Tawakal: Wakilkan pada Al-Wakil

Sejak sebelum Nabi Adam a.s. dan keturunan beliau diadakan, ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka sebagai khalifah dari Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang sudah ditetapkan oleh Allah SWT Yang Maha Pemurah. QS Al-Baqarah [2]:30.

Khalifah  خليفة  secara harfiyah bermakna “pengganti” atau “wakil.” Manusia digelar sebagai khalifah Allah. Tengok, malaikat pun pelik memikirkan bagaimana perkara itu boleh berlaku!

Dalam perjalanannya, karena nafsu binatang dan nafsu syaitan dan fitnah Dajjal, nafsu-nafsi; raja di mata, sultan di hati, karena sebab kejinya fitnah nafsu-nafsi itulah, sebagaian besar manusia menjadi gagal dan tidak berjaya secara terus-menerus dalam bersifat pemurah dan penyayang kepada sebarang orang serta makhluk tanpa pandang bulu kapan sahaja dan di mana sahaja dan dalam keadaan apa sahaja.

Manusia memang bersifat pemurah dan penyayang namun sayang manusia memandang bulu. Alhasil, tingkah laku gera geri yang ganjil-ganjil dari putera-puteri kita muncul di keluarga dan akhirnya di khalayak ramai. Manusia memang boleh mampu jauh pandangan, namun manusia tak sanggup sabar-sabar tanah. Semua manusia merintih mengerang kesakitan dan akhirnya menyimpulkan bahwa kesabaran ada batasnya. Alhasil, manusia membuat kerosakan dan menumpahkan darah.

Dalam perjalanannya, sudah pasti bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah atau wakil Allah, bahkan hal sebaliknyalah yang benar, yaitu Allah Yang Maha Pemurah sebagai khalifah dan wakil. Semaklah beberapa firman berikut ini …

  • QS Ali Imran [3]:173 … “Cukuplah Allah menjadi Wakil (Penolong) kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
  • QS Hud [11]:12 … “Dan Allah Maha Mewakili segala sesuatu.”
  • QS At-Thalaq [65]:3 … “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”
  • QS An-Nisa’ [4]:81 – “Dan cukuplah Allah sebagai Wakil.”

Jadi, mau tidak mau manusia haruslah tawakal. Perkataan tawakal berasal dari nama Allah, Al-Wakil.

Al-Wakil apa maknanya?

Allah Maha Pentadbir. Al-Wakil termasuk asmaul husna Allah yang bermakna bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan dan tidak akan menimpakan kemudharatan. Tawakal, beberapa ulama mentafsir, adalah ibarat pasrahnya mayat di hadapan orang yang memandikannya.

Begitulah tawakal. Tidak ada pilihan lain selain kita menadahkan tangan kita kepada Allah sambil mengharapkan belas kasihan dari Allah Yang Maha Pemurah,

“Semua yang Kau kehendaki, lakukanlah, Ya Allah. Dengan seluruh keberadaanku, aku pasrah kepadaMu, Ya Allah. Ya, Allah, aku redha dengan apa yang Kau lakukan, karena aku yakin Kau tidak akan menjerumuskanku menuju kemudharatan. Ya, Allah, apa sahaja yang datang dariMu aku senang menerimanya, aku yakin Engkau tidak akan menelantarkanku dalam kemudharatan.”

Allah masih menerbitkan matahari setiap hari dan masih menurunkan hujan agar menjadi manfa’at kepada manusia tanpa pandang bulu dan prestasi. Itulah bukti dan tanda bahwa Allah masih menggantikan manusia.

Kepada Maryam yang bertanya kepada Allah,

“Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang lelaki pun?” Allah berfirman, “Kun fayakuun apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka hanya cukup Allah berkata kepadanya: Jadilah, lalu jadilah ia.” QS Ali ‘Imran [3]:47.

Jadilah Nabi Isa a.s. ditetapkan Allah untuk diwafatkan, dan dibangkitkan hidup kembali, diangkat kepada Allah …

Rasulullah s.a.w. bersabda sebagaimana yang disebutkan dalam sahihain bahwa Allah membinasakan Almasih Dajjal dengan Almasih ‘Isa yang adalah ketetapan Allah dalam menggantikan manusia dan menjadi pelindung dan manfa’at kepada manusia.

HR Ahmad 877, 880, HR Bukhari 873, 876.

Semoga tidak terulang lagi kenyataan bahwa Bahtera Nabi Nuh lebih dipenuhi oleh binatang, bukan dipenuhi oleh manusia. Tidak ada pilihan manusia berbalik kepada Al-Wakil untuk menjadi wakil daripada Al-Wakil. Menjadi khalifah dari Sang Khalifah. Menjadi pemurah bukan pamarah.

Dalam hadis mengenai doa bepergian, Nabi shalallahu waalaihi wa sallam bersabda,

”Ya Allah, Engkaulah yang menyertai perjalanan dan yang menggantikan dalam mengurus keluarga (yang ditinggalkan).”

Ibaratnya, kasih bapa sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalan. Allah lah yang maha menggantikan manusia walau Allah sudah mengetahui bahwa manusia dalam keadaan yang penuh dengan kedaifan dan lupa dan khilaf serta nifak.

Wallahu ‘alam bishshawab.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini