Waraqa bin Nawfal yang Beralam Fikiran Nashara Sudah Mengenal Muhammad Bagaikan Anak Sendiri (Bhg.3/4)

Para perawi Sirah Muhammad menyajikan sejumlah peristiwa selama lima belas tahun pertama kepemimpinan beliau di Mekah. Ada enam kejadian penanda. Enam kejadian tersebut yang diumumkan kepada masyarakat umum. Berikut ini adalah Kejadian ke-4.

Kejadian Keempat: Saat Turunnya Wahyu Pertama

Setelah kemenangan yang adalah nikmat ilahi tersebut, Muhammad pergi dengan kawan dekatnya, Abu Bakar, untuk menemui Waraqa. Abu Bakar meminta penjelasan mengenai pengalaman ghaibnya tersebut namun Muhammad menolak menjelaskan alasan, asal-usul, dan makna pengalaman-pengalaman dalam gua tahanush tersebut. Muhammad mengharapkan jawaban-jawaban nya langsung dari Waraqa, Sang Ra’is Aam demi memperoleh panduan yang bermanfaat.

Ketika itu Muhammad berkata,

“Jika saya sendirian, saya boleh mendengar suara dari belakang memanggil-manggil ‘Muhammad! Muhammad!’ kalau sudah begitu, saya kemudian cenderung akan melarikan diri dari suara ghaib tersebut.”

Waraqa kemudian mencoba menenangkan Muhammad dengan memberikannya nasihat untuk meredakan rasa takutnya,

“Jangan melakukan apapun bila engkau mendengar suara itu lagi! Kau harus tetap haqul yaqin kepada Allah dan harus semakin mantap dalam menjunjung tinggi iman tauhid dan coba pahami apa yang akan dikatakan kepada mu, kemudian kembalilah padaku.”

(Al-Halabiyyah, hal. 263.)

Setelah itu Muhammad semakin sering mengalami pengelihatan-pengelihatan yang luar biasa tersebut. Ia kembali pada Waraqa, Ra’is Aam kaumnya tersebut, untuk menanyakan kepada Waraqa penyebab guncangan-guncangan jiwanya tersebut. Al-Qur’an mencatat sejumlah sangkaan-sangkaan orang mengenai pengelihatan-pengelihatan sangat luar biasa tersebut.

Ataukah ilham syair yang ditangkap oleh “seorang penyair yang besar” (QS Ya Sin [36]:69) ataukah dia itu “tukang tenung dan penyair”? (QS At Tur [52]:29,30) yang mengesankan pengalaman-pengalaman ghaib ini sebagai nikmat dari Allah?

Apakah wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya seperti wahyu-wahyu yang diturunkan kepada nabi-nabi kitab Taurat, Zabur dan zuhuf-zuhuf al-anbiya’ para nabi pendahulu?

Khadijah, di sisi lain, terus memberikan dukungannya sebagai istri. Ia mencarikan solusi-solusi untuk meredakan rasa takut suaminya. Beberapa kali, ia juga menemaninya menemui Waraqa dan di beberapa kesempatan lainnya menemui Rahib yang bernama Adas dari Negeri Ninawa.

Suatu hari Khadijah bergegas ke Rahib Addass untuk memberitahunya apa yang terjadi pada suaminya. Rahib Adas bertanya,

“Khadijah, mungkinkah Syaitan menampakkan dirinya ke padanya? Ambillah azimat ini dan berikan pada suamimu. Bila dia dibuat kesurupan oleh jin jahat, maka jin jahat itu akan sirna. Tapi bilamana kejadian tersebut datangnya dari Tuhan Allah, maka ia tidak akan punya masalah sama sekali.”

Khadijah menerima azimat dan kembali ke suaminya. (Al-Halabiyyah, hal. 267; al-Sirah al-Makkiyah, Vol. I, hal. 183).

Penulis biografi Muhammad yang paling terkemuka yaitu Ibn Ishaq melaporkan bahawa suatu cairan meluap dari mata Muhammad selama kejadian yang sampai menyebabkan beliau pingsan yang selalu muncul sebelum turunnya wahyu. Ibn Ishaq mengutip peristiwa-peristiwa ini di hadis awal.

“Mata Muhammad jadi berkaca-kaca dengan suatu cairan sebelum turunnya wahyu Qur’an kepadanya pada turunnya wahyu berikutnya, Muhammad mengalami reaksi-reaksi fisik yang sama.”

(Al-Halabiyyah, hal. 267; al-Sirah al-Makkiyah, Vol. I, hal. 183.)

Dalam kesempatan-kesempatan demikian, Khadijah menawarkan,

“Aku akan mengirimkanmu seseorang untuk membasahi matamu.”

Ibn Ishaq berkomentar,

“Saya tidak boleh mengetahui siapa yang membasahi matanya maupun siapa yang menyebabkan adanya cairan yang membuat matanya berkaca-kaca.”

(Al-Halabiyyah, hal. 276.)

Muhammad sendiri ketakutan akibat pengalaman-pengalaman yang tidak lazim dan menyakitkan ini. Ia seringkali berkata,

  • “Saya takut akan diri saya sendiri.” (Al-Halabiyyah, hal. 276)
  • “Saya takut menjadi seorang Ra’is Aam.” (Al-Bukhari, Sahih, Vol. I, hal. 18; Muslim, hal. 97)
  • “Saya takut dibuat kesurupan oleh jin jahat.” (Ibn Sa’ad, hal. 195; al-Halabiyyah, hal. 258)

Meskipun mengalami hal-hal demikian, Muhammad tetap menjadi andalan Waraqa untuk memastikan keberlanjutan penegakan keyakinan tauhid. Tauhid adalah mengutamakan Tuhan Allah bukan yang lainnya. Waraqa bahkan sering memberitahukan pada insan yang kelak menjadi utusan Tuhan ini untuk tetap teguh meskipun di tengah masa yang penuh keraguan yang besar ini.

Bertanyalah kepada orang-orang yang membaca kitab-kitab sebelum Qur’an.

“Sekiranya engkau (wahai Muhammad) merasa ragu-ragu tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka bertanyalah kepada orang-orang yang membaca kitab-kitab yang diturunkan dahulu daripadamu.”

QS Yunus [10]:94.

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

QS An-Nahl [16]:44; QS Al-Anbiya’ [21]:7.

“Mereka itulah yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.”

QS Al An’am [6]:90.

“Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan kebenaran dan dengan itu mereka berlaku adil menjalankan keadilan.”

QS Al A’raf [7]:159.

“Dan di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan kebenaran, dan dengan itu mereka berlaku adil.”

QS Al A’raf [7]:181.

“Kalian akan tahu siapa yang berada di jalan lurus dan siapa yang menerima bimbingan.”

QS Taha [20]:135.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini