Waraqa bin Nawfal yang Beralam Fikiran Nashara Sudah Mengenal Muhammad Bagaikan Anak Sendiri (Bhg.2/4)

Para perawi Sirah Muhammad menyajikan sejumlah peristiwa selama lima belas tahun pertama kepemimpinan beliau di Mekah. Ada enam kejadian penanda. Enam kejadian tersebut yang diumumkan kepada masyarakat umum. Berikut ini adalah Kejadian ke-3.

Kejadian Ketiga: Awal Perjuangannya dalam menegakkan ketauhidan

Muhammad datang dari Gua Hira di akhir bulan Ramadhan. Ia langsung ke Ka’bah, mengelilinginya tujuh kali seperti yang sudah lazimnya dilakukan orang ketika itu. Saat itu Waraqa juga malakukan yang sama yakni mengelilingi situs suci insan-insan Mekah ketika itu. Ia bertanya pada Muhammad yang tidak lama lagi akan menjadi Nabi, “Wahai sepupuku, katakan apa yang tadi kau lihat dan dengar di Gua Hira?” Muhammad menyampaikan semuanya padanya. Dengan ketenangan seorang ahli dalam ilmu diiniyah, Waraqa, Sang Ra’is Aam menyatakan,

‘Atas nama Ia yang memiliki jiwaku. Engkau adalah nabi kaum ini. Namus atau Syariah Taurat yang agung yang mendatangi Musa kini mendatangimu pula. Jika saya masih hidup pada hari itu, saya akan turut mendukung kemenangan Tuhan Allah.’ Ia menghampirinya dan mencium keningnya. Kemudian Muhammad pulang dengan penuh sejahtera.

Diyakinkan dan direstui seperti itu, itulah yang dicari Muhammad. Restu dari Waraqa adalah bentuk tanda sah yang biasanya diberikan ra’is aam kepada kaum yang beralam fikiran nashara ebionit atau duafa atau fakir miskin apabila merestui sesuatu hal. Waraqa berhasil menemukan seorang yang memastikan keberlanjutan kepemimpinan kaum Quraysh yang beralam fikiran nashara duafa di Mekah.

Selanjutnya apa yang harus dilakukan Muhammad adalah harus tetap haqul yaqin kepada Allah dan harus semakin mantap dalam menjunjung tinggi iman tauhid. Saat itu, Sang Ra’is Aam akhirnya boleh berkata,

“Saya akan pastikan turut mendukung kemenangan ilahi ini.”

Demikianlah sang pemuda mendapatkan apa yang dia butuhkan yakni restu pemimpin kaum Quraysh yang ditandakan dengan kecupan Waraqa ke keningnya. Dengan restu Waraqa, pemimpin Quraysh ketika itu, yang ditandakan dengan Muhammad dikecup di dahinya oleh Waraqa, Muhammad mengumumkan perjuangan beliau dalam menjunjung tinggi iman tauhid yang didukung oleh Al-Quran.

“Hati orang yang beriman kepada Allah ketika itu menjadi tenteram karena mengingat dan menyebut-nyebut kebesaran dan kuasa Allah.”

QS Ar Ra’d [13]:28.

“Allah tidak menjadikannya (pemberian bantuan berupa bala tentara) melainkan sebagai kabar gembira bagi kamu.”

QS Ali ‘Imran [3]:126.

Adanya ikatan kekeluargaan yang kental atau ikatan pertalian darah atau ikatan genetika dan genealogi atau kajian salasilah antara Waraqa dan Muhammad jelas tidak bisa dipungkiri. Waraqa dan Muhammad memang satu nasab. Antara Waraqa dan Muhammad memang ada ikatan darah. Hal inilah yang sungguh menenteramkan hati. Semuanya itu sudah diatur oleh Allah, Tuhan yang Maha Besar. Seluruh keluarga besar Quraysh yang dikenal berparadigma nashara tersebut memberikan dukungan besar bagi Muhammad.

“Allah menurunkan ketenangan-Nya atas dirinya dan mendukungnya dengan bala tentara yang kamu tidak melihatnya.”

QS At Taubah [9]:40.

“Allah menurunkan ketenanganNya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman.”

QS At Taubah [9]:26.

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka (yang telah ada).

QS Al Fatḥ [48]:4.

Sang Ra’is Aam kaum Quraysh, Waraqa, mendapatkan kemenangan, yang adalah nikmat ilahi yang mana melalui kemenangan tersebut muridnya ditetapkan menjadi pemimpin yang melanjutkan penegakan tauhid kepada Allah Yang Maha Esa.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini