Pulau-Pulau di Asia: Melayu Wujud di Rantau ini Sudah Ribuan Tahun Sebelum Masehi

“Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” itulah motto orang nomad yaitu suku kaum yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Secara fisik orang-orang kita lebih mirip orang Kamboja dan orang Myanmar atau orang Vietnam daripada dengan orang Arab atau India. Memang pada zaman dahulu kala terjadi hijrah besar-besaran orang-orang dari Negeri Yunan China dan dari Negeri Campa yang sekarang disebut Kamboja ke pulau-pulau Asia.

Pulau-pulau itu oleh Gajah Mada dan Raja-Raja Sriwijaya sebut NUSANTARA. Dan nenek moyang orang-orang yang sekarang secara politik disebut Malaysia adalah berasal dari pulau-pulau di NUSANTARA tersebut. Banyak orang-orang dari pulau-pulau di Asia atau yang disebut pulau-pulau NUSANTARA tersebut merantau ke tanah di Benua Asia yang sekarang secara politik disebut Semenanjung Malaysia.

Koloni British akhirnya secara politik disebut Malaysia. Koloni Belanda yang adalah pulau-pulau di Asia yang secara politik disebut Indonesia.

Anehnya, banyak orang Melayu cenderung merasa pelik menyadari bahawa semua orang yang hidup di kawasan pulau-pulau yang sekarang secara politis disebut Indonesia adalah orang-orang Melayu juga. Walaupun sekarang mereka menyebut diri mereka bukan lagi sebagai Melayu, tapi sebagai Indonesia.

Penjelajah-penjelajah dari negara-negara Barat menyebut kawasan benua Asia terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok sahaja. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia” atau Hindu yang berasal dari nama sebuah sungai besar yaitu Sungai Indus yang mengalir di benua Asia di Persia, India dan Pakistan dan Tiongkok. Orang-orang Persia sebut sungai itu Sungai Hindu. Di sekitar Sungai Hindu itulah lahir peradaban Hindu termasuk agama Hindu.

Esia adalah bahasa Yunani yang artinya pulau-pulau. Jadi begitulah pulau-pulau di Hindu itu disebut Indunesia. Itulah pulau-pulau di peradaban Hindu atau Asia.

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahawa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia” atau Hindu atau Peradaban Sungai Hindu.

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan,

Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA),

yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819–1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universiti Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl (1813–1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel,

On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.

Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahawa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

“… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.”

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Kepulauan Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia boleh juga digunakan untuk Ceylon (Sri Lanka) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahawa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel,

The Ethnology of the Indian Archipelago.

Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan disekitar benua Asia, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf ‘u’ digantinya dengan huruf ‘o’ agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

“Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.”

Begitulah ceritanya orang-orang Melayu di pulau-pulau di sekitar benua Asia itu disebut Indonesia.

Orang-orang Melayu di sekitar benua Asia yang disebut Indonesia itu merdeka lebih dahulu yakni 17 Ogos 1945 daripada orang-orang Melayu di Semenanjung yang menjadi Malaysia yang merdeka pada tarikh 16 Sep 1963. Dahulu banyak sekali orang-orang Indonesia membantu saudara-saudara mereka yang berada di Semenanjung untuk menjadi percaya diri dan lebih bersemangat dalam identitas. Tapi setelah mereka merdeka dari sebagai koloni British, kena diakui mereka memang lebih maju dan lebih teratur dibanding saudara-saudara mereka yang di bawah koloni Belanda yang tergabung menjadi Indonesia. Kerana bekas koloni British lebih maju, orang-orang Melayu di Malaysia memanggil saudara-saudara mereka orang-orang Indon untuk sedikit melupakan ketidak majuan latar belakang mereka dahulu.

Mereka lupa pada kampung halaman dan puak puak mereka di kampung-kampung yang tidak maju di pulau-pulau di bawah koloni Belanda. Oleh kerana itu mereka cenderung menyebut saudara-saudara mereka sebagai orang-orang Indon tak bertuah.

Indon adalah sebuah istilah yang digunakan Malaysia beserta Pemerintah Malaysia untuk penyebutan negara dan rakyat Indonesia. Di Indonesia sendiri, istilah ini berkonotasi negatif dan dianggap sebagai perkataan rasis yang setara dengan istilah negro (nigger) yang digunakan dunia berbahasa Inggris untuk ras Negroid. Rakyat dan Pemerintah Indonesia menentang penggunaan istilah Indon tersebut.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur telah berulang-ulang melayangkan surat protes kepada media di Malaysia yang bersikukuh menggunakan istilah ini meski dinilai memiliki konotasi negatif.

Sehubungan dengan itu, pihak Pemerintah Indonesia melalui Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI, Eka A Suripto menjelaskan bahawa pihak Duta Indonesia sudah menyampaikan protes secara resmi kepada duta Malaysia di Indonesia pada 13 Mei 2007. Pemerintah Malaysia kemudian mengambil tindakan dengan mengeluarkan larangan penggunaan istilah ini secara resmi oleh Kementerian Penerangan Malaysia, pada 24 Mei 2007.

Penggunaan awal istilah INDON ini adalah dalam,

The Encyclopedia Americana

oleh Bernard S Cayne, Robert S Anderson, Sue R Brandt (1829). Sebagian media Indonesia pernah menggunakan istilah ini pada tahun 1963 sampai 1982.

Maggie mie Malaysia menggunakan kata Indon pada produk mi instan mereka dan hal ini menuai protes dari KBRI di Kuala Lumpur. Sebaliknya, menurut hasil survei Nestle (Malaysia), kata “indon” sangat populer serta merupakan sesuatu yang positif dan potensial bagi pemasaran kepada generasi muda berusia 15-24 tahun dan 25-29 tahun di Malaysia.

Munculnya pendefinisian Indon sebagai karakter bangsa Indonesia yang berkonotasi negatif ini berawal dari keprihatinan rakyat Indonesia, khususnya tenaga kerja Indonesia yang berada di Malaysia, atas penggunaan liar kata Indon yang berkembang di sana. Itulah dinamika yang penuh dengan perubahan dengan berjalannya masa dan kemajuan teknologi dari masa ke masa. Jadi persejarahan itu sungguh mustahak agar kita tidak mudah marah dan merasa pelik.

Ketahuilah Kerajaan Perak dan Kelantan itu sudah ada ribuan tahun sebelum Masihi. Ketahuilah Wali Songo itu berasal dari Kelantan menyebarkan keyakinan Islam sampai di Pulau Jawa. Dakwah mereka sungguh diterima oleh orang-orang peradaban Hindu di Tanah Jawa.

Orang-orang Arab di Mekkah menyebut semua orang orang di kepulauan Asia tersebut sebagai orang orang Jawa yang bertulisan Aksara Jawi. Semua orang di Asia Tenggara ini oleh orang Arab disebut orang-orang Jawa kerana jasa orang-orang Kelantan yang berjaya melakukan dakwah Islam kepada orang-orang peradaban Hindu di Tanah Jawa.

Jadi sesungguhnya orang-orang Indonesia ini sesungguhnya sangat berhutang budi pada peradaban Melayu di Kelantan. Dari merekalah, orang-orang berperadaban Hindu mengenal peradaban Semitik atau Timur Tengah dalam wujud Islam.

Orang-orang kita kena menghargai dinamika perubahan dengan berpegang pada motto orang-orang Melayu,

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

WALI 7

Saiyid Hussein Jamadil Kubra dari keturunan Saiyid al-Alawiyah (bertemu hingga kepada Saiyidina Hussein cucu Rasulullah s.a.w.), anak dari bekas seorang gabenor kepada Sultan Muhammad Tugluq (Kesultanan Delhi) yang kemudian berkuasa di wilayah Deccan (India Selatan) telah sampai di Kelantan kira-kira pada tahun 1349 Masihi besama adiknya Saiyid Thana’uddin atau Syekh Saman (anak murid kepada Ibnu Hajar). Sudah menjadi takdir bahawa keturunan Rasulallah dizalimi, ditindas, dibunuh dan merantau meninggalkan Kota Mekah untuk menyelamatkan diri masing-masing.

Sepanjang misi dakwahnya Saiyid Husein sempat mengawini tiga puteri keluarga Diraja Empayar Chermin (Kelantan Purba) yang sewaktu itu ibu kotanya bernama ‘Jiddah’ terletak tiga batu dari Bukit Panau. Kota tersebut telah terbenam ke dalam bumi dan ditenggelami oleh air, kini dikenali sebagai Danau Tok Uban.

Anak sulong beliau, Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) merupakan pelopor dan ketua Wali Songo. Maulana Malik Ibrahim merupakan anak Saiyid Husein hasil perkahwinan dengan Puteri Linang Cahaya (adik kepada Cik Wan Kembang). Siapa sangka bahawa Wali Songo adalah anak buah (anak saudara) Cik Wan Kembang yang tersohor di Kelantan itu.

Salah seorang anak beliau, dihantar untuk berdakwah ke Borneo dan diangkat menjadi Sultan di Brunei bergelar Sultan Berkat yang merupakan nenek moyang raja-raja Brunei sekarang. Inilah jawapan kepada Misteri kenapa Sultan Brunei telah membina sebuah masjid yang cantic dan besar di gigi tasik Danau Tok Uban, sedangkan tempat ini ‘tersorok’ dan orang kelantan sendiri ramai yang tidak tahu kewujudan tasik yang agak luas sayup mata memandang.

Shaik Thanauddin pula menetap di Bukit Panau (Tanah Merah, Kelantan) sebagai tempat pertapaannya yang mana di sinilah Laksamana Hang Tuah datang untuk berguru semasa usia awal remaja sekitar tahun 1400. Pada zaman dahulu kala, Bukit Panau merupakan landmark bagi pelaut antarabangsa kerana bentuknya yang unik seperti piramid itu dapat dilihat dari laut ketika berada di perairan Laut China Selatan.

Pada zaman dahulu, Bukit Panau diakses melalui Sungai Kelantan yang cuma disebelahnya. Kapal-kapal mudah sahaja melalui Sungai Kelantan yang luas itu. Inilah perkampungan Wali Songo dan tempat di mana mereka merancang dakwah di Tanah Jawa. Jangan keliru, sebenarnya Bukit Panau ini bersebelahan sahaja dengan tasik Danau Tok Uban dan Masjid Sultan Brunei. Anjung Masjid Sultan Brunei di Tasik Danau Tok Uban di Pasir Mas Kelantan.

Semua informasi yang disampaikan oleh Wonbin ini agak menarik tetapi terlalu banyak informasi yang perlu dikaji selidik. Masalahnya data sejarah kita tak lengkap, hanyalah melalui cerita lisan. Kalau adapun penulisan seharusnya dalam tulisan jawi dan penulisannya tidak boleh sewenang-wenangnya diambil tanpa dikaji asal-usul naskah tersebut. Mungkin ini semua boleh terlerai jika diperincikan dan dibuat satu kajian perbandingan dengan sejarah di Jawa dan juga tulisan Arab dan China. Sudah tentulah sejarah- sejarah sebegini tidak disimpan oleh pihak kolonial, kalau tidak pastinya sudah ditimbulkan oleh Mubin Sheppard dan Richard Winsteadt.

Jadi orang-orang di Indonesia kena faham kenapa orang-orang Kelantan nak hudud ditegakkan kerana orang-orang Kelantan adalah nenek moyang mereka dan nenek moyang atau sumber ilmu Islam mereka. Dengan adanya Wali Songo, orang-orang di pulau-pulau di Peradaban Hindu menjadi luas cakrawalanya sampai ke Peradaban Semitik atau Peradaban Timur Tengah yang menekankan Islam Bawaan Para Nabi.

Ansar As-Sunnah

Imam Ibnu Asakir, Imam al-Khatib dan Imam al-Hafiz al-Mizzi meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi:

“Apabila akhir umat ini melaknat (generasi) awalnya, maka hendaklah orang-orang yang mempunyai ilmu pada ketika itu menzahirkan ilmunya, sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu pada waktu tersebut seumpama seseorang yang menyembunyikan apa yang telah diwahyukan kepada (Sayyidina) Muhammad s.a.w.!”

Yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. adalah berita bahawa di dalam iman tauhid iman kepada Allah semata, semua nabi adalah bersaudara. Ibu mereka berlainan namun dari satu Bapa yaitu Allah. Ibaratnya! Nabi Muhammad menyatakan bahawa iman adalah beriman kepada Allah, kepada semua malaikat-malaikat Allah, kepada semua nabi-nabi dan semua rasul-rasul Allah, dan kepada semua kitab-kitab Allah Taurat Zabur Injil, dan kepada hari kiamat semuanya baik kiamat kecil dan kiamat besar, dan kepada takdir, semuanya, baik yang menyenangkan dan yang tidak.

Nabi Muhammad dan Al Qur’an berkata bahawa Nabi Isa ditetapkan Allah untuk membunuh musuh besar semua umat Islam adalah Dajjal dan segala fitnah-fitnahnya. Dan Nabi Isa adalah adalah tanda datangnya hari kiamat dan hakim yang adil di pengadilan akhirat. Dan Nabi Muhammad berkata bahawa Nabi Muhammad adalah paling dekat dengan Nabi Isa Putera Maryam. Ketika menghancurkan semua patung dan gambar-gambar yang ditempel oleh orang-orang musyrikin di Ka’bah di Mekkah selepas dari hijrahnya ke Yathrib Negeri orang-orang Nasrani. Nabi berkata,

“Hancurkan semua patung-patung dan gambar-gambar syirik ini kecuali yang di balik tangan ku ini yaitu gambar Putra Maryam dan ibunya.”

Di bawah ini adalah silsilah Nabi Isa dalam seni kaligrafi yang berdasarkan Kitab Allah Injil Tarjamah Bahasa Arab di mana di situ tampak jelas bahawa kita semua, juga Nabi Isa, adalah keturunan-keturunan Adam. Kita semua adalah Bani Adam. Tarikh Nabi Adam sukar dikesan. Nabi Muhammad lahir 570 tahun selepas Nabi Isa lahir. Tidak ada nabi antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Itulah sebab Nabi Muhammad berkata Nabi Muhammad paling dekat dengan Nabi Isa.

Termaktub di Hadis sahih Bukhari Muslim. Pesan dan ajaran mereka adalah Tauhid Yang Sama yakni Mengutamakan Allah sebagai ilah daripada semua manusia tanpa pandang bulu dan puak dan ugama. Nabi Isa dari puak Yahudi. Selidiki persejarahannya di Injil Surah Luqa 3:23-38.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini