Yā Muqsiṭ

اَلْمُقْسِط

Maha Adil

Al-Muqsiṭ adalah kata yang asal-usulnya dari zaman dahulu kala ketika Bahasa Bani Isra’il Suryani/Ibrani adalah bahasa yang umum dan lazim digunakan orang di Tamadun Timur Tengah di zaman dahulu kala. Yakni tahun 500 Sebelum Masehi sampai 250 Sesudah Masehi.

Sayidina Isa dan hawariyun lahir di masyarakat Timur Tengah dan di zaman Bahasa Suryani menjadi bahasa setiap orang di Timur Tengah pada zaman dulu itu. Bahasa Suryani adalah bahasa pijin Ibrani atau bahasa dagang Bahasa Bani Isra’il Ibrani. Bahasa orang-orang yang hijrah keluar dari Tanah Suci Baitul Maqdis Yerusalem atau juga bahasa orang-orang non Bani Isra’il yang hijrah ziarah ke Tanah Suci Baitul Maqdis Yerusalem pada zaman dahulu kala. Ketika itu, Baitul Maqdis adalah kiblat iman tauhid yang mengutamakan Allah.

Pada masa itu, Bahasa Bani Isra’il Suryani/Ibrani adalah bahasa yang paling disukai oleh orang-orang yang hijrah bukan asli Bani Isra’il ketika itu. Bahasa Suryani amat mirip dengan Bahasa Arab, atau orang-orang Midiyan dan Samariya. Dalam sebuah hadis, Nabi mengakui bahawa sungguh amat mustahak belajar bahasa Suryani.

Tidah menghairankan bahawa Muqsiṭ bukanlah kata yang termaktub di Quran. Quran tidak pernah menggunakan kata itu. Al-Muqsiṭ memiliki sifat yang sama dengan Al-Adl.

العدل /Yang Maha Adil/.

Al-Muqsiṭ sama-sama menyuarakan sifat Adil, Jujur dan Nyata.

Muqsiṭ berasal dari kata dalam Bahasa Bani Isra’il Suryani/Ibrani,

 /mu’znei/

yang bererti, ‘timbangan.’

Sejak dari zaman dahulu kala, timbangan atau batu timbang yang jujur, adil, dan nyata jelas adalah perihal yang sering diharap-harapkan oleh orang-orang yang beriman kepada Al-Khalik. Muqsiṭ juga menyatakan sifat yang dalam Bahasa Bani Isra’il Suryani/Ibrani disebut tzedek, sidiq, tzadakah yang ertinya ADIL.

Kalau ada yang tidak adil pasti akan ada yang dirugikan dan jatuh miskin dan hidup penuh dengan rasa malu, kerana tidak ada keadilan. Termaktub di Kitabullah Al-Anbiya’ Surah Amsal Sulaiman 11:1

/mu’znei mirma to’avat yh ‘even shelema retzon/

yang bermaksud,

“TUHAN ALLAH membenci orang yang menipu dengan timbangan. Dia berkenan kepada orang yang menggunakan timbangan yang tepat.”

Dalam budaya Bani Isra’il Suryani/Ibrani Hijrah, orang-orang menyebut timbangan itu adalah batu timbang, kerana timbangan terbuat dari batu.

Kemudian mereka tidak lagi memakai batu untuk timbangan untuk melaksanakan transaksi, namun akhirnya mereka menggunakan mata uang dari perak yang bernama shekel. Mata uang dari perak yang bernama shekel itu mencerminkan adil tidaknya suatu masyarakat. Dengan adanya mata uang, batu timbang tidak lagi digunakan untuk mengukur transaksi. Semuanya diukur dengan uang, bukan lagi diukur dengan batu timbang. Tapi walaupun begitu, mata uang juga boleh disalahgunakan untuk menipu dan menzalimi orang. Sama seperti timbangan dan batu timbangan boleh digunakan untuk menipu, mata uang pun juga boleh dibuat permainan untuk menipu orang dan merugikan orang.

Nabiullah Amus pada zaman dahulu kala pernah mengutuk orang-orang yang pandai menggunakan mata uang untuk memperkaya diri sendiri.

Dengarlah, kamu yang menindas orang yang serba kekurangan dan membinasakan orang miskin di negeri ini. Kalian berkata, “Bilakah ibadah iktikaf tahanus sabbat hari ke tujuh selesai supaya kita dapat menjual gandum lagi? Lama betul ibadah tahanus sabbat ini. Bilakah hari ibadah tahanus Sabat berlalu supaya kita dapat berjualan lagi? Kemudian kita akan meminta harga yang berlebih-lebihan. Kita akan menggunakan sukatan dan timbangan yang tidak tepat untuk menipu pelanggan. Kita akan menjual gandum yang rosak dengan harga tinggi. Kita akan mencari seorang miskin yang tidak mampu membayar hutang, walaupun hutang itu hanya seharga sepasang selipar, lalu kita akan membeli orang itu sebagai hamba.”

(Termaktub di Kitabullah Al-Anbiya’ Surah Amus 8:4-6.)

Termaktub di Kitabullah Al-Anbiya’ Surah Amsal Sulaiman 16:11

TUHAN ALLAH menghendaki timbangan dan ukuran yang tepat; jangan berlaku curang ketika berniaga.

Oleh Nabiullah Sulaiman, orang-orang yang tahu hukum-hakam dan tahu syariah diperingatkan dengan amat keras,

“Jangan perdaya orang miskin kerana mereka miskin, dan jangan tipu mereka di mahkamah”.

(Termaktub di Kitabullah Al-Anbiya’ Surah Amsal Sulaiman 22:22.)

Dalam Kitabullah Al-Anbiya’ Surah Daniyal 2:47, dikisahkan ada seorang raja bangsa kafir yang bernama Raja Nebukadnezar menjadi haqul yaqin kepada al-ilah yang diutamakan oleh Nabi Daniyal. Raja kafir itu menjadi memeluk iman tauhid mengutamakan tuhan yang disembah Nabi Daniyal dan meninggalkan apapun yang diutamakannya sebelumnya. Raja yang dulu kafir itu mengimani bahawa ilah yang disembah dan diutamakan Nabi Daniyal itu adalah ilah dari segala macam ilah.

Bahkan Raja yang dulu kafir itu menyatakan bahawa ilah yang disembah Nabi Daniyal itu adalah Al-Ilah, ilah daripada segala macam ilah. Yang Utama dari apapun yang dianggap utama. Tuhan dari segala tuhan. Begitulah sikap hati Raja yang dahulu kafir kepada Allah itu. Daniyal itu salah satu nabi keturunan Bani Isra’il yang berasal dari kota suci Al-Quds Ursalim yang hijrah sampai ke negeri kafir itu.

Pernah di suatu pesta yang diadakan oleh raja kafir itu, semua orang-orang kafir di pesta itu melihat ada tangan ghaib menulis dalam huruf Bahasa Suryani di tembok gedung tempat pesta raja berlangsung.

Tangan ghaib itu menulis di tembok begini:

MENE, MENE, TEKEL PARSIN

Semua yang hadir dan juga raja kafir di kerajaan kafir itu pun juga tidak tahu apa makna tulisan ghaib dalam Bahasa pidgin Suryani itu. Kerana izin Allah, hanya Nabi Daniyal lah yang tahu. Menurut Nabi Daniyal, tulisan ghaib dalam huruf Bahasa Suryani itu ertinya,

“Sen demi sen kepemimpinanmu dihitung dan ditimbang oleh Yang Ilahi, ternyata kepemimpinanmu banyak kurangnya”.

Itulah makna tulisan ghaib itu menurut Nabi Daniyal. (Termaktub di Kitabullah Al-Anbiya’ Surah Daniyal 5:25-30.)

Kepemimpinan yang buruk adalah kepemimpinan yang tidak memberi perlindungan kepada orang-orang fakir miskin di wilayah kepemimpinannya. Kisah-kisah yang diceritakan oleh Kitab Taurat, Zabur dan Injil penuh dengan kisah-kisah yang menyedihkan dan memperihatinkan, iaitu orang-orang miskin tidak diberi tempat untuk mereka berlindung. Sayidina Nabi Isa memberikan syarat pada barangsiapa yang ingin mengikut beliau. Syaratnya adalah orang itu harus mahu berbagi harta kepada orang yang fakir yang tidak punya apa-apa.

Sayidina Isa berkata,

“Sesiapa yang mempunyai dua helai baju hendaklah memberi satu kepada orang yang tidak mempunyai baju, dan sesiapa yang mempunyai makanan hendaklah berkongsi dengan orang yang memerlukannya.’”

(Termaktub di Kitabullah Injil Surah Luqa 3:11.)

Kalau kamu punya kuasa, jangan zalim, jangan berlagak!

“Jangan aniayai orang dan jangan rampas harta benda atau ajukan tuduhan palsu.”

(Termaktub di Kitabullah Injil Surah Luqa 3:14.)

Sayidina Isa diadili, dicurigai dan dipertanyakan. Sesungguhnya itu adalah hinaan yang keji yang penuh fitnah dan adu domba. Bahkan kitab undang-undang hukum yang ada pun tidak dapat menemukan setitik kesalahanpun dalam kehidupan Sayidina Isa. Setitik kesalahan pun tidak ada dalam Sayidina Isa. Sayidina Isa diadili dan dipertanyakan, itulah hinaan yang keji. Sungguh itulah hinaan yang keji. Bahkan orang jahat yang dihukum mati salib di hari Jum’at Manis bersama dengan Sayidina Isa itu pun tahu bahawa mencurigai dan mengadili dan menghukum Sayidina Isa adalah suatu hinaan yang keji, apalagi menyalibkan beliau. Terpikirpun jangan sampai.

Mencurigai dan mengadili Sayidina Isa adalah menghina keadilan dan merendahkan kehakikian! Bahkan orang paling jahat pun tahu bahawa mencurigai dan mengadili Sayidina Isa adalah hinaan paling keji terhadap keadilan dan juga terhadap Yang Maha Adil.

Ada dua orang jahat yang dihukum mati bersama dengan Sayidina Isa. Yang satu menerima hukuman mati yang dialaminya kerana dia merasa jahat, jadi merasa sudah sepantasnya dia dihukum mati salib oleh siapapun pencari keadilan. Tapi orang jahat yang satunya marah-marah tidak terima dihukum mati salib. Orang jahat itu tidak terima dan marah terhadap siapapun pencari keadilan. Orang jahat itu tahu Isa adalah Almasih yang ditetapkan Allah untuk membela umat manusia, namun orang jahat itu mencurigai dan mempertanyakan Sayidina Isa mengapa Sayidina Isa terkesan diam dan menerima hukuman mati salib dan tidak marah walau disalib. Kepada Isa, orang jahat itu berkata, “Pembela macam apa kamu itu? Almasih macam apa kamu itu?”

Namun orang jahat yang satu lagi berkata,

“Tidak takutkah kamu kepada Al-Muqsiṭ Yang Maha Adil dan polis dan askar-askar yang melaksanakan hukuman mati demi terwujud keadilan? Kamu dan saya memang sudah pantas dihukum mati salib kerana kamu dan saya memang jahat. Tapi orang ini tidak ada salah!”

Begitulah percakapan dua orang jahat yang dihukum mati salib bersama-sama dengan Sayidina Isa. (Termaktub di Kitab Allah Injil Surah Luqa 23:40 dst.)

Kemudian dalam keadaan terhukum mati salib, Sayidina Isa bersabda,

“Aku berkata kepadamu, hari ini juga engkau akan bersama Aku di dalam Firdaus Jannah!”

(Termaktub di Kitabullah Injil Surah Luqa 23:43.)

Sayidina Isa menghancurkan siksa hukuman mati salib. Sayidina Isa rela menjadi korban, mati syahid dijalan Allah. Sayidina Isa adalah bukti Allah menyayangi umat manusia yang insyaf dengan menjunjung tinggi keadilan!

Munajat:

Apabila ditimbang, salah dan keburukan hamba akan terlihat, namun Engkau Penguasa timbangan. Engkaulah pembayar kaffarah, penebus segala macam hutang! Engkaulah Penguasa timbangan yang Maha Adil dan penyayang tidak pernah merugikan.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini