Wahai Umat Islam, Mari Kita Kembali Zaman Keemasanmu

Kita umat Islam boleh meraih zaman keemasan itu lagi, tapi masalahnya, umat muslim sekarang tidak bersatu dan selalu terikat dan teringat akan kepahitan-kepahitan di masa lalu.

Kita umat Islam perlu melihat prestasi gemilang pendahulu kita di Zaman Keemasan Islam di masa lampau itu untuk kita jadikan pemicu semangat kita dalam menjalani hidup kita di masa kini dan untuk berusaha membuat masa depan jauh lebih baik dan gemilang guna ibadah untuk memuliakan Allah SWT.

Dalam satu hadis disebutkan menurut riwayat lain, bahawa Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah s.a.w. telah menyuruh aku belajar Bahasa Ibrani dan Bahasa Suryani. Berkata Syekh al-Bani, hadis ini Hasan Shahih (Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmizy, tt: 67).

Imam Ghazali (1058-1111 M) mengatakan bahawa pengetahuan seseorang yang tidak pernah belajar logika – salah satu cabang filsafat – adalah tidak boleh diandalkan (Nurchalis Madjid, 1985: 47). Logika dan theologi dan filsafat dan adalah ciri khas orang-orang saleh Yahudi dan Nasrani.

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:

الصِينَ وَلَوْبِالْعِلْمَاُطْلُبُو

Utlubu Ilma walau bi shina.

Carilah ilmu walau dengan China.

اللَحْدِ إِلَىالْـــمَهْدِمِنَالْعِلْمَاُطْلُبُو

Uthlubul’ilma minalmahdi ilallahdi.

Carilah ilmu sejak masih bayi di gendongan ibu sampai nanti di liang lahat.

Jadi sebagai pengikut Rasulullah s.a.w., kita harus dipenuhi dengan semangat mencari ilmu walaupun dengan China sekalipun. Kerana kita beriman kepada Allah SWT Yang Maha Memberi Obat atas segala hal yang melukai kita baik lahir maupun bathin. Jadi oleh kerana Allah SWT Yang Maha Memberi Obat atas segala luka, kita sudah sehat oleh kerana Nya dan kita tidak mau terus mengaung-ngaung berteriak kesakitan dan merintih-rintih lemah dan tak berdaya. Dengan perlindungan Allah, kita harus buktikan bahawa kita umat Islam adalah umat yang rahmatan lil alamin yang menjadi solusi bagi problem kemanusiaan di dunia ini bukan malah mengemis solusi pada orang-orang kafir yang tidak takut pada Allah SWT. Kenapa kita harus mengemis pada orang padahal didepan mata kita sebenarnya ada solusi. Kita harus jadi bagian dari solution bukan bagian dari ilussion dan angan-angan belaka. Kita harus meringankan beban, bukan malah membebani. Iman tanpa amalan adalah tidak manfa’at sama sekali.

Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad menjadi patron besar dalam ilmu pengetahuan dan menjemput para ahli dan cendekiawan ke istana, tanpa menghiraukan kebangsaan atau agama mereka. Ciri-khas aktifitas intelektual berpikir mencari akal yang unik selama periode Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu adalah pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak hanya terbatas di kalangan para imam dan tidak hanya terbatas di kalangan alim dan paderi sahaja.

Demikian pula, ilmu pengetahuan tidak menjadi hak istimewa para raja. Pendidikan yang diperuntukkan pada pengolahan kebenaran dan pengetahuan tetap dapat dimasuki oleh semua orang dari semua tingkatan sosial yang berbeza dalam masyarakat Islam.

Dalam hal inilah penghargaan patut diberikan bagi sikap penguasa muslim di Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu, yakni: mereka bersikap terbuka terhadap seluruh masyarakat tanpa pandang bulu.

Sekitar tahun 772 M, istana Khalifah al-Mansur dikunjungi oleh seorang insan non-Arab yang adalah cendikiawan Ilmu Falak bersahaja yang agamanya bukan Agama Islam dari India. Cendikiawan Hindu India tersebut menghadiahkan sebuah tabel Astronomi atau tabel ilmu Falak. Langsung semenjak itulah, ilmu Falak atau Ilmu Astronomi mulai bergejolak dikembangkan dan didalami oleh insan-insan Muslim di Zaman Keemasan Islam tersebut. Sampai sekarang, insan-insan Muslim banyak yang mendalami ilmu Falak dalam rangka kehidupan yang beribadah hanya kepada Allah SWT sahaja.

Umat Islam sesungguhnya hari ini masih sangat boleh meraih peradabannya lagi, seperti sedia kala, kerana faktor-faktor menuju ke sana masih ada, seperti di Indonesia, sudah banyak sekali buku-buku yang telah diterjemahkan dari berbagai bahasa, dan dalam semua bidang.

Termasuk sudah banyak tafsir atau terjemahan yang shahih dari Kitab Allah At Taurat, Az Zabur, dan Al Injil.

Allah SWT Yang Maha Adil dan Perkasa menjadi pelindung kita. Apalagi salah satu dari enam Rukun Iman adalah beriman pada seluruh kitab-kitab Allah, At Taurat, Az Zabur, Al Injil dan Al Qur’an. Beriman tanpa mengamalkan tidak lah mungkin dalam diniyah.

Kalau sungguh-sungguh diamalkan, maka, tak menutup kemungkinan jika suatu masa nanti bangsa-bangsa Islam akan menjadi perintis peradaban Islam di dunia. Walaupun umat Islam sudah sangat tertinggal jauh dari peradaban Barat, tapi peluang Islam untuk meraih peradabannya sangat berpotensi, kerana Alquran sendiri selalu memotivasi kita untuk selalu belajar dan belajar. Hal itu ditunjukkan dengan salah satu ayatnya yang berbunyi,

96|1 اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

IQRO’ BISMIROBBIKALLADZIKHOLAQ.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.

(Kitab Al Qur’an Surah Al-Alaq [96], ayat 1.)

Dengan ayat itu sebenarnya umat Islam selalu mempunyai semangat untuk selalu maju dan meraih peradabannya kembali.

Salah satu hal yang paling signifikan dalam Zaman Keemasan Islam pada zaman dahulu adalah ilmu pengetahuan, di mana pada waktu itu semua ilmu pengetahuan telah dikuasai dengan baik, di antaranya dalam hal logika, sains, filsafat, kedokteran, maupun sastra.

Dengan pertolongan Allah SWT, umat muslim, insya’ Allah, boleh jadi menjadi penemu obat penyakit HIV AIDS yang banyak diidap oleh orang-orang di dunia termasuk diidap oleh banyak orang-orang Muslim di negara-negara Islam. HIV AIDS sampai sekarang tidak ada ubatnya.

Apakah solusi untuk DADAH? Jangan hanya boleh menghukum orang orang yang kecanduan DADAH, namun berilah solusi, insya’ Allah, umat muslim boleh memberi solusi pada masalah kemanusiaan ini apabila beriman dan juga mengamalkan rukun iman khususnya beriman dan mengamalkan semua kitab-kitab Allah At Taurat, Az Zabur, Al Injil dan Al Qur’an.

Faktor-faktor yang membuat Zaman Keemasan Islam Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Di antara faktor-faktor intern adalah,

  • Pertama, adanya persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah, terutama Bangsa Arab, Bangsa Persia dan Bangsa Turki.
  • Kedua, terjadinya perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada, yang berkembang menjadi pertumpahan darah.
  • Ketiga, munculnya kesultanan-kesultanan kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan.
  • Keempat, terjadinya kemerosotan tingkat perekonomian sebagai akibat dari bentrokan politik.

Sedangkan faktor-faktor ekstern yang terjadi adalah, pertama, berlangsungnya Perang Salib yang berkepanjangan dalam beberapa gelombang. Dan yang paling menentukan adalah faktor kedua yaitu, adanya serbuan tentara Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan, yang berhasil menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu, yaitu perpustakaan di Baghdad dan membakarnya habis.

Kerana kita insan-insan Muslim beriman kepada Allah SWT Al Muhyi Yang Maha Menghidupkan bahawa Allah SWT pasti mampu menyembuhkan memberi ’obat’ atas segala hal yang melukai kita baik lahir maupun bathin. Jadi oleh kerana Allah SWT Yang Maha Memberi Obat atas segala luka, kita sudah sehat oleh kerana Nya dan kita sudah tidak terus-menerus mengaung-ngaung kesakitan dan merintih-rintih lemah dan tak berdaya. Dengan perlindungan Allah, kita harus buktikan bahawa kita umat Muslim adalah umat yang rahmatan lil alamin yang menjadi solusi bagi problem kemanusiaan di dunia ini bukan malah mengemis solusi pada orang-orang kafir yang tidak takut pada Allah SWT.

Kenapa kita harus mengemis pada orang, padahal didepan mata kita sebenarnya ada solusi? Kita harus menjadi kaum yang berusaha bagaimana caranya agar kita boleh menolong diri kita sendiri.

Kita harus jadi manfa’at menjadi solusi, bukan malah melamun berilusi dan berfantasi dalam angan-angan belaka. Kita harus menjadi kaum yang berusaha bagaimana caranya agar kita boleh menolong diri kita sendiri. Kita harus bermanfa’at, bukan malah merugikan.

Iman tanpa amalan adalah tidak manfa’at sama sekali.

Walaupun kejadian pahit tersebut terjadi pada zaman dahulu kala, tapi mengapa bangsa-bangsa Muslim saling berperang terus menerus?

Bolehkah bangsa-bangsa Muslim menjadi rahmatan lil alamin?

Mengapa rasuah mendera bangsa-bangsa Muslim?

Mengapa di negara-negara yang paling banyak penganut Islam, justru menjadi salah satu juara dalam rasuah?

Mengapa kita ahli dalam membajak dan meniru-niru karya orang lain?

Mengapa kita bukan menjadi bangsa penemu yang sangat sabar dan sungguh-sungguh dalam penelitian?

Mengapa bangsa-bangsa Muslim masyarakatnya mengalami kemiskinan padahal oleh Allah diberi kekayaan alam yang melimpah?

Mengapa di negara-negara Muslim justru terlihat perbedaan yang menyolok antara orang kaya dan orang miskin, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin?

Namun ada pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan panjang Daulah Abbasiyah yang selama berabad-abad menguasai dunia yakni agar umat Islam jangan terlena dengan kekuasaan dunia, kerana keterlenaan dan hidup bermegah-megah menyebabkan kita jauh dari ajaran Allah SWT.

Nabi Islam Nabi ‘Isa a.s. dalam Tafsir Tarjamah Kitab Injil Surah Markus 10:25 telah mengingatkan bahawa orang yang terlena dalam kekayaan sangat susah masuk surga, sampai-sampai lebih mudah memasukkan seekor unta ke lobang jarum daripada memasukkan orang yang terlena dalam kekayaannya ke surga.

 مُرُورُ جَمَلٍ مِنْ ثَقْبِ إِبْرَةٍ أَسْهَلُ مِنْ أَنْ يَدْخُلَ غَنِيٌّ إِلَى مَمْلَكَةِ اللهِ!

Muruuru jamalin min tsaqbi ibrotin ashalu min an yadkhula ghoniyun ilaa mamlakatillah.

Allah Maha Adil dan Maha Mengatur. Penderitaan dan ujian yang berat yang dialami bangsa-bangsa Muslim ini boleh menjadi kekuatan ukrowi dan ketabahan batiniah dan kesabaran batiniah yang merupakan pemicu bagi umat Islam untuk kembali bangkit mengalami Zaman Keemasan Islam bukan hanya secara duniawi sahaja namun juga secara akhlak dan ukrowi.

Kita boleh mengalami lagi Zaman Keemasan Islam lagi, apabila salah satu rahasia Zaman Keemasan Islam sungguh-sungguh kita amalkan.

Salah satu rahasia Islam tersebut sudah ada dalam diin Islam yakni enam Rukun Iman. Rahasia tersebut salah satunya adalah beriman dan mengamalkan seluruh kitab-kitab Allah.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini