Para Cendikiawan-Cendikiawan Muslim dan Pemikir-Pemikir Muslim yang Saleh pada Zaman Keemasan Islam pada Zaman Dahulu Mensyukuri Keakraban Mawadah Mereka dengan Sumber-Sumber Kearifannya Insan-Insan Saleh yang Bernafaskan Yahudi dan Insan-Insan Saleh yang Bernafaskan Nashara

Di dalam Kitab Allah Al Qur’anul Karim tidak sedikit disebutkan adanya nabi-nabi yang risalahnya tertulis dalam Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, Al Injil yang diutus oleh Allah sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Walaupun pada zaman dahulu, Nabi dan banyak umat beliau, kemungkinan besar, sedikit banyak sudah memiliki kearifan dan pengetahuan mengenai kesalehannya kaumnya Nabi Musa a.s dan kesalehannya kaum Nashara yang memang sudah lama ada sebelum Zaman Nabi dan masih ada pada saat Zaman Nabi, namun risalah mengenai nabi-nabi yang tertulis dalam Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, Al Injil yang diutus oleh Allah Azza wa Jalla sebelum Nabi Muhammad s.a.w. tersebut dirasa masih perlu harus digali dan dicari lagi ilmunya.

Kitab At Taurat, Az Zabur ditulis dalam Bahasa Ibrani, yakni, bahasanya Bani Ya’qub sekitar Tahun 1440 Sebelum Masehi. Bahasa Ibrani masih dipakai orang di berbagai peradaban sampai sekarang.

Kitab Al Injil ditulis dalam Bahasa Yunani sekitar Tahun 70 Sesudah Masehi. Bahasa Yunani adalah bahasa internasional atau bahasa lingua franca atau bahasa antar bangsa di Tahun 70an Sesudah Masehi. Bahasa Yunani masih dipakai orang di berbagai peradaban sampai sekarang.

Selain dihafidzkan dan ditilawatkan oleh orang-orang Bani Ya’qub, Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil juga ditarjamahkan, oleh para hawariyun yaitu sahabat-sahabat setia Nabi ‘Isa ke dalam berbagai masyarakat di bumi ini. Masyarakat Arab Suriah lah yang pertama kali menterjemahkan Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil ke dalam Arab Suriah di Timur Tengah yaitu ke dalam Bahasa Suryani Suriah dan ke dalam Bahasa Yunani yang merupakan bahasa internasional ketika itu.

Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil juga ditarjamahkan, oleh para hawariyun yaitu sahabat-sahabat setia Nabi ‘Isa di masyarakat Arab Mesir Kuno, ke dalam bahasa para hawariyun di Suriah dan Palestina dan Mesir, ditarjamahkan ke dalam bahasa masyarakat ketika itu yaitu Bahasa Suryani Suriah dan Suryani Koptik dan di masyarakat Libanon Kuno ke dalam bahasa Suryani Marunit.

Tarjamahan Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil ke dalam Bahasa Suryani dan Bahasa Yunani tersebut disebut Suhuf Peshitta, Suhuf Septuaginta, Suhuf Halaka dan Suhuf Haggada. Itulah ragam cara Allah Al Hafiizh Yang Maha Memelihara memelihara dan menjaga Kalimat-Kalimat IlahiNya.

Tarjamah juga disebut Targum oleh orang-orang Arab Mesir.

Kerana persoalan bahasa dan keterbatasan bahasa, orang-orang Muslim di Zaman Keemasan Islam sungguh sangat bergantung pada Tarjamah Kitab Taurat, Zabur dan Injil.

Bagi mereka, tarjamah pun oke! Mereka sangat bersyukur kepada Allah dengan adanya tarjamah-tarjamah Kitab Taurat, Zabur dan Injil.

Hadis Nabi s.a.w. menggunakan perkataan السريانية As Suryaaniyah adalah untuk menggungkapkan Bahasa Suryani. Dalam kitab yang berjudul al-Muj’am al-Mufahras li Al-fadz al-Hadis al-Nabawi, mencatat bahwa, kata al-suryaniyyat tersebut dijumpai dalam beberapa kitab Hadis. Salah satu di antaranya adalah kitab al-Jami’ al-Sahih, Jilid 1, bab Fi Ta’lum al-Suryaniyyat karya al-Tirmidzi, sebagai berikut:

حدثنا علي بن حجر أخبرنا عبد الرحمن بن أبي الزناد عن أبيه عن خارجة بن زيد عن ثابت عن أبيه زيد بن ثابت قال : أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم له كتاب يهود قال إني والله ما آمن يهود على كتاب قال فما مر بي نصف شهر حتى تعلمته له قال فلما تعلمته كان إذا كتب إلى يهود كتبت إليهم وإذا كتبوا إليه قرأت له كتابهم قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح

وقد روي من غير هذا الوجه عن زيد بن ثابت رواه الأعمش عن ثابت بن عبيد الأنصاري عن زيد بن ثابت قال أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم السريانية قال الشيخ الألباني : حسن صحيح

Artinya:

Zaid ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah s.a.w. memerintahkan kepadaku untuk mempelajari bahasa Ibrani guna menterjemahkan surat insan-insan Yahudi. Zaid berkata dengan nada semangat: “Demi Allah, sesungguhnya akan kubuktikan kepada insan-insan Yahudi bahawa aku mampu menguasai bahasa mereka.” Zaid melanjutkan: “Setengah bulan berikutnya aku mempelajarinya untuk Nabi s.a.w. dengan tekun dan setelah aku menguasainya, maka aku menjadi juru tulis Nabi s.a.w. apabila beliau berkirim surat kepada mereka, akulah yang menuliskannya; dan apabila beliau menerima surat dari mereka, akulah yang membacakan dan yang menerjemahkannya untuk Nabi s.a.w.” Berkata Abu Isa Hadis ini hasan shahih.

Menurut riwayat lain, bahwa Zaid ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah s.a.w. telah menyuruh aku belajar bahasa Suryani. Berkata Syekh al-Bani Hadis ini Hasan Shahih (Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmizy, tt: 67).

Dalam Hadis ini Nabi s.a.w. menganjurkan Zaid ibn Tsabit untuk mempelajari bahasa Suryani. Imam Ghazali (yang wafat tahun 505/1111) mengatakan bahawa pengetahuan seseorang yang tidak pernah belajar logika -salah satu cabang filsafat- adalah tidak bisa diandalkan (Nurcholis Madjid, 1985: 47).

Filsafat atau philosophy dan logika adalah alam pikir orang-orang Yunani. Namun Imam Ghazali memberi nasihat kepada orang orang Muslim untuk memiliki alam pikir filsafat atau philosophy dan logika.

Perintah (Khithab) Nabi kepada Zaid ibn Tsabit itu berlaku juga bagi semua umat Islam hingga akhir zaman. Banyak pakar Hadis yang telah memberikan penilaian atau kritik terhadap kualitas Hadis yang diriwayatkan al-Tirmizi ini. Salah seorang di antaranya adalah Syekh al-Bani. Menurutnya, kualitas Hadis ini adalah Hasan Sahih. Maka hadis ini dapat dijadikan dalil bahawa mempelajari ilmu-ilmu aqliyah dianjurkan dalam Islam. Dengan harapan, perbedaan pendapat tentang pentingnya ilmu-ilmu aqliyah dalam Islam dapat dikurangi.

Oleh karena itulah, citra kehidupan islami pada Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu memberi kesan kepada kita bahwa ketika itu adalah hal yang wajar bagi insan-insan Muslim secara ikhlas mau mencari ilmu pada seorang insan Yahudi mu’alaf yang bernama Ka’b al-Ahbar (yang wafat tahun 32/652) dengan tujuan mencari kejelasan dan kesahihan dan keaslian sejarah ilmu tauhid. Beberapa sahabat Nabi pun juga menggali dan mencari ilmu dan kearifan dari insan Yahudi mu’alaf yang bernama Ka’b al-Ahbar tersebut untuk menggali dan mencari ilmu risalah nabi-nabi yang tertulis dalam Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, Al Injil yang diutus oleh Allah SWT sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Bentuk pencarian ilmu yang seperti itu pada Zaman Keemasan Islam adalah hal yang sangat wajar sekali dilakukan insan-insan Muslim. Bahkan diriwayatkan pada saat itu, insan Yahudi mu’alaf yang bernama Ka’b al-Ahbar tersebut diberi tempat dan waktu di masjid Nabi di Medinah untuk mentilawatkan Kitab Allah At Taurat dan menjelaskan maknanya. Oleh Nabi, orang-orang Nashara dari Najran pun disuruh untuk menjalankan sembahyang mereka di Masjid Nabi di Medinah dan di Mekah.

Bentuk pencarian ilmu yang seperti itu, pada Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu dianggap sebagai hal yang sesuai Sunnah Rasululloh, dengan begitu menjadi sangat wajar sekali dilakukan insan-insan Muslim yang saleh di Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu tersebut. Bahkan sepupunya Nabi yang bernama Abdullah bin Abbas dikenal mempunyai hobbi suka mencari ilmu kearifan nabi-nabi yang risalahnya tertulis dalam Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, dan Al Injil yang diutus oleh Allah sebelum Nabi Muhammad s.a.w.

Bahkan bukan hanya suka mencari ilmu kearifannya nabi-nabi yang risalahnya tertulis dalam Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, dan Al Injil, sepupunya Nabi Muhammad s.a.w. yang bernama Abdullah bin Abbas tersebut dahulu dikenal mempunyai hobbi suka menceritakan kepada insan insan Muslim tentang kisah-kisah nabi-nabi yang risalahnya tertulis dalam Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, dan Al Injil.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad s.a.w., Al Islam semakin tersebar luas. Ketika itu, semakin banyak insan-insan Muslim yang ingin menggali dan mencari ilmu lebih dalam lagi tentang kearifan nabi-nabi yang hidup sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Insan-insan Muslim pada zaman dahulu tersebut menggali dan mencari ilmu lebih dalam lagi tentang kearifan nabi-nabi tersebut, karena nabi-nabi Allah tersebut secara sekilas memang disebutkan di dalam Kitab Allah Al Qur’anul Karim. Jadi insan-insan Muslim pada zaman dahulu pada Zaman Keemasan Islam tersebut ingin menggali lebih dalam lagi tentang kearifan dan ketauhidan nabi-nabi Allah tersebut.

Di antara insan-insan Muslim pada Zaman Keemasan Islam tersebut, ada yang menggali risalah mengenai nabi-nabi Allah tersebut karena ingin berziarah ruhani agar menjadi semakin alim dan semakin khusuk dan semakin mendalami ugama. Namun ada pula yang melakukannya karena ingin boleh memperkaya khazanah hafal-menghafal puisi dan dongeng-mendongeng dan kisah-mengkisahkan yang pada saat itu merupakan kegiatan-kegiatan sastra yang paling disukai masyarakat pada saat itu. Namun apapun alasannya ketika itu, di dalam menggali, mencari serta menimba seluk beluk ilmu kearifan nabi-nabi terdahulu tersebut, insan-insan Muslim pada saat itu pasti sudah menganggap wajar kalau mereka harus mencari dan menimba serta mengaji kepada kebiasaan-kebiasaan turun menurun yang dimiliki oleh Para Ahli Kitab yaitu insan-insan saleh yang kebiasaan ugamanya bernafaskan Yahudi dan insan-insan saleh yang kebiasaan ugamanya bernafaskan Nashara.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini