Waraqa Sang Ra’is Aam Kaum Quraysh adalah Penanda yang Sudah diTetapkan Allah

Apa yang menjadi niatan Sang Ra’is Aam Waraqa dalam mengumumkan kedatangan Muhammad sebagai pemimpin?

Apa yang mendasari pernyataan-pernyataan beliau yang menjadi tanda akan kedatangan Muhammad sebagai pemimpin?

Menjadi tanda akan kedatangan Muhammad atau mengambil kesempatan atas kejadian-kejadian tersebut untuk menunjukkan kewenangan diri sebagai tokoh masyarakat diiniyah ketika itu?

Sayang akhirnya kelak para penulis riwayat Muhammad menjadi tidak tertarik menyelidiki niatan-niatan Sang Ra’is Aam tersebut, mereka justru tertarik pada tradisi lisan atau sistim komunikasi dari mulut ke mulut yang ketika itu lebih cenderung suka ngomong-ngomong soal hukumnya melakukan ini atau hukumnya melakukan itu. Alhasil mereka tidak tertarik lagi pada penelusuran sejarah Muhammad. Karena lebih terfokus hanya pada tata krama melakukan ini atau itu dengan latar belakang kekinian atau kontemporer, fiqih atau tata krama di zaman moden menjadi miskin informasi mengenai peran Sang Ra’is Aam Waraqa dalam menandai dan dalam mempersiapkan Muhammad. Karena kajian penelusuran sejarah tidak lagi dianggap penting oleh ahli fiqih atau ahli tata krama dengan latar belakang kontemporer, mereka tidak pernah menyelidiki siapa dan bagaimana sepak terjang tokoh masyarakat yang resmi ketika itu (Al-Qussussiyyah ketika itu) yang tidak bisa dipungkiri pada awalnya adalah masyarakat pengungsi atau orang orang yang berhijrah yang beralam-fikiran nashara duafa sehingga akhirnya menjadi kemapanan tata krama Islam.

Apalagi kerana menghadapi dan menanggapi gelombang massa kontemporer yang meragukan kenabian Muhammad, ahli fiqih atau ahli tata krama kontemporer mencari-mencari kejadian penanda untuk dihubung-hubungkan sebagai kejadian-kejadian yang meramalkan kenabian Muhammad. Untuk kepentingan tersebut, mereka menelusuri hari-hari pertama Adam. Mereka terus mencari kejadian-kejadian penanda Muhammad dengan mengklaim bahawa para rabbi Yahudi, pertapa, penyihir, jin, syaitan, binatang, berhala, pepohonan, dan bebatuan semua menyatakan mendukung kenabian Muhammad. Mereka bersikeras bahawa namanya ditemukan dalam Taurat dan Injil. Tapi anehnya pada waktu yang bersamaan mereka mengabaikan Waraqa Sang Ra’is Aam yang sah yang pertama kali menyatakan Muhammad sebagai seorang nabi.

Dari bukti-bukti yang ada jelas menandakan bahawa baik Waraqa atau Muhammad bukan dari Golongan Ahli Kitab. Jadi baik Waraqa atau Muhammad tidak mengertikan kejadian-kejadian penanda yang mereka alami dan saksikan tersebut sebagai hal yang bernuansa Taurat kerana mereka adalah anak cucu dari nenek moyang mereka yang Ahli Kitab. Nenek moyang mereka adalah orang-orang pengungsi yang berhijrah dari Yerusalem ke Mekah. Mereka merasa bukan lagi dari Golongan Ahli Kitab. Mereka adalah kaum Quraysh atau syarikat pengungsi-pengungsi ke dari Yerusalem ke Mekah. Kaum Quraysh adalah diaspora Yerusalem di Mekah. Tampaknya niatan-niatan Sang Ra’is Aam jadi meluas kerana selain melaksanakan dakwah yang mengajak kaumnya, yakni kaum Quraysh di Mekah di Era Makkiyyah, Muhammad kemudian juga didapuk menjadi pemimpin kekuatan politik di Madinah di Era Madaniyyah. Dari awal niyatan Waraqa bin Nawfal adalah mengandalkan Muhammad sebagai keberlanjutan ra’is aam yang memimpin insan-insan berhijrah nashara duafa atau ebionit di Mekah.

Muhammad memahami tugas yang diembankan pada beliau sebagai Sang Ra’is Aam yang memimpin insan-insan berhijrah nashara duafa atau ebionit di Mekah yang ketika itu adalah Kaum Quraysh. Ia mulai berkhotbah dan menyampaikan peringatan kepada orang-orang serta mengajarkan apa yang tidak mereka ketahui dari Kitab Allah. Ia menunjukkan pada mereka Jalan Yang Lurus dan Keadaan Diiniyah yang sahih dan sudah selazimnya. Ia menyampaikan peringatan kepada mereka mengenai bunga-bunga atau tanda-tanda Kiamat. Ia menyerukan mereka untuk berzakat bersedekah dan beristighfar memohon ampunan ilahi. Ia membacakan ayat-ayat dari Kitab Allah. Ia tahu betul bahawa tugasnya pada dasarnya adalah mengingatkan para pembaca Taurat dan para Ahli Kitab.

Katakanlah (wahai Muhammad) “Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang yang beriman.”

QS Al A’raf [7]:188.

Kitabnya merupakan suatu peringatan atau pengingat Injil Ibrani yang berada di tangan Waraqa …

Atas izin Allah, Muhammad itu ada untuk menerangkan Injil Ibrani tersebut ke dalam bahasa Arab dalam 44 tahun silaturahmi yang terjalin antara Muhammad dan Waraqa. QS An Naḥl [16]:43-44.

Setelah meninggalnya Waraqa, Muhammad, sebagai orang yang diandalkan Waraqa Sang Ra’is Aam, otomotis menerima kepemimpinan diiniyah insan-insan berhijrah nashara duafa atau ebionit dalam wawasan Kaum Quraysh. Namun ia takut Tuhan Allah akan meninggalkannya atau melupakannya karena sejak meninggalnya Waraqa “wahyu ilahi jarang turun” selama hampir mendekati dua atau tiga tahun. Wahyu ilahi akhirnya turun lagi setelah beberapa usaha membumikan pesan ilahi yang mula-mula. Usaha membumikan pesan ilahi yang mula-mula tersebut muncul sesuai dengan keadaan Muhammad yang sendiri dan tanpa Ra’is Aam Waraqa. Kelak di Madinah, wahyu-wahyu Al-Qur’an akan berdasarkan wahyu-wahyu sebelumnya di Mekah.

“Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti.”

QS Az Zukhruf [43]:3.

Mengapa Buhaira, Ra’is Aam suku Kristen boneka Kaisar Rom, yang justeru dielu-elukan oleh orang-orang Islam di Zaman Moden?

Sheikh Sobhi al-Salih, seorang cendekiawan terhormat yang bermazhab Ahli Sunnah wal Jama’ah di zaman moden yang ahli dalam kajian-kajian Islam mengakui hanya ada satu pertemuan yang pernah terjadi antara Waraqa dan Muhammad.

Ia menulis,

“Apa yang boleh dipelajari Nabi dengan hanya 2 kali bertemu, satu kali bertemu dengan Waraqa, Sang Ra’is Aam yang ber-alamfikiran nashara kaum Quraysh, dan satu kali bertemu dengan Buhaira, Sang Ra’is Aam suku Kristen Negeri Suryani yang tunduk kepada Kaisar Rom, terkait filsafat dan sejarah? Dan lagi Waraqa meninggal tak lama kemudian.”

Namun Sheikh Sobhi al-Salih tidak berani membahas mengapa semenjak meninggalnya Waraqa, dikatakan,

“wahyu ilahi jarang turun.”

(Ibn Hisham, Vol. II, hal. 45, 46.)

Sheikh Shobi dengan cepat menyimpulkan bahawa,

“Muhammad bertemu Waraqa di akhir hidupnya. Waraqa dalam kondisi tua renta dan buta. Ia sudah tidak mampu melakukan apa-apa.”

(Sheikh Sobhi al-Salih, Mabahith fi al-Qur’an, Beirut, hal. 45. Catatan penerjemah: Sobhi dibunuh di Beirut saat keluar dari masjid di tahun 1986.)

Muhammad Hussayn Haykal, orang Mesir yang hidup di zaman moden, penulis ensiklopedia kehidupan Muhammad, mengungkapkan sikap yang sama terkait Waraqa. Ia terkesan diam seribu bahasa terkait sosok dan peran Waraqa dalam kehidupan Muhammad. Haykal hanya berkata semua pertemuan Muhammad dengan Waraqa dan semua pernyataan yang dibuat Waraqa kepada Muhammad, semuanya itu hanyalah pertemuan-pertemuan tidak disengaja dan hanyalah pernyataan-pernyataan basa-basi (Mohammad Hussein Haykal, Hiyat Mohammad “Kehidupan Muhammad,” Kairo, hal. 135-137).

Mengapa fakta mengenai Waraqa ini tidak dibuka secara terang-terangan?

Malah terkesan dengan sengaja dihindari. Bila ini karena tidak peduli dengan fakta mengenai Waraqa ,maka jelas itu adalah pelanggaran penghilangan fakta yang sangat serius. Anehnya di masyarakat Islam di zaman sekarang ini justru Rahib Kristen boneka Kaisar Rom yang bernama Buhaira yang lebih disanjung-sanjung dan lebih dielu-elukan sementara Waraqa bin Nawfal diabaikan.

Apa alasannya?

Tampaknya sikap diam seribu bahasa mengenai Waraqa ini justru menyebabkan pembelokan fakta mengenai Waraqa. Padahal Waraqa jelas-jelas pernah memiliki kedudukan yang istimewa selaku Ra’is Aam yang menjadi pemimpin insan-insan beralamfikiran nashara di kaum Quraysh di Mekah dan jelas jelas masih memiliki hubungan darah dengan Muhammad dan juga memiliki hubungan bathin dengan Muhammad, kenapa Waraqa diabaikan saja.

Anehnya Rahib Kristen Buhaira boneka Kaisar Rom yang lebih diakui oleh sarjana-sarjana Muslim moden. Padahal Rahib Kristen Buhaira di Negeri Jauh Suryani atau Negeri Syam yang hanya tinggal di tempat pertapaannya di Basra Suryani Selatan dekat perbatasan Yordania memiliki perjumpaan yang terbatas dengan para pedagang Quraysh. Buhaira, Ra’is Aam suku Kristen Suryani boneka Kaisar Rom ini hanya punya sedikit pengaruh pada Muhammad kerana semua persinggahan Muhammad sebagai pengatar perjalanan kafilah niaga di daerah Suryani tersebut tidak cukup bagi Muhammad untuk mencari ilmu dan mendapatkan manfaat dari perjumpaan Muhammad sebagai pengantar kafilah niaga dengan manapun rahib-rahib Kristen boneka Kaisar Rom di negeri yang jauh dari Mekah tersebut.

Para sejarawan dan penulis riwayat Nabi selama ini terkesan lebih suka berfokus pada peran Rahib Kristen Buhaira dalam kehidupan Muhammad. Dan mereka berhasil mengharumkan dan mengelu-elukan Rahib Kristen Buhaira tersebut. Sebagai akibatnya, Waraqa terpinggirkan dengan penuh fitnah. Padahal Waraqa masih kerabat Muhammad. Kajian ini bertujuan untuk membantu kita untuk berani mengkaji kembali peran dan sumbangsih yang jauh lebih besar yang pernah diberikan Waraqa dalam kehidupan Muhammad daripada peran dan sumbangsih apapun yang bisa diberikan Rahib Kristen Buhaira dalam kehidupan Muhammad.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini