Ya Fattāh

الفتاح

Yang Maha Pembuka.

Siapa sukarela membuka hati mahu menjadi jongosnya Allah dan sukarela membuka hati mahu mengabdi kepada Allah pasti akan mendapati banyak kisah seperti itu dalam Kitab-Kitab Allah mengenai keadaan yang dengan amat sukarela mahu membuka hati tanpa dipaksa-paksa. Contoh, makhluk tidak pernah dipaksa-paksa untuk dekat dengan al-Khalik Sang Pencipta. Makhluk pasti memiliki naluri pertimbangan untuk dengan sukarela membuka hati secara ikhlas mengabdi kepada Allah. Kalau ada orang yang baik hati dengan sukarela membuka hati dan tidak memikirkan diri sendiri dan tidak tertutup kepada oranglain, pasti banyak orang tanpa dipaksa-paksa akan dengan sukarela membuka hati.

Dalam surat-suratnya, Pa’ul al-Hawariyun, yang dengan sukarela menjadi jongos setianya Sayidina Isa, berkata kepada sesama jongosnya Sayidina Isa, mengenai keadaan yang tidak terpaksa dan mahu membuka hati menjadi jongosnya Sayidina Isa. Pa’ul al-Hawariyun dari tanah suci Yerusalem, Timur Tengah, berkata kepada orang-orang Kurintus (sekarang Yunani Eropa), “Kami tidak tinggal diam. Kalau kami buka mulut, kami bicara demi baiknya kalian, wahai orang-orang kota Kurintus. Kami bahkan membuka hati kami untuk kalian.”

Kitab-Kitab Allah menyebutkan beberapa anggota badan manusia yang boleh terbuka. Contoh, mata, tangan, rahim, telinga dan lengan.

  • Mata orang buta menjadi terbuka dapat melihat. Injil Surah Matta (Matius) 9:30.
  • Tangan Allah (yadi Allah) terbuka memberi kurniaan kepada manusia. Zabur 145:16, QS Al Hadid [57]:29.
  • Rahim yang tidak mandul. Taurat Surah Al-Khuruj (Keluaran) 13:2.
  • Telinga yang, oleh Allah, dijadikan terbuka untuk menyebabkan orang menjadi taat kepada perintah Allah. (Kitab Al-Anbiya’ surah Isya’ya (Yesaya) 50:5.

Singsingkan lengan baju, Sang Pencipta diibaratkan begitu untuk menjelaskan bahawa Allah al-Khaliq jauh dari sifat malas dan segan, namun menjadi contoh untuk berjuang. Kitab Al-Anbiya’ Surah Isya’ya, (Yesaya) 52:10.

Dalam Kitab Injil terdapat ibarat yang mengumpamakan kemurahan dan sifat pengasih dan penyayangnya Allah sesungguhnya selalu tanpa syarat. Allah bersifat pemurah dan pengasih bagaikan seorang bapak yang mempunyai anak yang menyesakkan dadanya dan memalukan.

Namun bapak itu tidak marah dan tidak gusar terhadap anak itu, namun tetap sabar. Pada suatu hari salah satu anak meminta warisan dan menjual warisannya untuk minggat meninggalkan bapaknya untuk berfoya-foya memuaskan nafsunya, sampai akhirnya anak itu kehabisan uang dan tidak punya apa-apa dan akhirnya anak itu pulang dalam keadaan sangat miskin dan memprihatinkan, namun walaupun begitu, dengan tangan terbuka, bapaknya tetap menerima anaknya itu dengan hati yang terbuka dan, dengan penuh kelegaan, bersyukur kepada Allah atas anaknya itu.

Bapak itu sebenarnya sudah lama menanti-nanti kepulangan anaknya itu. Melihat anaknya pulang, Bapak itu merasa sangat lega dan langsung memeluk anaknya itu dan bahkan mengadakan pesta syukuran di mana bapak itu mengungkapkan dengan sangat terbuka kepada khalayak ramai bahawa dia bersyukur anaknya akhirnya sadar dan insyaf pulang kembali ke orangtuanya. Berkat kesabaran Bapak itu dan hati yang terbuka dari Bapak itu, hubungan darah atau hubungan kekeluargaan tidak terputus dan lenyap. Pemandangan dalam ibarat itu sungguh merupakan pemandangan yang paling menyejukkan hati dan penuh dengan mukjizat akhlak dalam Kitab Allah Injil. Termaktub di Kitab Injil, Surah Luqa, Lukas 15:11-32).

Bahasa Bani Isra’il Ibrani dan Bahasa Arab memiliki kata yang sama untuk mengungkapkan sifat Allah Yang Maha Pembuka. Dalam Bahasa Bani Isra’il, sifat Allah itu adalah,

 /patsah/,

sedangkan dalam Bahasa Arab,

فَتَّاح /fattah/,

ertinya “buka.”

Kata itu dipakai dalam situasi perlawanan dan juga dipakai dalam situasi perdamaian. Nabiullah Isya’ya (Yesaya) pernah berkata bahawa semua pintu-pintu gerbang pertahanan musuh-musuh Raja Persia Kores, oleh Allah, akan dibuka lebar-lebar. Termaktub di Kitabullah Al-Anbiya’ Isya’ya, Yesaya 45:1.

Di Zaman di mana manusia yang terzalimi Dajjal amat sangat merindukan kedatangan Almasih atau Penolong daripada Allah, pintu-pintu gerbang yang terbuka lebar adalah tanda adanya ketenangan dan kesejahteraan kerana sebab Allah.  Termaktub di Kitabul Anbiya’ Isya’ya (Yesaya) 60:11.

Menurut Quran Tafsir Ibn Kathir, Almasih sesungguhnya berasal daripada Allah, disuruh Allah untuk menolong manusia yang lemah terzalimi. Apabila Almasih  لمس /lams/ menyentuh orang sakit, orang sakit itu menjadi sembuh. Apabila ada orang yang dirasuk fitnah Dajjal didekatkan kepada Almasih Isa, Dajjal langsung takut dan pergi menjauh dan orang itu boleh menjadi sadar dan tenang kembali.

Juga dikisahkan di Kitabullah Al-Anbiya’ Isya’ya, Yesaya 53:7, disebutkan ketika disiksa dan dizalimi, suruhan atau jongosnya Allah yang amat dirindukan itu menerima nasibnya dengan tenang dan pasrah, tidak mahu buka mulut banyak bicara, namun tenang dan sabar bagaikan kambing qurban yang disembelih menerima nasibnya untuk disembelih.

Tarjamah dan tafsir Kitab Taurat, Zabur, Injil dalam Bahasa Yunani menyimpulkan bahawa suruhan atau jongosnya Allah yang menerima nasibnya yang penuh dengan perjuangan dan penderitaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Isa yang oleh Allah ditetapkan menjadi Almasih.

Seorang Hawariyun yang bernama Filib pernah bertemu dengan seorang sida-sida, iaitu, seorang pencari kehakikian hidup dari Habasyi (Etiopia dari benua Afrika). Sida-sida, atau pencari kehakikian hidup dari Habasyi ketika itu biasa suka berjalan kaki dari Benua Afrika ke Tanah Suci Yerusalem yang mereka sebut sebagai tempat kaum berkhatan. Namun beberapa pencari kehakikian dari Habasyi bahkan memotong seluruh zakarnya, bukan hanya kulupnya. Ketika di Tanah Suci Yerusalem, Filib al-Hawariyun bertemu dengan seorang pencari kebenaran dari Habasyi, Filib ditanya oleh sida-sida Habasyi itu, “Siapa gerangan jongosnya Allah yang menerima nasibnya yang penuh dengan perjuangan dan penderitaan itu? Nabiullah Isya’ya kah? Atau orang lainnya?”

Filib pun membuka mulutnya: bermula dari bahagian Kitab Allah itu, dia mengajar berita baik tentang Isa kepada sida-sida itu. Termaktub di Kitab Injil, Surah Kisah Para Hawariyun, (Kisah Para Suruhan Isa) 8:35.

Kitab Injil surah terakhir yakni Surah Ar-Ru’ya atau Surah Wahyu, memang pandai berkias. Disebutkan dengan penuh kias di Kitab Injil Surah Ar-Ru’ya, bahawa sesungguhnya Allah Sang Pembuka selalu terbuka pada siapa sahaja yang sungguh-sungguh memohon dan berseru kepadaNya, namun Allah Sang Pembuka tidak pernah memakai paksaan untuk memaksa kita untuk mengizinkan Allah masuk ke dalam pertimbangan kita. Inilah kias di dalam Kitab Injil Surah Ar-Ru’ya (Wahyu) 3:20

Dengarlah! Aku berdiri di hadapan pintu sambil mengetuk. Jika seseorang mendengar suara-Ku dan membuka pintu, Aku akan masuk ke rumahnya. Aku akan makan bersamanya dan dia bersama-Ku.

Jemputan untuk masuk selalu dari dalam. Masuk tanpa jemputan bererti memaksa dan tidak sopan dan kasar. Yang secara terbuka ingin bertemu tidak pernah mendobrak pintu dari luar. Dia selalu menunggu dibukakan pintu oleh yang di dalam yang ingin ditemuiNya. Dibukakan atau tidak, hal itu menuntut kesukarelaan yang di dalam. Tuhan Allah menuntut kesukarelaan yang dianugerahkanNya kepada setiap insan manusia. Hanya orang yang bersukarela dan penuh niatan lah yang menghadap kepada Allah dengan penuh kepasrahan dan berserah diri kepadaNya.

Munajat:

Curahkan segala ni’mat dan mukjizat-Mu, ya Allah, untuk masuk ke dalam pertimbangan hamba, sehingga pertimbangan hamba menjadi buka untuk-Mu, ya Allah. Hamba memohon semoga pusat pertimbangan menjadi buka bagi hamba dan masyarakat menikmati hadirnya Kerajaan Allah.

Isa suruhan Allah sabar menunggu untuk diizinkan masuk.

Isa suruhan Allah.

Isa jongos Allah.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini