Wahyu yang Nuzul, Bukan Kitab yang Nuzul

Kitab-Kitab Allah ertinya bukanlah ada Kitab turun langsung dari langit. Yang turun itu adalah wahyu ilahi. Wahyu ilahi pun turunnya tidak langsung sekali jadi namun sedikit demi sedikit. Wahyu ilahi turun dalam jangka waktu yang panjang di dalam peradaban yang berbeza beza:

  • Nabi Musa menyaksikan wahyu ilahi yang Taurati.
  • Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman menyaksikan wahyu ilahi yang Zaburi.
  • Nabi Isa menyaksikan wahyu ilahi yang Injili.
  • Nabi Muhammad menyaksikan wahyu ilahi yang Qur’ani.

Jadi bukanlah kitab yang turun namun wahyu lah yang turun.

Ketika wahyu ilahi turun, bukan dalam wujud kitab yang langsung turun dari langit namun yang ada adalah kebiasaan lisan di mana masyarakat lebih menghafalkan daripada menulis. Yang ada adalah kebiasaan membicarakan wahyu wahyu ilahi dan hafal menghafalkan wahyu wahyu ilahi.

Baru di kemudian hari setelah para nabi, dirasa perlu sekali oleh umat manusia untuk menulis apa yang dihafalkan dan dicontohkan dan diteladankan orang-orang yang bertaqwa.

Jadi kebiasaan membicarakan wahyu wahyu ilahi adalah sangat lazim. Allah memakai kebiasaan yang lazim tersebut untuk menyampaikan wahyu wahyu ilahiNya. Wahyu wahyu ilahi itu diterjemahkan atau ditafsirkan agar boleh difahami oleh manusia. Wahyu wahyu ilahi itu diamalkan dan dipraktekkan dan ditauladani oleh orang-orang yang ditentukan Allah.

Nama Tuhan yang digunakan oleh para nabi-nabi Allah tidak sama. Nabi Musa dan masyarakat Ibrani di zamannya menyebut ELOHIM. Jadi Nabi Musa dan wahyu ilahi lebih banyak berbicara perihal ELOHIM.

Jadi semua nabi-nabi keturunan Isra’il atau keturunan Nabi Ya’qub memanggil ilah mereka ELOHIM. Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakharia, Nabi Yahya dan Nabi Isa memanggil Sang Pencipta itu ELOHIM.

Namun kerana Allah menurunkan wahyu wahyuNya bukan hanya untuk satu bangsa dan satu bahasa sahaja, maka Allah mengizinkan terjemahan agar maknanya boleh difahami oleh berbagai macam kaum dan berbagai macam bahasa yang berbeza-beza.

Al Qur’an ditulis dalam bahasa Arab, jadi ketika menyebut nama ilah yang diutamakan di dalam Torah, Zabur dan Injil, Al Qur’an tidak menggunakan ELOHIM namun menterjemahkan ELOHIM ke Bahasa Arab menjadi ALLAH. Apakah Al Qur’an mengubah-ubah nama ilah yang disembah Nabi-Nabi Bani Isra’il sebelumnya?

Jawabannya adalah TIDAK. Kerana Al Qur’an hanya menterjemahkan ELOHIM menjadi ALLAH.

Nama ilah yang disembah oleh nabi-nabi Bani Isra’il adalah ELOHIM.

Di bawah ini adalah mushaf nama ilah yang disembah oleh nabi-nabi Bani Isra’il:

Mengapa Al Qur’an dalam Bahasa Arab menyatakan bahawa ilah yang disembah nabi-nabi Bani Isra’il adalah ALLAH.

Di bawah ini adalah mushaf nama ilah yang disembah oleh nabi-nabi Bani Isra’il:

Apakah Al Qur’an telah mengubah-ubah Torah, Zabur dan Injil?

TIDAK!

Al Qur’an ditulis dalam bahasa yang bukan bahasa Ibrani jadi Al Qur’an memanfaatkan ilmu terjemahan.

Dalam Zabur, nama bapak Nabi Sulaiman adalah דָּוִד (Dawid), namun Al Qur’an menyatakan bahawa nama bapak Nabi Sulaiman adalah داوود (Daawuud).

Al Qur’an tidak memakai huruf Ibrani namun memakai huruf Arab?

Jadi tak hairan orang-orang pengikut Nabi Isa di peradaban Yunani pun juga menterjemahkan nama ilah di kitab-kitab Allah Taurat, Zabur dan Iniil menjadi THEOS.

Di bawah ini adalah mushaf nama ilah yang disembah oleh nabi-nabi Bani Isra’il:

Apakah para hawariyun pengikut-pengikut setia Nabi Isa di peradaban Yunani dan orang Kristian mengubah-ubah nama ilah di Torah, Zabur dan Injil dari ELOHIM diubah menjadi THEOS?

Sama jawabannya, “TIDAK.”

Para hawariyun pengikut-pengikut setia Nabi Isa itu hanyalah menterjemahkannya agar boleh difahami.

Jadi terjemahan pun adalah alat yang paling baik yang digunakan oleh Tuhan Semesta Alam untuk menyampaikan wahyuNya sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia dari berbagai macam bangsa dan bahasa.

Jadi terjemahan adalah alat untuk menghafizkan wahyu wahyu Allah baik yang Taurati, Zaburi, Injili dan Qurani.

“Dan bagaimana mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat, yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling. sesudah itu (dari putusan mu). dan mereka sungguh-sungguh, bukan orang yang beriman.” QS Al Ma’idah [5]:43.

Jadi janganlah kita mengulangi kemunafikan orang-orang Yahudi boneka Kaisar Rom. Kita harus mempunyai Kitab-Kitab sebelum Qur’an juga dan mengamalkannya kerana mengimani tanpa mengamalkan bererti tidak mengimani.

“Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi, oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah, dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku, dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan, menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” QS Al Ma’idah [5]:44.

Apa yang ada di orang-orang Ahli Kitab yaitu Taurat, Zabur dan Injil baik yang dalam bahasa aslinya mahupun terjemahannya adalah wajib untuk diimani. Iman tanpa amal adalah bukan iman.

Itu kena menyifati orang-orang beriman secara umum baik orang-orang beriman dari kalangan bangsa arab maupun selainnya dari kalangan ahli kitab baik umat manusia dan segala macam semangat. Salah satu sifat ini tidak akan boleh sempurna tanpa ada sifat-sifat yang lainnya. Bahkan masing-masing sifat saling menuntut adanya sifat yang lainnya. Dengan demikian, iman kepada yang ghaib, shalat dan zakat tidak shohih kecuali jika ada keimanan kepada apa yang dibawa oleh rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, juga apa yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya serta keyakinan akan adanya kehidupan akhirat. Dan Allah juga telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memenuhi hal tersebut melalui firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. QS An Nisa [4]:136.

Dan Allah telah menyebutkan tentang orang-orang yang beriman secara umum kesuluruhan yang memenuhi semuanya itu melalui firman-Nya:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya. QS Al-Baqarah [2]:285.

Dan masih banyak ayat-ayat lain yang memerintahkan supaya beriman kepada Allah, rosul-rosul-Nya, dan kitab-kitab-Nya, khususnya orang mukmin dari kalangan ahlu kitab karena mereka beriman kepada apa yang ada di tangan mereka secara terperinci. Maka jika mereka masuk islam dan beriman kepadanya secara terperinci, mereka akan mendapatkan pahala dua kali.