Siapakah Waraqa Bin Nawfal dalam Salasilah dan Riwayat Nabi Muhammad s.a.w? (Bhg.11/13)

Teladan-Teladan yang Dicontohkan Waraqah Bertahanush di Bulan Ramadan

Sejak peristiwa pernikahan itu jalan hidup Muhammad bergantung pada Khadijah dan begitu pula sebaliknya. Kehendak Waraqa dalam menikahkan Muhammad dan Khadijah akhirnya membawa manfaat. Sejumlah persoalan boleh terselesaikan oleh kerana rencana pernikahan yang diajukan Waraqa. Waraqa menggunakan semua pengalaman beliau untuk Muhammad dan menunjukkan kepada Muhammad masa depan yang menjanjikan. Sedangkan dari sisi istrinya, Khadijah, perempuan paling kaya di Quraysh, menggunakan kemampuannya untuk mewujudkan apa yang dikehendaki sepupunya yaitu Waraqa. Waraqa dan Khadijah bekerjasama dengan satu semangat yaitu untuk menyiapkan Muhammad demi memastikan keberlanjutan menegakkan iman tauhid kepada Allah. Hal ini menuntut perwalian terus-menerus dengan penekanan khusus pada hal diniyah.

Langkah pertama yang diambil Muhammad adalah bertahanush atau menyepi ke Gua Hira. Tahanush adalah amalan pengungsi-pengungsi Quraysh yang beralam pikir nashara. Dalam tahanush di Gua Hira, seperti saudara-saudaranya yang beralam pikir nashara, Muhammad akan bertafakhur dan bertirakat. Kakek beliau biasa mengunjungi tempat itu dengan rekan-rekan Qurayshnya yang senafas dalam paradigma orang-orang berhijrah nashara miskin terzalimi atau ebionit. Ketika buka puasa, burung-burung liar pun datang turut makan satu piring dengan Abdul Mutalib, kakek Muhammad. Waraqa dan Muhammad menyepi ke Gua Hira di mana mereka akan melewatkan waktu satu bulan setiap tahun yakni pada bulan puasa Ramadan selama jangka waktu lima belas tahun.

Dalam bertahanush di gua Hira inilah atau yang disebut juga sebagai khalwah, Waraqa, seorang yang ahli dalam ilmu yang kelihatan dan ilmu yang tidak kelihatan, meninggalkan teladan dan contoh-contoh serta amalan-amalan yang saleh bagi Muhammad. Kegiatan ber-tahanush macam ini tidaklah asing bagi Muhammad. Muhammad mengenalnya sejak masa muda menurut pengamatan kerabat dekatnya. Ibu angkatnya, Halima al-Sa’diuuah, melaporkan:

“Waktu dalam masa pertumbuhan terkadang Muhammad keluar dengan kawan-kawan sebayanya. Tapi begitu mereka mulai bermain, ia meninggalkan kawan-kawannya tersebut dan menuju tempat yang sunyi. Waktu ia mulai merasa pentingnya perjuangan menegakkan ketauhidan kepada Allah, cintanya untuk tahanush atau khalwah semakin meningkat. Bagi Muhammad, tirakat tahanush ini membebaskan hati dan jiwa dari semua daya tarik duniawi dan hingar bingar kehidupan. Di dalam gua Hira, Muhammad menikmati kehadiran ilahi.” Halima mengisahkan lebih lanjut: “Waktu dalam tahanush atau khalwah, cahaya ilmu menyinari gua yang gelap. Tak ada yang lebih penting baginya selain bertahanush menyendiri. Ia biasanya melakukannya di Gua Hira dimana ia bertirakat siang dan malam.”

(Al-Halabiyya, hal. 257, 260.)

Kelak di kemudian hari, Aisyah, istri Muhammad, berbicara mengenai amalan tahanush Muhammad tersebut.

“Muhammad adalah seseorang yang sangat bertaqwa. Ia menyepi di Gua Hira untuk bertahanush . Ia pulang ke keluarganya. Ia kembali ke Khadijah untuk mengambil perbekalan.”

(Muslim, Sahih, Vol. I, hal. 78, 79; al-Bukhari, Sahih, Vol. I, hal. 39; Ibn Sa’d, hal. 194.)

Saat Khadijah masih hidup, Khadijah sungguh bangga memiliki suami yang khusu’ dalam ber-tahanush di dalam gua tersebut.

“Tuhan Allah mengaruniainya dengan cinta tahanush di mana hati boleh dibebaskan dari seluruh urusan duniawi.”

(Ibn Hisham, hal. 216; al-Halabiyya, hal. 258).

Bagaimanapun juga Muhammad tidak akan menikmati pemurnian jiwanya seandainya ia tidak bertemu dengan orang-orang yang menjalani tahanush secara khusu’ sebelumnya. Ber-tahanush di dalam gua itu adalah contoh yang diteladankan oleh kakeknya Abdul Muttalib dan rekan-rekan dekatnya yaitu Umayyah Ibn al-Mughirah, Waraqa, sang ra’is aam dan lain-lainnya. (Al-Halabiyya, hal. 259.)

Muhammad mengikuti contoh yang mereka berikan dan menyiapkan kehidupannya untuk perjuangan menegakkan iman tauhid kepada Allah di masyarakat Quraysh.

Di antara para penulis riwayat Muhammad yang mencantumkan ritus ibadah tahanush di dalam gua sebagai situsnya adalah Al-Ya’qubi, yang menurut catatan Ibn Hisham,

“Muhammad berdiam di Gua Hira’ selama satu bulan setiap tahunnya. Begitu pula orang-orang Quraysh lainnya di masa Jahiliyah.”

(Ibn Hisham, hal. 218; al-Tabari, Tafsir, Vol. II, hal. 48.)

Seorang perawi lainnya memberikan rincian lebih lanjut.

“Muhammad ber-tahanush berdiam di Gua Hira selama satu bulan tiap tahunnya. Ia memberikan makanan untuk fakir miskin yang datang menemuinya. Pada akhir bulan itu, ia kembali ke Ka’bah sebelum pulang ke rumah. Ia mengelilinginya tujuh kali dan kemudian pulang.”

(Nihayat al-‘Arab, Vol. XVI, hal. 170; Ibn Hisham, hal. 219.)

Apa yang terjadi di gua Hira’ secara spesifik tidak sepenuhnya diketahui. Al-Balquini, sang perawi, yang menafsirkan Hadis Bukhari menyatakan:

“Tak ada yang dicantumkan di Hadis yang kami ketahui mengenai ritus tahanush di dalam gua tersebut.”

(Al-Halabiyya, hal. 259.)

Namun terdapat kemiripan dengan amalan-amalan tirakat yang sudah menjadi kebiasaan insan-insan yang beralam pikiran nashara ebionit dan Kristen Timur pada masa itu.

Amalan-Amalan TAHANUSH atau Menyepi

Ber-tahanush atau mengasingkan diri di tempat sunyi berarti meninggalkan hasrat duniawi untuk menghadap Tuhan Allah dengan tangan dan jiwa yang suci. Situs gua Hira adalah ritus menjauhkan diri dari semua persoalan dan kekhawatiran duniawi.

Seseorang yang dikatakan mencari Tuhan selalu dalam kondisi …

“hatinya dibebaskan dari persoalan duniawi dan serta memungkinkan untuk berzikir mengingat Asma Allah . Dalam sepi, cahaya ‘ilmu menerangi dan mencerahkan.”

(Al-Halabiyya, hal. 259.)

Para penganut alam pikir ini akan melewatkan waktu dengan bertirakat, mengungkapkan rasa insyaf, dan mendengarkan khotbah-khotbah mengenai kalam ilahi dalam kitab-kitab Allah. Para pemandu yang cakap seperti Waraqa, Sang Ra’is Aam, memberi contoh dan tauladan yang berkesan pada Muhammad mengenai ibadah tahanush dalam situs dan ritus Gua Hira tersebut.

“Sebelum tibanya masa kenabiannya, Muhammad sudah terbiasa menjalankan amalan tirakat seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa serta seperti yang dicontohkan oleh insan-insan yang berpola pikir nashara di masa itu.”

(Al-Halabiyya, hal. 260.)

Sirah yang sama juga mengatakan,

“Muhammad berlatih berpuasa seperti Nabi Musa dan Nabi Ilyas di Gunung Horeb (Kitab Taurat Keluaran 3:1) serta seperti Nabi ‘Isa dan seperti hawariyyun rahib- rahib yang berpola pikir nashara yakni takdzim dan tawadu’ kepada Nabi ‘Isa ketika itu di daerah-daerah gurun pasir di Palestina. Muhammad dan lainnya selama berbulan-bulan hanya makan sekali dalam sehari. Mereka memenuhi kebutuhan dengan makan makanan ringan berupa makanan herbal setempat, buah-buahan, susu kambing, roti, dan lalapan. Niatan untuk makan dibatasi hanya saat lapar saja dan hanya untuk melengkapi kebutuhan-kebutuhan gizi dasar.”

(Al-Halabiyya, hal. 259.)

Amalan tahanush Muhammad mendorongnya mengulurkan tangan kepada fakir miskin.

“Ia memberikan makanan pada fakir miskin yang datang menemuinya.”

(Ibn Ishaq, di Ibn Hisham, hal. 219.)

Burung-burung dan binatang liar pegunungan juga mendapat manfaat dari kebaikan Muhammad tersebut. Karena Muhammad sendiri menderita kemiskinan sejak kanak-kanak, ia belajar bersedekah kepada fakir miskin yang ia temui. Daripada kakeknya yang bernama Abdul Mutalib dan pamannya yang bernama Waraqa, ia belajar beramal dan bermurah hati kepada mereka yang tidak beruntung. Beliau hanya memberi contoh bersedekah, merawat para janda, yatim piatu, musafir. Beliau jarang mengkritik orang-orang yang kaya raya di Mekah ketika itu dan jarang mengkritik orang-orang yang tidak peduli ketika itu.

Bulan puasa Ramadhan sudah menjadi ritual yang sudah lazim sebelum al-Islam. Sebelum Islam, Ramadhan adalah bulan berpuasa dan beribadah secara khusus. Muhammad menghabiskan bulan Ramadhan di Gua Hira dimana dia bertirakat kepada Tuhan Allah dan membaca Kitab-kitab Allah. Bahkan sebelum pengenalan hukum-hukum Al-Quran, Ramadhan merupakan bulan puasa bagi kaum mukmin yang sudah sewajarnya beralam pikir nashara, sebagaimana dicantumkan dalam Al-Qur’an.

“Wahai orang-orang mukmin! Berpuasalah kamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu.

QS Al Baqarah [2]:183.

Saat di akhir bulan puasa, Muhammad turun dari Gua Hira. Seperti yang sudah lazim dilakukan insan-insan mukmin yang beralam pikir nashara ketika itu, beliau pertama-tama mendatangi Ka’bah untuk mengucap syukur dan kemudian beliau menikmati hidangan-hidangan hari raya yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan.

Menurut para perawi, di akhir bulan Ramadan, Muhammad kembali dari dari Gua Hira, lalu mengelilingi Ka’bah tujuh kali.

(Ibn Hisham, hal. 219; al-Halabiyya, hal. 260.)

Seperti yang sudah lazim ketika itu, insan-insan Katholik yang takdzim dan tawadu’ kepada Sayidina ‘Isa menjalani amalan puasa Pra-Fashillah atau Pra-Paskah memeringatinya dengan mengelilingi situs suci yaitu Ka’bah tujuh kali pada hari raya Ahad Daun Kurma yang dulu-dulunya sudah sangat lazim diamalkan dengan cara mengelilingi situs suci Ka’bah tersebut. Situs dan ritus yang sudah sangat lazim di Timur Tengah ketika itu yang jauh lebih menantang daripada amalan puasa di bulan Ramadhan terus dirawat dan dijaga dan dilestarikan oleh Muhammad.

Semangat beliau dalam melestarikan amalan-amalan yang sudah lazim di Timur Tengah dari zaman ke zaman ini ditandai dengan penglihatan-penglihatan aneh dan bayang-bayang aneh. Seringkali anggota badannya gemetar dan wajahnya tegang bersimbah keringat. Terkadang ia jatuh tak sadar dan kemudian tertidur lelap. Malam harinya ia menggigau. Ia seringkali meminta tolong istrinya untuk menyelimutinya agar rasa takutnya berkurang.

Dalam kondisi menggigau, ia melihat bayangan-bayangan dan mimpi-mimpi mengerikan. Khadijah merawat suaminya dengan tenang dan berlimpah kasih sayang. Khadijah selalu mendatangi sepupunya, Waraqa, untuk meminta bantuan selama masa-masa sulit ini(*).

Waraqa berkata bahawa Muhammad sebenarnya mengalami kuasa dari Tuhan yang memberi namus (taurat) kepada Nabi Musa.

(Hadis Bukhari.)

(*) Mengenai kondisi kesehatan Muhammad saat ia menerima wahyu, lihat sumber-sumber berikut: Ibn Hisham, Vol. 1, hal. 221; Al-Bukhari, Vol. I, hal. 23, 31; Muslim, Vol. I, hal. 98; Ibn Sa’d, Vol. I, hal. 198. Al-Halabiyya, Vol. I, hal. 267; al-Makkiyya, Vol. I, hal. 183. Tema ini dibahas dalam sejumlah tulisan lainnya pula.

Itulah riwayat Muhammad yang tidak boleh dipisahkan dari keluarga besarnya yang beralam pikiran nashara yang beriman dan ber-islam berserah diri bulat-bulat kepada Tuhan Allah.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini