QS Al-Kahf [18] Ayat 27

QS [18]:27 …

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن كِتَابِ رَبِّكَ ۖ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَن تَجِدَ مِن دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Wahyu Ilahi atau Kalam Ilahi adalah keadaan sebelum dihafalkan serta ditulis dan dibukukan oleh manusia. Keadaan tersebut jarang terpikirkan dan jarang dibahas. Bahkah tidak pernah dibahas.

Wahyu Ilahi atau Kalam Ilahi tersebut kemudian disambut, ditulis dan dibaca dan dihafalkan oleh manusia. Orang-orang tersebut hidup dalam Kerajaan-Kerajaan yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Nashara yang sudah lama ada sebelum datangnya al Islam, yaitu kaum Ebionit (orang-orang yang terzalimi di Tanah Suci Al Quds Yerusalem) dan peradaban Suryani Orthodox, Koptik Mesir, Maronit Libanon, Orthodox Yunani yang merupakan budaya para hawariyun penyokong-penyokong setia Nabi Isa alaihissalam yang sampai sekarang masih ada di Suriah, Mesir, Libanon, Palestina di Timur Tengah.

Dalam prasasti kuno mengenai peradaban salah satu masyarakat Semitic yang memiliki akhlak serta kebiasaan yang mulia yang bernafaskan Nashara yang sudah dahulu ada sebelum datangnya al Islam ditemukan lafas ﺍﻟﻟﻪ. Rupanya, mereka sudah sejak lama menyebut Tuhan itu ﺍﻟﻟﻪ dan di dalam Tarjamah Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil dalam Bahasa Arab Kitaabul Muqoddas dan Kitaabul Hayaat dan Alkitaabusysyariif dipakai lafash ﺍﻟﻟﻪ dan menjunjung tinggi iman Tauhid.

Cara memelihara dan menjaga Kalam Ilahi, oleh Allah Al Hafiizh Yang Maha Memelihara, dilakukan dengan berbagai cara, misalnya:

  • Dengan memakai orang-orang yang diberi karunia hafal-menghafalkan
  • Dengan memakai orang-orang yang diberi karunia tafsir dan tarjamah
  • Dengan memakai peninggalan purbakala dalam bentuk mushaf-mushaf dan daun-daun purbakala
  • Dengan memakai fenomena-fenomena di alam semesta

Sungguh tiada yang lebih baik daripada Allah Al Hafiizh Yang Maha Memelihara!

Di dalam Kitab Al Qur’an dan tarjamahnya yang dipakai insan-insan Muslim di Peradaban Barat yang berjudul,

An Interpretation of The QUR’AN (English translation of the Meanings, A Bilingual Edition

oleh Majid Fakhry yang didukung dan disetujui oleh Universitas Al Azhar, Mesir, dan di …

The Meaning of THE HOLY QUR’AN

oleh ’Abdullah Yusuf Ali, di situ jelas disebut nama-nama nabi-nabi dalam Bahasa Inggris, dengan begitu, kita bisa tahu dengan jelas tentang bagaimana insan-insan saleh Muslim di peradaban Barat menyebut nabi-nabi Allah:

Adam, Idris, Noah, Abraham, Lot, Isma’il, Isaac, Jacob, Joseph, Moses, Aaron, David, Salomon, Elijah, Elias, Job, Jonah, Dhulkifli, Salih, Hud, Shu’aib, John, Jesus, Muhammad.

Bahasa Melayu nya:

Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Yakub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Eliya, Al Yasa, Ayub, Yunus, Zulkifli, Saleh, Hud, Shu’aib, Yahya, Isa, Muhammad.

Inilah contoh Mushaf Tafsir Tarjamah Sahih Taurat dan Injil dalam bahasa Arab, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris.

Surah At Takwin (Kejadian) 1:1,

فِي الْبِدَايَةِ خَلَقَ اللهُ السَّمَاواتِ وَالأرْضَ.

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (In the beginnings God created the heavens and the earth.)

Surah Marqusa (Markus) 12:32,

إِنَّ اللهَ وَاحِدٌ، وَلا إِلَهَ إِلا هُوَ.

Tuhan itu esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. (God is one and there is no other but him.)

Tarjamah adalah salah satu hal tentang ilmu bahasa. Demikian pula Hafalan juga merupakan ilmu bahasa. Kedua-duanya diredai oleh Allah SWT untuk menghafidzkan memelihara dan menegakkan dan melestarikan IMAN TAUHID hanya kepada Allah SWT sahaja.

Pesan dan Wasiyat Tauhid untuk beriman hanya kepada Allah SWT sahaja dihafiidzkan dipelihara dijaga dan ditegakkan dan dilestarikan oleh Kitab Allah Taurat, Zabur, Injil sebagaian besar, dengan izin Allah, melalui proses Tarjamah, bukan melalui proses Hafalan.

Proses Tarjamah menekankan terpeliharanya makna pesan ilahi. Proses hafalan menekankan terpeliharanya keharafiahan pesan ilahi. Baik HAFALAN maupun TARJAMAH sama-sama diredai Allah SWT untuk menghafidzkan memelihara dan menegakkan dan melestarikan IMAN TAUHID kepada Allah SWT.

Selain dihafalkan dan ditilawahkan oleh orang-orang Bani Ya’qub, Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil juga ditarjamahkan, oleh para hawariyun yaitu penyokong-penyokong setia Nabi ‘Isa ke dalam berbagai masyarakat di bumi ini. Masyarakat Arab Suriah lah yang pertama kali menterjemahkan Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil ke dalam Arab Suriah di Timur Tengah yaitu ke dalam Bahasa Suryani dan ke dalam Bahasa Yunani yang merupakan bahasa internasional ketika itu.

Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil juga ditarjamahkan, oleh para hawariyun yaitu penyokong-penyokong setia Nabi ‘Isa di masyarakat Arab Mesir Kuno, ke dalam bahasa para hawariyun di Mesir Kuno, ditarjamahkan ke dalam bahasa masyarakat Mesir Kuno, yaitu Bahasa Suryani Koptik.

Tarjamahan Kitab At Taurat, Az Zabur dan Al Injil ke dalam Bahasa Suryani dan Bahasa Yunani tersebut disebut Suhuf Peshitta, Suhuf Septuaginta, Suhuf Halaka dan Suhuf Haggada.

Hadis Nabi s.a.w. menggunakan perkataan السريانية As Suryaaniyah adalah untuk menggungkapkan Bahasa Suryani. Dalam kitab yang berjudul: al-Muj’am al-Mufahras li Al-fadz al-Hadis al-Nabawi, mencatat bahwa, kata al-suryaniyyat tersebut dijumpai dalam beberapa kitab Hadis, salah satu diantaranya adalah kitab : al-Jami’ al-Sahih, Jilid 1, bab Fi Ta’lum al-Suryaniyyat karya al-Tirmidzi, sebagai berikut:

حدثنا علي بن حجر أخبرنا عبد الرحمن بن أبي الزناد عن أبيه عن خارجة بن زيد عن ثابت عن أبيه زيد بن ثابت قال : أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم له كتاب يهود قال إني والله ما آمن يهود على كتاب قال فما مر بي نصف شهر حتى تعلمته له قال فلما تعلمته كان إذا كتب إلى يهود كتبت إليهم وإذا كتبوا إليه قرأت له كتابهم قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح

وقد روي من غير هذا الوجه عن زيد بن ثابت رواه الأعمش عن ثابت بن عبيد الأنصاري عن زيد بن ثابت قال أمرني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أتعلم السريانية قال الشيخ الألباني : حسن صحيح

Artinya:

Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah s.a.w. memerintahkan kepadaku untuk mempelajari bahasa Ibrani guna menterjemahkan surat orang-orang Yahudi. Zaid berkata dengan nada semangat:”Demi Allah, sesungguhnya akan kubuktikan kepada orang-orang Yahudi bahwa aku mampu menguasai bahasa mereka.” Zaid melanjutkan: “setengah bulan berikutnya aku mempelajarinya untuk Nabi s.a.w. dengan tekun dan setelah aku menguasainya, maka aku menjadi juru tulis Nabi s.a.w. apabila beliau berkirim surat kepada mereka, akulah yang menuliskannya; dan apabila beliau menerima surat dari mereka, akulah yang membacakan dan yang menerjemahkannya untuk Nabi s.a.w. Berkata Abu Isa Hadis ini hasan shahih.

Menurut riwayat lain, bahwa Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah s.a.w. telah menyuruh aku belajar bahasa Suryani. Berkata Syekh al-Bani, hadis ini Hasan Shahih. (Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmizy, tt: 67).

Dalam hadis ini Nabi s.a.w. menganjurkan Zaid ibn Tsabit untuk mempelajari bahasa Suryani. Imam Ghazali (1058-1111) mengatakan bahwa pengetahuan seseorang yang tidak pernah belajar logika – salah satu cabang filsafat – adalah tidak bisa diandalkan (Nurchalis Madjid, 1985: 47). Logika dan teologi dan filsafat adalah ciri khas orang-orang mukmin saleh yang memiliki kebiasaan yang bernafaskan Nashara dan Bani Isra’il.

Perintah (Khithab) Nabi kepada Zaid ibn Tsabit itu berlaku juga bagi semua umat Islam hingga akhir zaman. Banyak pakar hadis yang telah memberikan penilaian atau kritik terhadap kualitas hadis yang diriwayatkan al-Tirmizi ini. Salah seorang di antaranya adalah Syekh al-Bani. Menurutnya, kualitas hadis ini adalah Hasan Sahih. Maka hadis ini dapat dijadikan dalil bahwa mempelajari ilmu-ilmu aqliyah dianjurkan dalam Islam. Dengan harapan, perbedaan pendapat tentang pentingnya ilmu-ilmu aqliyah dalam Islam dapat dikurangi.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini