Siapakah Waraqa Bin Nawfal dalam Salasilah dan Riwayat Nabi Muhammad s.a.w? (Bhg.2/13)

Muslim Awal Beralam Pikiran Nashara

Sejak zaman Nabi Isa a.s., Al-Qur’an menyatakan bahawa para penyokong-penyokong setia Nabi Isa a.s. disebut para hawaariyyuun dan muslim, namun oleh bangsa yang tidak berkhatan mereka dihina dan dizalimi dan diperlekehkan dijuluki nashara atau nasrani.

Menzalimi penyokong-penyokong setia Nabi Isa a.s. adalah kebiasaan-kebiasaan orang-orang kafir, yakni, orang-orang yang tidak berkhatan.

Termaktub di QS Ali ‘Imran [3]:52-53 …

Maka ketika Nabi Isa merasa (serta mengetahui dengan yakin) akan kekufuran dari mereka (kaum Yahudi), berkatalah ia:” Siapakah penolong-penolongku kepada Allah (dengan menegakkan ugamaNya)?” Orang-orang “Hawariyyuun” (Penyokong-penyokong Nabi Isa) berkata: “Kamilah penolong-penolong (utusan) Allah. Kami telah beriman kepada Allah, dan saksikanlah (wahai Nabi Allah) sesungguhnya kami ialah orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah).

Oleh bangsa yang tidak berkhatan, Hawaariyyuun juga dihina dengan julukan Nashara, padahal, oleh Al-Qur’an, Hawaariyyuun (penyokong-penyokong setia Nabi Isa) malah dipuji sebagai muslim, yakni orang-orang yang berserah diri bulat-bulat kepada Allah.

Lagi QS Al Ma’idah [5]:82 menyatakan bahawa:

Dan demi sesungguhnya engkau akan dapati orang-orang yang dekat sekali kasih mesranya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Bahawa kami ini ialah orang-orang nasrani!

Di masyarakat yang berbahasa Melayu dan masyarakat yang berbahasa Inggris, ada kesalah pahaman dalam penggunaan kata nashara. Di kedua masyarakat tersebut, kata nashara seringkali diertikan sebagai Kristian Eropa atau Kristian Barat. Padahal nashara memiliki sejarah yang sama sekali lain dengan Kristian Barat.

Sesungguhnya nashara adalah penerus dan penjaga keyakinan tauhid para nabi Bani Isra’il, dan memiliki pengungkapan tauhid yang berbeza dengan pengungkapan tauhidnya Kristian Hellenistik atau Kristian Barat (Al-Faruqi, 1986). Sesungguhnya nashara mengacu pada orang-orang yang berkiblat ke Baitul Muqaddas Al-Quds Yerusalem. Kitab Al-Injil Surah Kisah Para Hawaariyuun 11:26 menyebut kata kristian untuk mengacu pada orang-orang tidak berkhatan yang tidak berkiblat ke Baitul Muqaddas Al-Quds Yerusalem dan orang-orang yang tidak di bawah syariah Taurat Nabi Musa a.s. namun tawaduk dan takzim kepada Nabi Isa alaihissalam dan orang-orang Kristian memiliki ritus dan situs dan etihat yang tidak sama. Sebelum Muhammad lahir, bulan Ramadan sudah menjadi ritual bulan puasa orang-orang Nashara dan Gua Hira sudah menjadi situs bertahanush orang-orang Nashara.

Tapi anehnya, oleh orang-orang tidak berkhatan pada waktu itu, barangsiapa yang takdzim dan tawadu’ kepada Sayidina ‘Isa dihina dengan dijuluki nashara. (Al-Injil Surah Hawariyun 24:5).

Orang-orang Arab Kristian di zaman modern sekarang ini memakai istilah nashara untuk mengacu kepada pengungkapan primitif ketakdziman dan ketawadu’an seseorang kepada Sayidina ‘Isa. Kelompok dengan pengungkapan tauhid seperti itu terhubung dengan suku nashara lainnya yang disebut Banu-‘Azrah, yang mengusir penyembah-penyembah berhala suku Khuza’ah dari Mekah dan menghancurkan suku Khuza’ah karena suku Khuza’ah adalah penyembah-penyembah berhala.

Suatu sumber Arab yang penting mengindikasikan bahawa Kaisar Bizantium Yunani membantu suku Qushay tersebut mengalahkan dua suku penyembah berhala di Mekah ketika itu, dengan bantuan persyarikatan suku Kristian Rom, Ghassanids. Suku Kristian dari Banu-‘Azrah, dari daerah garis depan Suryani, memainkan suatu peran penengah antara suku Qushay dan puak Bizantium. Ini merupakan indikasi pertama dari hubungan-hubungan antara suku Qushay, Quraysh, dan orang-orang Bizantium yang pada waktu itu adalah golongan yang adikuasa dan sangat kuat pengaruhnya. Kehidupan Qushay sendiri adalah bukti nyata bahawa hubungan suku Qushay, yakni Quraysh, dengan puak Bizantium bukan sekedar hubungan politik semata namun lebih dalam daripada sekedar hubungan politik.

Qushay menghancurkan semua berhala di dalam dan di sekitar Ka’bah yang dipasang oleh Amr bin Luhayy, pemimpin Bani Khuza’ah. Suku dari Tanah Yaman ini ketika itu adalah pemelihara berhala-berhala di dalam tempat keramat Ka’bah di Mekah ketika itu. Menurut naskah kuno, Qushay disebut-sebut telah “mengubah bentuk pengungkapan iman tauhid ketika itu” menjadi murni tauhid yang mengutamakan hanya Allah semata-mata.

Qushay disanjung atas tindakan meneruskan program pembangunan Ka’bah. Beliau berhasil menyelesaikan pembangunan Ka’bah yang dimulai oleh Tubba’h al-Yemani. Qushay menambahkan atap kayunya. Qushay berhasil menggali batu hitam yang dikebumikan oleh suku ‘Ayyad di pegunungan Mekah. Qushay juga mengosongkan area tenda-tenda di sekeliling Ka’bah untuk membangun bangunan-bangunan permanen yang kemudian menjadikannya sebagai pusat kota yang semakin kuat dan sebagai situs ziarah.

Dan kemudian ada dua keturunan Qushay yang sungguh-sungguh mengagumi hidup yang manfaat seperti yang dicontohkan oleh Qushay, yang tidak lain adalah kakek buyut mereka. Kedua keturunan Qushay tersebut adalah Waraqa, Sang Ra’is Aam, dan Muhammad, sang nabi yang mempersatukan semua pihak di Peradaban Arab.

Tidak heran ketika Muhammad lahir, orang-orang nasharalah yang secara genetika amat lega dan bergembira kerana secara genetika Muhammad adalah anak keturunan mereka. Tidah heran, orang-orang nashara lah yang pertama kali mengetahui tanda dalam tubuh Muhammad kerana secara genetika Muhammad adalah anak keturunan mereka. Muhammad bukan dilahirkan dalam suku-suku Arab, namun dilahirkan dalam kaum Quraysh yang ertinya persyarikatan orang-orang hijrah atau mengungsi keluar dari kampung halaman ke Jazirah Arab.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini