perbezaan pandangan diantara insan-insan saleh Muslim tersebut mengenai Kitab-Kitab Allah At Taurat, Az Zabur dan Al Injil yang ada sebelum Kitab Suci Al Qur’anul Karim tersebut.

Kita juga akan menyelidiki tafsir-tafsir yang pernah dibuat oleh insan-insan saleh Muslim yang menyatakan adanya kemungkinan disalah tafsirkannya Kitab-Kitab Allah sebelum Kitab Suci Al Qur’anul Karim tersebut.