Siapakah Waraqa Bin Nawfal dalam Salasilah dan Riwayat Nabi Muhammad s.a.w? (Bhg.3/13)

Alam pikiran nashara dalam kehidupan Waraqa

Sebelum menerima takdir ilahi untuk menjalani hidup yang manfa’at dan menjunjung tinggi tauhid dalam perjalanan nashara (Ibn Hisham, Sirah, Vol. I, hal. 203), Waraqa sangat haqul yaqin pada din atau ugama Nabi Musa, nabi terdahulu atau nabi sebelumnya. Waraqa dengan sungguh-sungguh mengamalkan pengungkapan tauhid seperti yang dicontohkan oleh Nabi Allah Nabi Musa dan Nabi Allah Nabi ‘Isa yang termaktub di dalam Kitab Allah Taurat dan Injil, kitab-kitab terdahulu.

Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dikira mempunyai sesuatu ugama sehingga kamu tegakkan ajaran Kitab-kitab Taurat dan Injil. QS Al-Mā’idah [5]:68.

Kitab Allah At-Taurat dan Al-Injil tersebut merupakan landasan keyakinan Waraqa dalam rangka menjalani hidup yang bermanfa’at dan menjunjung tinggi iman tauhid sebagaimana yang akan kita lihat. Pandangan beliau mengenai Sayidina ‘Isa yang bergelar Almasih, bukan kerana didikte oleh doktrin teologis yang diiktirafkan Kekaisaran Rom yang mengatur alam pikiran umat Kristian Najran yang bermukim tidak jauh dari perkampungan Waraqa. Waraqa bukan orang Kristian Najran.

Orang-orang Kristen Najran berpegang kepada Rumusan yang diiktirafkan oleh Kekaisaran Rom. Waraqa merasa tidak nak didikte oleh Kaisar Rom. Waraqa takzim kepada Sayidina ‘Isa Almasih bukan kerana didikte oleh Kekaisaran Rom. Waraqa tidak berpegang kepada Rumusan atau Dalil tersebut. Yang diyakini Waraqa jelas tidak sama dengan Rumusan Keyakinan yang biasa dipegang oleh mayoritas orang-orang Kristian yang diiktirafkan Kaisar Rom ketika itu. Ketika itu, orang-orang Kristian seringkali terlibat dalam pertengkaran politik bertengkar perkara dalil dan rumusan-rumusan pengungkapan Tauhid.

Ketika itu, masyarakat HIJRAH tersebut sangat bersifat majemuk atau bersifat heterogen kerana di Mekah ketika itu banyak sekali pengungsi-pengungsi dari mana-mana, bukan hanya dari Tanah Suci Baitul Muqadas Yerusalem sahaja, tapi dari mana-mana. Ada puak-puak yang mengamalkan ritual khatan. Dan ada pula puak-puak yang tidak terikat dengan ritual khatan. Ketika itu puak-puak yang tidak berkhatan jauh lebih berpengaruh dalam masyarakat.

Berbeza dengan leluhur mereka dahulu yang sangat asli ke-Bani Isra’il-annya(1) yang dahulu bermukim dan berkiblat ke Tanah Suci Al-Quds atau Yerusalem atau yang juga dikenal sebagai Al-Aqsa, Waraqa dan orang-orang yang beralam pikiran nashara di Mekah ketika itu menjunjung tinggi ‘Isa sebagai Almasih(2) yang dijanjikan dan ditetapkan Allah SWT untuk membunuh almasih Dajjal sumber segala fitnah, sedangkan orang-orang Bani Isra’il di Yerusalem, sama sekali tidak memercayai bahawa ‘Isa itu Nabi.

(1) Isra’il adalah nama yang diberikan Allah kepada Nabi Ya’qub. Bani Isra’il berarti keturunan Nabi Ya’qub. Isra’il adalah nama yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Ya’qub alaihissalam yang ertinya ”berjuang demi mendapat pahala dari Allah” karena Nabi Ya’qub tetap beriman kepada Allah saat ujian berat menimpa beliau. Nabi Ya’qub mempunyai 4 istri, 12 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Nama anak-anak Nabi Ya’qub alaihissalam tersebut adalah sebagai berikut Roubin, Syam’un, Yahuda, Lawiy, Yassakir, Zabulun, Dan, Naftali, Jad, Asyiro, Yusuf, Benyamin, Dinah. Nabi Yusuf alaihissalam adalah salah satu putera Nabi Ya’qub alaihissalam. Mereka beranak cucu. Orang-orang yang masih secara nasab keturunan Nabi Ya’qub alaihissalam disebut Bani Ya’qub atau Bani Isra’il. Anak cucu keturunan Yahuda seringkali disebut Yahudi. Sebagaian besar nabi-nabi Allah berasal dari nasab Bani Ya’qub alaihissalam. Nabi Musa alaihissalam, Nabi Harun alaihissalam, Nabi Dawud alaihissalam, Nabi Sulaiman alaihissalam, Nabi Zakaria alaihissalam, Nabi Yahya alaihissalam, Nabi ‘Isa alaihissalam secara nasab adalah keturunan Nabi Ya’qub alaihissalam. Nabi Ya’qub alaihissalam merupakan orang tua yang sangat berpengaruh di Tahun 2006 Sebelum Masehi sampai 1859 Sebelum Masehi. Bahkan Fira’un yang berkuasa di Kerajaan Mesir ketika itu sangat ta’zim kepada Nabi Ya’qub alaihissalam karena beliau adalah bapak dari Nabi Yusuf alaihissalam yang menjadi perdana menteri di Kerajaan Mesir ketika itu. Nabi Ya’qub wafat di Mesir di tahun 1859 Sebelum Masehi. Pemakamannya dilakukan dengan penuh penghormatan oleh rakyat Mesir ketika itu.

(2) Almasih artinya pemimpin yang sudah ditetapkan Allah untuk mengangkat derajat insan-insan yang penuh penderitaan akibat fitnah-fitnah Dajjal.

Ketika Waraqa menjalani hidup yang manfa’at dengan alam pikiran nashara, tidak seperti orang-orang di Yerusalem, Waraqa bin Nawfal meyakini bahwa ‘Isa itu Nabi. Pengungkapan ketakdziman dan ketawadu’annya Waraqa bin Nawfal kepada Sayidina ‘Isa jelas bukan kerana didikte dan disuruh Kekaisanan Rom yang mengiktirafkan pengungkapan ketakziman dan ketawadu’an kepada Sayidina ‘Isa yang termaktub dalam Rumusan atau Dalil – yang dipegang oleh mayoritas orang-orang yang takdzim kepada Sayidina ‘Isa ketika itu.

Manuskrip-manuskrip sejarah Islam mengungkap bahawa dalam area Jazirah Arab di Arab Tengah terdapat beberapa suku-suku Arab yang menganut keyakinan nashara tersebut. Di antara mereka, terdapat beberapa orang yang menjunjung tinggi alam pikiran nashara. Beberapa dari mereka adalah orang-orang suku Quraysh. Salah satu dari mereka adalah Abdul Uzzah, putera Qushay. Sejarawan al-Yaqubi bahkan menyebut fakta tersebut dengan menulis sebagai berikut,

“di antara orang-orang di Tanah Arab yang memeluk dengan haqul yaqin kearifan alam pikiran nashara tersebut, adalah suatu kelompok Quraysh, yaitu dari keturunan Assad, yaitu putra Abdul Uzzah, dan Waraqa, putera Nawfal, putera Assad.”

(Al-Yaqubi, Tarikh, vol. I).

Sejarawan yang sama juga menjelaskan keadaan diniyah dari orang Mekah yang bukan Kristian yang diiktirafkan Kekaisaran Rom tersebut. “Mengenai perkara diniyah, orang-orang Arab di Mekah ketika itu terbagi menjadi dua kelompok, yakni al-Hums (orang-orang alim- dan al-Hillah (orang-orang yang masa bodoh, acuh tak acuh atau jahiliyah dengan perkara-perkara diniyah). Kaum Quraysh termasuk dalam kelompok pertama. (Al-Ya’qubi, hal. 256.) Al-Yaqubi kemudian menjelaskan amalan-amalan diniyah bangsa Arab terkait suku Quraysh.

“Umumnya Bani Quraysh dan keturunan Mu’ad, putra Adnan pada khususnya, mengikuti dan menjalankan ajaran dan amalan-amalan yang dicontohkan Nabi Ibrahim, semacam melakukan ziarah, membangun tempat tempat untuk menjauh dari keramaian semacam gua-gua untuk ber-tahanush atau merenung, menyampaikan khotbah pada orang-orang asing, menghormati bulan-bulan suci, menyerukan untuk menjauhi maksiat dan menghukum pelaku-pelaku jenayah atau kejahatan. Mereka selalu berlaku seakan-akan mereka adalah tuan rumah dari tempat-tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut.”

(Al-Ya;qubi, hal. 254).

Sejarawan lain yaitu Al-Azraqi (meninggal pada 837 Sesudah Masehi), mempelajari bukti adanya haikal atau tempat ibadah orang-orang yang beralam pikiran nashara dalam suku Quraysh dengan mencatat temuan penggalian-penggalian antropologis. Al-Azraqi mencatat,

“Di dalam Al-Kaabah terdapat gambar-gambar, pepohonan, dan para malaikat. Ketika itu, di situ terdapat gambar Nabi Ibrahim, dan gambar Nabi Isa putra Maryam, dan gambar para malaikat.”

Setelah penaklukan Mekah pada 632 Sesudah Masehi, Nabi Muhammad kemudian memasuki tempat ibadah tersebut. Beliau mengutus Al-Fadl, putera al-Abbas putera ‘Abdul Muttalib, untuk mengambil air dari mata air Zamzam. Rasulullah meminta sepotong kain yang kasar serta memerintahkan kain kasar tersebut dibasahi dalam air Zamzam untuk menghapus semua gambar-gambar tersebut.

Namun, Nabi Muhammad kemudian meletakkan tangannya di atas gambar ‘Isa putra Maryam, dan berkata,

“Hapuslah semua gambar-gambar ini kecuali yang ada di bawah tanganku.”

(Al-Azraqi, Akhbar Makkah, vol. I, hal. 165.)

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini