Tahanush di Bulan Ramadan di Gua Hira, Jabal al-Noor

Disebutkan di dalam kitab-kitab yang bersanad jelas semacam …

  • Sīrah an-Nabawwiyah oleh Ibn Ishaq, dan
  • Siratun Nabi oleh Ibn Hisham, dan juga
  • Hadis al-Bukhari dan Muslim

… yang sanadnya jelas dan sahih, bahawa Waraqa bin Naufal, paman Muhammad dan Khadijah, yang hafizh Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani/Suryani, dialah yang berlaku sebagai penghulu yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah.

Sejak peristiwa pernikahan itu jalan hidup Muhammad bergantung sepenuhnya pada Khadijah dan begitu pula sebaliknya. Kehendak Waraqa dalam menikahkan Muhammad dan Khadijah akhirnya membawa manfaat dan kemaslahatan orang ramai. Sejumlah persoalan boleh terselesaikan oleh kerana rencana pernikahan yang diajukan Waraqa. Waraqa menggunakan semua pengalaman beliau untuk Muhammad dan menunjukkan kepada Muhammad masa depan yang menjanjikan untuk kemaslahatan orang ramai. Sedangkan dari sisi istrinya, Khadijah, perempuan paling kaya di Quraysh, menggunakan kemampuannya untuk mewujudkan apa yang dikehendaki sepupunya yaitu Waraqa.

Waraqa dan Khadijah bekerjasama dengan satu semangat yaitu untuk menyiapkan Muhammad demi memastikan keberlanjutan menegakkan iman tauhid untuk tetap selalu “YAA ILAHI” atau “YAA RAHMAN.” Disebutkan di Qur’an Surah Al-Isra [17]:110 yang ertinya …

“Katakanlah,’Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asma-ul Husna (nama-nama yang terbaik).”

Hal ini menuntut perwalian terus-menerus dengan penekanan khusus pada hal diniyah hanif. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendiri International Islamic University Malaysia, ‘diin’ adalah satu akar dengan ‘daa’in’ yang juga bererti …

  • berhutang
  • berhutang kepada Allah
  • berhutang kepada orangtua
  • berhutang kepada diri sendiri
  • berhutang kepada umat manusia
  • berhutang kepada haiwan walau seekor kucing atau semut sekalipun
  • berhutang kepada apapun dan siapapun’.

Hanif  bererti ‘lurus’. Itu semua adalah mengenai alam pikir atau perasaan atau akhlaq. Itu bukanlah bahan untuk dijadikan perbantahan. Diin bukanlah masalah perbantahan parti-parti dan gang-gang, kerana apapun,  ketika dianya menjadi parti dan geng hanyalah menimbulkan exclusivimisme yang suka saling berbantah-bantahan sahaja. Orang-orang mu’min di Jazirah Arab bagian Utara  biasa menyebut YAA RAHMAN, sedangkan orang-orang mu’min di Jazirah Arab bagian Selatan biasa menyebut YAA ALLAH.

Macam mana mempersatukan mereka? Langkah pertama yang diambil Muhammad adalah ber-tahanush atau menyepi ke Gua Hira. Tahanush adalah amalan pengungsi-pengungsi Quraysh yang beralam pikir nashara hanif. Dalam tahanush di Gua Hira, seperti saudara-saudaranya yang beralam pikir nashara hanif, Muhammad sudah biasa bertafakhur dan bertirakat. Kakek beliau biasa mengunjungi tempat itu dengan rekan-rekan Quraysh-nya yang senafas dalam paradigma orang-orang berhijrah nashara fakir terzalimi atau ebionit. Alam pikir nashara fakir tidak lain adalah alam pikir nashara hanif.  Dalam Bahasa Ibrani dan Suryani, ebionit bererti ‘fakir’.

Lihat Kitabullah Zabur 69:34 dalam Bahasa Ibrani/Suryani,

‘ki shomea’ ‘evyonim yhwh ‘et ‘asira lo’ vasa’

yang ertinya,

“Sesungguhnya Allah mendengarkan orang-orang fakir, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya yang dalam tahanan”  

Secara bahasa, ebionit adalah sebuah kata dalam Bahasa Ibrani/Suryani “ebion” (אביון) yang bererti ‘fakir’.

Jadi ebionit bukanlah nama parti atau nama kelompok atau nama sekte dan bukan nama mazhab. ebionit adalah kata yang bererti ‘fakir’. Jadi siapa saja yang fakir boleh disebut ebionit. Nabiullah Isa a.s. berkata bahawa sungguh diberkati barangsiapa yang fakir, kerana orang-orang fakirlah ahli Jannah. Kitabullah Injil dalam Bahasa Ibrani/Suryani Surah Matta 5:3 dan Surah Luqa 6:20 menyatakan bahawa sungguh diberkati barangsiapa yang ebion   אביון, kerana ebion  אביון lah ahli Jannah Allah. Dalam Bahasa Ibrani/Suryani, ebion bererti ‘fakir’, ‘daif’, ‘papa’, ‘melarat’.

Jannah adalah Islami. Syurga adalah Hindu. Di dalam Hindu, ada konsep Swarga Loka di mana manusia boleh mendapatkan apa sahaja yang dikehendaki manusia. Jannah memiliki akar kata yang sama dengan janin. Berada di Jannah adalah bagaikan bayi berada di dalam janin ibunya di mana bayi itu bergantung bulat-bulat pada reda Allah dan kehendak Allah bukan bergantung pada nafsu manusia.

Gua Hira pada zaman dahulu adalah tempat berkumpulnya orang-orang fakir yang berpuasa. Tempat berkumpulnya orang-orang ebionit berpuasa. Itulah Gua Hira’ pada zaman dahulu. Di Gua Hira,  ketika buka puasa, burung-burung liar pun datang turut makan satu piring dengan Abdul Mutalib, kakek Muhammad. Waraqa dan Muhammad menyepi ke Gua Hira di mana mereka akan melewatkan waktu satu bulan setiap tahun yakni pada bulan puasa Ramadan selama jangka waktu lima belas tahun.

Dalam ber-tahanush di gua Hira inilah atau yang disebut juga sebagai khalwah, Waraqa, seorang yang hafiz Injil dalam Bahasa Ibrani/Suryani yang ahli dalam ilmu yang kelihatan dan ilmu yang tidak kelihatan, meninggalkan teladan dan contoh-contoh serta amalan-amalan yang saleh bagi Muhammad. Waraqa, ahli kitab yang dalam salasilah Muhammad adalah paman Muhammad itu sangat mengenal Muhammad seperti mengenal anak kandung sendiri bahkan melebihi.

Allah berfirman di Quran Surah Al Baqarah [2]:146, Surah Al An’am [6]:20

Ertinya:

Orang-orang yang telah Kami beri al-Kitab mengenali Muhammad seperti mereka mengenali anak-anak mereka sendiri.

 Kegiatan ber-tahanush macam ini tidaklah asing bagi Muhammad. Muhammad mengenal tahanush sejak masa kecil dan masa mudanya menurut pengamatan kerabat dekatnya. Ibu angkatnya, Halima Sa’diah, melaporkan:

“Waktu dalam masa pertumbuhan terkadang Muhammad keluar dengan kawan-kawan sebayanya. Tapi begitu mereka mulai bermain, ia meninggalkan kawan-kawannya tersebut dan menuju tempat yang sunyi. Waktu ia mulai merasa pentingnya perjuangan menegakkan ketauhidan kepada Allah, cintanya untuk tahanush atau khalwah semakin meningkat. Bagi Muhammad, tirakat tahanush ini membebaskan hati dan jiwa dari semua daya tarik duniawi dan hingar bingar kehidupan. Di dalam gua Hira, Muhammad menikmati kehadiran ilahi.” Halima mengisahkan lebih lanjut: “Waktu dalam tahanush atau khalwah, cahaya ilmu menyinari gua yang gelap. Tak ada yang lebih penting baginya selain bertahanush menyendiri. Ia biasanya melakukannya di Gua Hira di mana ia bertirakat siang dan malam.”

(Al-Halabiyya, hal. 257, 260.)

Kelak di kemudian hari, Aisyah, istri Muhammad, berbicara mengenai amalan tahanush Muhammad tersebut.

“Muhammad adalah seseorang yang sangat bertaqwa. Ia menyepi di Gua Hira untuk bertahanush . Ia pulang ke keluarganya. Ia kembali ke Khadijah untuk mengambil perbekalan.”

(Muslim, Sahih, Vol. I, hal. 78, 79; al-Bukhari, Sahih, Vol. I, hal. 39; Ibn Sa’d, hal. 194.)

Saat Khadijah masih hidup, Khadijah sungguh bangga memiliki suami yang khusu’ dalam ber-tahanush di dalam gua tersebut.

“Tuhan Allah mengaruniainya dengan cinta tahanush di mana hati boleh dibebaskan dari seluruh urusan duniawi.”

(Ibn Hisham, hal. 216; al-Halabiyya, hal. 258.)

Bagaimanapun juga Muhammad tidak akan menikmati pemurnian jiwanya seandainya ia tidak bertemu dengan orang-orang yang menjalani tahanush secara khusu’ sebelumnya. Ber-tahanush di dalam gua itu adalah contoh yang diteladankan oleh kakeknya Abdul Muttalib dan rekan dekatnya yaitu, Waraqa, Sang Ra’is Aam. (Al-Halabiyya, hal. 259.)

Muhammad mengikuti contoh yang mereka berikan dan menyiapkan kehidupannya untuk perjuangan menegakkan iman tauhid kepada Allah di masyarakat Quraysh.

Di antara para penulis riwayat Muhammad yang mencantumkan ritus ibadah tahanush di dalam gua sebagai situsnya adalah Al-Ya’qubi, yang menurut catatan Ibn Hisham,

“Muhammad berdiam di Gua Hira’ selama satu bulan setiap tahunnya. Begitu pula orang-orang Quraysh lainnya di masa Jahiliyah.”

(Ibn Hisham, hal. 218; al-Tabari, Tafsir, Vol. II, hal. 48.)

Seorang perawi lainnya memberikan rincian lebih lanjut …

“Muhammad ber-tahanush berdiam di Gua Hira selama satu bulan tiap tahunnya. Ia memberikan makanan untuk fakir miskin yang datang menemuinya. Pada akhir bulan itu, ia kembali ke Ka’bah sebelum pulang ke rumah. Ia mengelilinginya tujuh kali dan kemudian pulang.”

(Nihayat al-‘Arab, Vol. XVI, hal. 170; Ibn Hisham, hal. 219.)

Apa yang terjadi di gua Hira’ secara spesifik tidak sepenuhnya diketahui. Al-Balquini, sang perawi, yang menafsirkan Hadis Bukhari menyatakan:

“Tak ada yang dicantumkan di Hadis yang kami ketahui mengenai ritus tahanush di dalam gua tersebut.”

(Al-Halabiyya, hal. 259.)

Nabiullah Isa a.s. lebih menekankan amalan-amalan ibadah harusnya dilakukan sedemikian rupa jangan sampai diketahui orang dan dipuji orang, kerana hanya Allah lah yang melihat amalan-amalan kesolehan dan lagi pahala daripada Allah lah yang dicari bukan pujian atau sanjungan manusia. Pujian dan sanjungan dari manusia menyebabkan riya’ dan membatalkan pahala dari Allah dan akhirnya membuat gagal mendapatkan pahala daripada Allah. (Lihat Kitabullah Injil Surah Matta Bab 6). Orang yang berkata dan mengumumkan diri dia fakir atau papa pasti bukanlah fakir. Sama seperti, orang yang berkata dan mengumumkan diri bahwa dia mati pasti tidak mati.

Namun terdapat kemiripan dengan amalan-amalan tirakat yang sudah menjadi kebiasaan insan-insan yang beralam pikiran nashara ebionit dan Kristen Timur pada masa itu.

AMALAN-AMALAN TAHANUSH ATAU MENYEPI ATAU RETREAT

Ber-tahanush atau mengasingkan diri di tempat sunyi berarti meninggalkan hasrat duniawi untuk menghadap Tuhan Allah dengan tangan dan jiwa yang suci. Situs gua Hira adalah ritus menjauhkan diri dari semua persoalan dan kekhawatiran duniawi.

Seseorang yang dikatakan mencari ILAHI selalu dalam kondisi …

“hatinya dibebaskan dari persoalan duniawi dan serta memungkinkan untuk berzikir mengingat Asma Allah . Dalam sepi, cahaya ‘ilmu menerangi dan mencerahkan.”

(Al-Halabiyya, hal. 259.)

Para penganut alam pikir ini akan melewatkan waktu dengan bertirakat, mengungkapkan rasa insyaf, dan mendengarkan khotbah-khotbah mengenai kalam ilahi dalam kitab-kitab Allah. Para pemandu yang cakap seperti Waraqa, Sang Ra’is Aam, memberi contoh dan tauladan yang berkesan pada Muhammad mengenai ibadah tahanush dalam situs dan ritus Gua Hira tersebut.

“Sebelum tibanya masa kenabiannya, Muhammad sudah terbiasa menjalankan amalan tirakat seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Musa serta seperti yang dicontohkan oleh insan-insan yang berpola pikir nashara  hanifiyah di masa itu.”

(Al-Halabiyya, hal. 260.)

Sirah yang sama juga mengatakan,

“Muhammad berlatih berpuasa seperti Nabi Musa dan Nabi Ilyas di Gunung Horeb (Kitab Taurat Keluaran 3:1) serta seperti Nabi ‘Isa dan seperti hawariyyun rahib-rahib yang beralam pikir nashara ebionit yakni takdzim dan tawadu’ kepada Nabi ‘Isa ketika itu di daerah-daerah gurun pasir di Palestina. Muhammad dan lainnya selama berbulan-bulan hanya makan sekali dalam sehari. Mereka memenuhi kebutuhan dengan makan makanan ringan berupa makanan herbal setempat, buah-buahan, susu kambing, roti, dan lalap atau ulam. Niatan untuk makan dibatasi hanya saat lapar saja dan hanya untuk melengkapi kebutuhan-kebutuhan gizi dasar.”

(Al-Halabiyya, hal. 259.)

Hawariyyun adalah sahabat-sahabat dan siapapun yang dengan setia tabi’ atau mengikuti Nabi Isa a.s. (Lihat Qur’an Surah Ali Imran [3]:52-55.)

Amalan tahanush Muhammad mendorongnya mengulurkan tangan kepada fakir miskin.

“Ia memberikan makanan pada fakir miskin yang datang menemuinya.”

(Ibn Ishaq, di Ibn Hisham, hal. 219.)

Burung-burung dan binatang liar pegunungan juga mendapat manfaat dari kebaikan Muhammad tersebut. Karena Muhammad sendiri menderita kemiskinan sejak kanak-kanak, ia belajar bersedekah kepada fakir miskin yang ia temui. Daripada kakeknya yang bernama Abdul Mutalib dan pamannya yang bernama Waraqa, ia belajar beramal dan bermurah hati kepada mereka yang tidak beruntung. Beliau hanya memberi contoh bersedekah, merawat para janda, yatim piatu, musafir. Beliau jarang mengkritik orang-orang yang kaya raya di Mekah ketika itu dan jarang mengkritik orang-orang yang tidak peduli ketika itu.

Bulan puasa Ramadhan sudah menjadi ritual yang sudah lazim sebelum Islam. Sebelum Islam, Ramadhan adalah bulan berpuasa dan beribadah secara khusus. Ramadhan adalah bulan ber-tahanush. Muhammad menghabiskan bulan Ramadhan di Gua Hira dimana dia bertirakat kepada Sang Ilahi dan mendengar Kitab-kitab Allah di-iqra’-kan, di-tartil- kan dan di-imla’-kan. Bahkan sebelum pengenalan hukum-hukum Al-Quran, Ramadhan merupakan bulan puasa bagi kaum mukmin yang sudah sewajarnya ketika itu beralam pikir nashara ebionit, sebagaimana dicantumkan dalam Al-Qur’an.

“Wahai orang-orang mukmin! Berpuasalah kamu sebagaimana orang-orang sebelum kamu.”

QS Al Baqarah [2]:183.

Saat di akhir bulan puasa, Muhammad turun dari Gua Hira. Seperti yang sudah lazim ketika itu dilakukan insan-insan mukmin yang beralam pikir nashara ebionit ketika itu, beliau pertama-tama mendatangi Ka’bah untuk mengucap syukur dan kemudian beliau menikmati hidangan-hidangan hari raya yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan.

Menurut para perawi, di akhir bulan Ramadan, Muhammad kembali dari Gua Hira, lalu mengelilingi Ka’bah tujuh kali. (Ibn Hisham, hal. 219; al-Halabiyya, hal. 260.)

Seperti yang sudah lazim ketika itu, insan-insan nashara Katholik Roma yang takdzim dan tawadu’ kepada Sayidina ‘Isa menjalani amalan puasa Pra-Fashillah atau Pra-Paskah atau Lent memeringatinya dengan mengelilingi situs suci yaitu Ka’bah tujuh kali pada hari raya Ahad Daun Kurma yang dulu-dulunya sudah sangat lazim diamalkan dengan cara mengelilingi situs suci Ka’bah tersebut 7 kali. Situs dan ritus yang sudah sangat lazim di Timur Tengah ketika itu yang jauh lebih menantang daripada amalan puasa di bulan Ramadhan terus dirawat dan dijaga dan dilestarikan dan dikekalkan oleh Muhammad.

Semangat beliau dalam melestarikan amalan-amalan yang sudah lazim di Timur Tengah dari zaman ke zaman ini ditandai dengan penglihatan-penglihatan aneh dan bayang-bayang aneh. Seringkali anggota badannya gemetar dan wajahnya tegang bersimbah keringat. Terkadang ia jatuh tak sadar dan kemudian tertidur lelap. Malam harinya ia menggigau. Ia seringkali meminta tolong istrinya untuk menyelimutinya agar rasa takutnya berkurang.

Dalam kondisi menggigau, ia melihat bayangan-bayangan dan mimpi-mimpi mengerikan. Khadijah merawat suaminya dengan tenang dan berlimpah kasih sayang. Khadijah selalu mendatangi sepupunya, Waraqa, untuk meminta bantuan selama masa-masa ruwet, sukar dan pelik ini.

Mengenai kondisi kesehatan Muhammad saat ia menerima wahyu, lihat sumber-sumber berikut:

  • Ibn Hisham, Vol. 1, hal. 221
  • Al-Bukhari, Vol. I, hal. 23, 31
  • Muslim, Vol. I, hal. 98
  • Ibn Sa’d, Vol. I, hal. 198
  • Al-Halabiyya, Vol. I, hal. 267
  • Al-Makkiyya, Vol. I, hal. 183 (tema ini dibahas dalam sejumlah tulisan lainnya pula)

Waraqa berkata bahawa Muhammad sebenarnya mengalami kuasa daripada Yang Maha Kuasa yang memberi NAMUS (Taurat) kepada Nabi Musa. (Hadis sahih Bukhari.)

Itulah riwayat Muhammad yang tidak boleh dipisahkan dari keluarga besarnya yang beralam pikiran nashara ebionit yang beriman dan ber-islam atau berserah diri bulat-bulat kepada Ilahi.

Pangeran Hassan bin Talal dari Kerajaan Hasyimiyah Yordania yang merupakan generasi ke-43 Nabi Muhammad, dalam kitabnya yang bertajuk,

“Christianity in the Arab World”

dan juga Imam Katolik, Hans Küng, dalam kitabnya yang bertajuk,

“Islam: Past, Present & Future”

menyebutkan bahawa sesungguhnya beralam pikir nashara ebionit adalah alam pikir muslim awal yang terus dilestarikan atau dikekalkan sampai sekarang. Sekarang alam pikir itu disebut Islam (Berserah diri bulat-bulat kepada Allah). Alam pikir yang luas dan berkhazanah.

Akhirulkalam, Ramadan Mubarak.

Ya Ilahi, habislah harta yang dalam khazanah patik, patik sekalian sedekahkan kepada segala fakir miskin.

Fakir yang berpuasa. Fakir yang mensedekahkan satu-satunya yang dimilikinya.

Itulah hakekat puasa Ramadan sejak dari awal dari zaman ke zaman.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini