Ya Hasīb

اَلْحَسِيْب

Maha Penghitung;

iaitu memberikan jaminan kecukupan kepada seluruh hamba-hambaNya pada hari Qiamat.

Muḥāsib مُحَاسِب adalah kata Bahasa Arab yang ertinya adalah ‘akauntan’ atau ‘juru kira.’ Allah pun diibaratkan sebagai juru kira. Asma Allah juga الحسيب al-hasīb juga bermakna Penghitung.

Bahasa Bani Isra’il Ibrani dan Bahasa Suryani dan Bahasa Arab adalah sama, ‘menghitung’ adalah heshbon, hasab, hisab. Bahasa Bani Isra’il Ibrani dan Bahasa Suryani dan Bahasa Arab tidak jauh berbeza bahkan sampai sekarang. Tuhan Allah dikenal oleh Nabi Ibrahim sebagai Yang Maha Menghitung (Yang Maha Meng-“hisab“). Menurut ilmu hisab-nya Allah atau menurut hitungannya Allah, Nabi Ibrahim pantas disebut jujur dan baik. Tuhan Allah dan Ibrahim memang langsung saling percaya. Tuhan Allah langsung tidak was was sama sekali terhadap Ibrahim.

Demikian pula Ibrahim langsung tidak waswas sama sekali terhadap Tuhan Allah. Termaktuk di Terjemahan Bahasa Melayu Kitab Taurat Surah at-Takwin [Kejadian] 15:6.

Itulah ilmu hisab-nya Allah. Itulah hitungannya Allah. Hitungan Allah bererti Allah sudah menganggap atau Allah sudah reda.

Reda Allah, itulah pola pikir Ibrani Suryani.

Bulus al-Hawari hidup ribuan tahun sesudah Ibrahim. Bulus al-Hawari adalah salah satu hawariyyun penyokong-penyokong setia Sayidina Nabi Isa. Bulus al-Hawari menjelaskan keberadaan selamat sebab Almasih Isa yang daripada Allah. Tentu dalil dan pola pikir yang dipakai Bulus al-Hawari dalam menjelaskan selamat sebab Almasih Isa bersumber dari Kitab Taurat berbahasa Ibrani Suryani dan dari Kitab-Kitab berbahasa Ibrani Suryani lainnya. Haqul yaqin dan tidak was was apabila sudah reda, itulah dalil dan pola pikir Ibrani Suryani. Bahkan hadis sahih menyatakan bahawa umat Rasulullah perlu belajar menguasai Bahasa Ibrani dan Bahasa Suryani.

Baca …

al-Jami’ al-Sahih, jilid 1, bab Fii Ta’lum as Suryaaniyah, 

… karya al-Tirmidzi dan al-Muj’am al-Mufahras li Al-fadz al-Hadis al-Nabawi.

Baca juga Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmidzi, tt:67.

Untuk menjelaskan reda yang adalah pola pikir Ibrani Suryani yang seperti itu kepada orang-orang di Peradaban Non-Semitik atau Non Timur Tengah, Bulus al-Hawari menggunakan Bahasa Yunani, bahasa lingua franca antarabangsa ketika itu.

Bulus al-Hawari menggunakan kata dalam Bahasa Yunani,

 logikḗ

yang maknanya hampir sama dengan ‘logic‘ dalam Bahasa Inggris, dan dalam Bahasa Melayu ‘pikir-pikir dulu agar dapat diterima oleh akal.’

Jadi hitung-hitung dan iker-pikir itu sebenarnya adalah sama agar hitungan atau anggapan kita benar dan dapat dihaqul yaqini sebagai reda.

“Nabi Ibrahim haqul yaqin kepada Allah. Jika dipikir-pikir memang hal itu sungguh jujur dan baik dan dapat diterima oleh akal masing-masing. Sudah reda.”

(Termaktub di Terjemahan Bahasa Melayu Suhuf Ruum 4:3.)

Oleh Tuhan Allah, Nabi Ibrahim dianggap atau diperhitungkan sebagai orang yang jujur dan baik bukan kerana Nabi Ibrahim banyak melakukan amalan-amalan yang baik bagi Tuhan Allah. Jadi yang dihitung bukan amalan baik. Yang lebih mustahak untuk dihitung oleh Tuhan Allah adalah niyat hati Ibrahim. Tuhan Allah memperhitungkan iman Ibrahim kepadaNya. Amalan selalu dimulai dengan niyat hati. Ibrahim sungguh haqul yaqin beriman kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Haqul yaqin itu bererti sudah melalui perhitungan yang dalam dan matang.

Daud selain Nabi juga adalah Raja. Oleh Allah, beliau juga dinyatakan dan diiktirafkan …

“diperbenar Allah tanpa mengira kerja amalnya”.

Kisah pertaubatan dan istighfarnya Daud termaktub di Terjemahan Bahasa Melayu Kitab Zabur 32:1-2 yang kemudian dikutip oleh Bulus al-Hawari di Suhuf Ruum 4:7-8.

Saudara-saudara Yusuf akhirnya menyedari dan menyesal pernah berbuat jahat memasukkan Yusuf ke dalam sumur dan menjualnya untuk dijadikan jongos di Negeri Fir’aun. Namun menurut perhitungan Yusuf yang kerana itu justeru malah menjadi sultan di Negeri Fir’aun, Allah merubah pengalaman yang pahit itu menjadi pengalaman yang baik dan bermanfa’at untuk menyelamatkan ramai orang dari kelaparan sebab krisis makanan.

Kata Yusuf kepada saudara-saudaranya yang dahulu zalim kepada Yusuf,

“Kamu sudah bermuafakat untuk melakukan kejahatan kepadaku, tetapi Allah mengubah kejahatan itu menjadi kebaikan, supaya banyak orang dapat diselamatkan seperti yang terbukti sekarang.”

Terjemahan Bahasa Melayu Kitab Taurat Surah At Takwin [Kejadian] 50:20.

Hisab Allah atau Hitungan Allah sungguh melegakan Daud ketika Daud merasakan kesusahan hidup dan Daud berseru kepada Allah,

Jika ku hitung-hitung, aku ini miskin dan sesak;tetapi Engkaulah penolong dan penyelamatku.

(Terjemahan Bahasa Melayu Kitab Zabur 40:17.)

Setelah dihitung-hitung tenyata adalah baik, manusia tentu akan menjunjung tinggi. Namun apabila dihitung-hitung ternyata adalah buruk, manusia pasti mengatakan ada rencana jahat.

Dikisahkan, kaum Ibrani Bani Isra’il tempat Istir Sang Permaisuri Raja Persia berasal menjadi korban rencana jahat. Mereka akan dijebak dan dimusnahkan.

(Terjemahan Bahasa Melayu Suhuf Istir 3:7.)

Nabiullah Isya’ya pernah mengkisahkan akan ada pasukan askar yang amat keji dan tidak berbelas kasihan sama sekali yang tidak mahu disuap dengan emas sekalipun. Mereka tidak menjunjung tinggi emas!

(Terjemahan Bahasa Melayu Suhuf Isya’ya 13:17.)

Dalam Suhuf Isya’ya disebutkan bahawa Allah memiliki seorang hamba yang penuh dengan penderitaan dan pengorbanan. Hamba itu tidak menjunjung tinggi pujian dan sanjungan manusia. Namun hamba yang penuh penderitaan dan pengorbanan tersebut akhirnya dijunjung tinggi.

Kita menghina dan menolak dia, dia menderita kesengsaraan dan kesakitan.

Tidak seorang pun hendak memandang dia; kita pun tidak mempedulikan dia.

(Termaktub di Terjemahan Suhuf Isya’ya 53:3.)

Hamba itu dijunjung tinggi sebab hamba itu sudah biasa dihina, ditolak, sudah biasa menderita kesengsaraan dan kesakitan, sudah biasa diremehkan orang dan sudah biasa tidak dipedulikan orang. Bagi hamba itu yang tersisa hanyalah sabar.

Mengutip kembali Suhuf Isya’ya 53:12, Kitab Injil Surah Luqa menyatakan bahawa Sayidina Isa lah hamba yang penuh dengan pengorbanan tersebut, bahkan Sayidina Isa digolongkan sebagai penjahat dan pelaku dosa syirik!

Sebagaimanapun pemahaman seseorang mengenai Kitab Injil, dia pasti akan merasa pelik melihat hitung-hitungannya Bulus al-Hawari. Hitung-hitungannya sungguh pelik tidak lazim dan bahkan agak-agak membingungkan. Ketahuilah sebelum takzim ke Sayidina Isa, Bulus al-Hawari amat meremehkan Sayidina Isa dan berlaku zalim kepada para hawariyyun dan banyak membunuh kaum hawariyyun pengikut-pengikut Sayidina Isa. Bulus menganggap itu dilakukannya sebab dia amat cinta Allah dan menganggap menzalimi hawariyyun sebagai amalan yang saleh yang penuh dengan pahala daripada Allah.

Tapi tengok macam mana hitungan Bulus al-Hawari ketika dia sendiri menjadi insyaf dan menjadi hawari yang takzim kepada Sayidina Isa.

“Tetapi segala yang dahulu kuanggap untung dan penuh pahala bagiku, sekarang kukira rugi kerana al-Masih. Bahkan segala perkara kukira rugi berbanding keagungan hidayah menjadi takzim kepada Sayidina Isa al-Masih, Junjungan kita Yang Esa. Oleh sebab Sayidina Isa Almasih lah aku telah kerugian segalanya, yang kukira sampah sarap belaka, supaya aku mendapat untung iaitu Sayidina Almasih Isa.”

(Termaktub di Terjemahan Suhuf Filibbai 3:7-8.)

Munajat:

Amin, ya Allah Yang Maha Agung, hamba sungguh merugi tanpa Mu.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini