Yusuf di Pusat Tamadun Peradaban Bangsa Tidak Bersunat (Bhg.3/4)

Diceritakan, ketika sudah hidup mulia, orang rantai yang dibebaskan dan dikeluarkan dari penjara dan dimuliakan derajadnya oleh Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun tersebut lupa pada Yusuf yang tetap merana di penjara. Sedangkan dia berada di istana yang mewah mengabdi lagi sebagai pelayan minuman Raja Fir’aun.

Lalu diceritakan, dua tahun kemudian, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun pada suatu malam bermimpi. Di dalam mimpi tersebut, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun merasa sedang berdiri di pinggir Sungai Nil. Di situ Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun merasa melihat tujuh lembu yang gemuk dan besar keluar dari dalam Sungai Nil. Kemudian, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun melihat tujuh lembu yang kurus dan kecil sekali menghampiri tujuh lembu yang gemuk. Lantas, tujuh lembu yang gemuk tersebut ditelan hidup-hidup oleh tujuh lembu yang kurus tersebut. Setelah dapat mimpi tadi, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun terjaga dari tidurnya, kemudian, beliau tertidur kembali dan beliau bermimpi lagi. Didalam mimpi kali ini, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun merasa melihat tujuh bulir padi yang sudah menguning dan berisi. Kemudian, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun melihat tujuh bulir padi yang kosong dan tidak berisi. Anehnya, oleh tujuh bulir padi yang tidak berisi tadi, tujuh bulir padi yang berisi tersebut dimakan dihabiskan.

Diceritakan, keesokan paginya, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun langsung memanggil seluruh para cerdik pandai dan para bijak bestari di Kerajaan Beliau. Kepada mereka, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun menceritakan mimpi beliau tersebut, namun tidak ada satupun yang boleh mengetahui apa arti dari mimpi tersebut. Di seluruh wilayah Kerajaan Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun, tidak ada satu orangpun yang tahu arti mimpi tersebut.

Ketika itulah, orang rantai yang dahulu dibebaskan dikeluarkan dari penjara dan dimuliakan derajadnya oleh Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun menjadi pelayan minuman Raja Fir’aun tersebut langsung jadi teringat akan Yusuf yang tetap merana di penjara. Maka berkatalah pelayan minuman Raja Fir’aun tersebut kepada Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun,

“Maafkan hamba, wahai Paduka Raja. Dahulu hamba dan juru masak Paduka pernah Paduka masukkan kedalam penjara. Di penjara tersebut, kami berdua bermimpi. Mimpi kami hampir sama. Ketika itu kami menjadi waswas akan apa arti dari mimpi kami tersebut. Tapi akhirnya, kami bertemu dengan seseorang di penjara yang boleh menafsirkan arti mimpi kami tersebut. Namun orang tersebut adalah seorang pengungsi bukan asli rakyat Paduka, wahai Paduka Raja. Lantas kami ceritakan mimpi kami kepada pengungsi tersebut. Pengungsi tersebut lantas memberi tahu kepada kami erti dari mimpi kami. Sesungguhnya, semua yang diberitahukan pengungsi tersebut kepada kami memang sungguh-sungguh nyata dan benar benar berlaku. Hamba dikeluarkan dari penjara tersebut oleh Paduka Raja, sedangkan juru masak dihukum pancung oleh Paduka Raja. Itulah yang pengungsi tersebut katakan kepada kami ketika kami menanyakan apa erti mimpi kami kepada pengungsi tersebut.”

Mendengar hal itu, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun langsung memerintahkan para askar untuk membawa Yusuf, sang pengungsi tersebut, untuk menghadap kepada Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun. Ketika Yusuf diperhadapkan pada Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun berkata kepada Yusuf, sang pengungsi tersebut,

“Aku dapat mimpi, tapi tidak ada yang tahu apa erti dari mimpi ku tersebut. Saya mendengar kamu boleh mengetahui erti mimpi.”

Kata Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun kepada Yusuf. Kemudian, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun menceritakan mimpi beliau kepada Yusuf.

Yusuf lantas menjawab,

ِلَااِلَهَ اِلَّا اللهُ سُبْحَنَ الْعَلِيْمِ الْحَكِيْم

Laa ilaaha illallaahu subhaanal `aliimil hakiim

“Tiada ilah melainkan Allah, Maha Suci Allah Yang Amat Mengetahui dan Yang Maha Bijaksana.

“Hanya Allah yang dipertuan dan disembah Datuk Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub sahaja yang maha tahu. Aku hanyalah hamba Allah. Yang dipertuan dan disembah oleh Datuk Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub adalah Allah sama sebutannya.

“Tujuh lembu yang gemuk dan tujuh bulir padi yang berisi tersebut ertinya, kedua mimpi Paduka tersebut memiliki makna yang sama, ertinya:

“Tuhan Allah memberi tanda kepada Paduka akan apa yang akan segera berlaku. Tujuh lembu yang gemuk ertinya tujuh tahun. Tujuh bulir padi yang berisi ertinya sama juga tujuh tahun. Ertinya, dalam masa tujuh tahun, Kerajaan Paduka akan mengalami kemakmuran dan senang mencari makan di Kerajaan Paduka. Namun tujuh lembu yang kurus dan tujuh bulir padi yang tidak berisi ertinya, selepas masa kemakmuran itu, akan ada masa paceklik yang sangat teruk, masa kekurangan bahan makan, selama tujuh tahun lamanya. Masa kemakmuran yang pernah dialami sebelumnya tidak akan diingat lagi oleh seluruh rakyat Paduka karena masa kekurangan bahan makanan yang begitu teruk sekali sampai-sampai di wilayah Kerajaan Paduka tidak ada satupun tanaman yang hidup. Paduka dapat mimpi sampai 2 kali ertinya perkara ini sudah menjadi ketetapan Tuhan Allah dan akan segera berlaku.

“Wahai, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun, sekarang ini, Paduka lebih baik melantik seseorang yang cakap dan Paduka lebih baik memberi kuasa dan wewenang yang besar untuk mengatur Kerajaan Paduka dalam menghadapi paceklik yang teruk yang akan segera terjadi tersebut dan untuk mewajibkan seluruh rakyat Paduka untuk menyisihkan seperlima dari hasil beras yang mereka peroleh di tujuh tahun masa yang makmur.”

Berkata Yusuf kepada Raja Fir’aun.

Kemudian, Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun berkata kepada Yusuf, sang pengungsi tersebut,

“Tidak ada yang pantas Aku lantik selain Tuan, wahai Yusuf , penyembah Allah! Aku percayakan dan pasrahkan nasib Kerajaanku dan rakyatku kepada Tuan, wahai penyembah Allah. Semua kuasa dan wewenang ku sebagai Raja, aku berikan kepadamu untuk mengatur Kerajaanku, namun izinkan aku untuk tetap menyandang status Raja yang resmi di Kerajaanku, wahai Tuan Yusuf, penyembah Allah.”

Kata Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun kepada Yusuf, sang pengungsi penyembah Allah tersebut.

Oleh Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun, Yusuf diubah namanya menjadi Shofnaatafa’niih, dan dijodohkan dengan gadis asli dari Kerajaan Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun. Gadis Kerajaan Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun yang dijodohkan menjadi istri Yusuf tersebut bernama Asnaat binti Fuutiifaar, seorang putri dari seorang pemimpin agama bangsa orang-orang tidak bersunat yakni Kerajaan Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun. Yusuf yang bersunat dicintai oleh orang-orang tidak bersunat.  Demikian pula, Yusuf, karena izin Allah, juga sangat mencintai orang-orang tidak bersunat. Mereka saling beramah mesra karena Allah.

Mereka bekerja sama dalam menghadapi paceklik yang sangat teruk dan akhirnya mereka berjaya karena Allah. Ketika paceklik teruk tiba, di mana-mana tempat susah mencari makan dan kekurangan bahan makanan kecuali di Kerajaan Yang Dipertuan Agong Raja Fir’aun. MASYA’ ALLAH.

Sungguh benar yang termaktub di dalam QS Al Hujurat [49]:13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu).

Termaktub pula dalam Taman Sari Kitab-Kitab Allah, dipetik dari Terjemah Kitab Allah At-Taurat, Surah At-Takwin (Kejadian) bab 41.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini