Siapakah Waraqa Bin Nawfal dalam Salasilah dan Riwayat Nabi Muhammad s.a.w? (Bhg.4/13)

Para sejarahwan dan penulis Riwayat Nabi Muhammad menyebutkan banyak suku Arab bertaubat dari penyembah berhala menjadi insan yang takdzim dan tawadu’ kepada Nabi Allah ‘Isa untuk masuk menjalani hidup yang manfa’at sebagai makhluk yang menerima apa yang sudah ditetapkan Allah. Pengungkapan ketakdziman serta ketawadu’an mereka kepada Sayidina ‘Isa beragam. Ada yang pengungkapannya memakai bentuk-bentuk yang jami’ atau yang sudah umum (pengungkapan yang sudah umum disebut Kristian Katholik atau Kristian Orthodoks).

Namun ada juga yang pengungkapannya tidak pada umumnya. Pengungkapan yang tidak pada umumnya dizaman adikuasa Kekaisaran Rom di Jazirah Arab tersebut disebut nashara. Menurut Ibn Qutayba:

“Contoh menjalani hidup yang manfa’at yang diteladankan oleh insan-insan nashara ketika itu sungguh menjadi teladan yang sangat berpengaruh ketika itu dan meluas ke suku-suku Rabi’ah Ghassan dan Quda’ah.”

Sejarahwan Al-Ya’qubi mencatat bahwasanya suku-suku di kawasan Jazirah Arab yang bertaubat dari penyembah berhala  menjadi insan yang takdzim dan tawadu’ kepada Nabi Allah ‘Isa untuk masuk menjalani hidup yang manfa’at sebagai makhluk yang menerima apa yang sudah ditetapkan Allah. Petaubat-petaubat tersebut antara lain:

“Rabi’ah, Banu-Taghlib, Tay’h, Mazhaj, Bahra’, Sulaykh, Tannukh, dan Lakhm.”

(Ibn Qutaybah al-Daynuri, hal. 621.)

Selain itu Al-Jahiz (sebutan untuk penulis Abu ‘Uthman ‘Ubn Bahr, yang meninggal tahun 869 Masehi), juga sadar akan fenomena pertaubatan masyarakat Arab ketika itu. Ia mencatat,

“Kesungguh-sungguhan nashara merasuk sangat dalam ke suku-suku Taghlib, Shiban, ‘Abdul Qays, Quda’a, Sulaykh, al-‘Ibad, Tannukh, Lakhim, ‘Amilah, Juzzan, Kuthayyir bin Bilharith bin Ka’b.”

(Al-Jahiz, Kitab al-Hayawan, Vol. I.)

Acuan-acuan ini dan lainnya yang disebutkan oleh para perawi lainnya memberikan kesaksian bahawa, pada zaman itu, insan-insan yang beralam pikiran nashara ada di Mekah, di sekitar Jazirah Arab, dan daerah-daerah lain pedalaman Arab termasuk di selatan Suryani (Al-Ya’qubi, hal. 257).

Alam pikiran ketauhidan nashara sebenarnya sudah masuk Mekah melalui suku Quraysh lewat Abdul Manaf dan Abdul Uzzah dan keturunan-keturunan mereka. Ini dibuktikan kesahihannya oleh para penulis riwayat Nabi Muhammad. Tapi sayangnya para perawi tersebut terkesan  berbeda pendapat yang menyebabkan mereka tidak tegas.

  1. Ada yang menyatakan bahawa sebenarnya leluhur-leluhur Nabi Muhammad adalah orang-orang yang sudah menjunjung tinggi iman tauhid bahkan sebelum Nabi Muhammad lahir.
  2. Ada pula yang berusaha menimbulkan kesan dengan membesar-besarkan bahawa, sebelum Nabi lahir, leluhur-leluhur Nabi adalah orang-orang kafir penyembah berhala yang tidak beriman kepada Allah dan tidak menjunjung iman tauhid.

Namun Al-Mas’udi, salah satu sarjana geografi terbaik bangsa Arab dan sejarahwan (meninggal pada 956 Sesudah Masehi), cenderung menyatakan bahawa pendapat pertama lah yang sahih (Al-Mus’udi Muruj al-Zahab, Vol. II, pp. 108, 109).

Al-Isfahani, seorang sejarahwan sastra Arab (meninggal pada 928 Sesudah Masehi) menjuluki Waraqa sebagai Qiss atau Aulia atau Wali Allah, suatu julukan yang biasa dipakai untuk orang alim kaum yang beralam pikiran nashara. Al-Isfahani mencatat,

“Waraqa sang Qiss atau wali Allah adalah salah satu orang pada zaman itu yang menjauhi penyembahan berhala yang sudah umum dalam Periode Ke-tidak tahu-an, atau yang dalam bahasa Arab disebut Zaman Jahiliyah.”

Beliau mencari suatu diin yang kudus atau suci. Beliau suka membaca kitab-kitab Allah. Dan beliau tidak memakan daging sajian yakni daging yang sudah dipersembahkan kepada selain Allah” (Al-Ishafani, Kitab al-Aghani, Vol. III, hal. 113).

Sedangkan sejarahwan abad ke-9, Ibn Sa’d menambahkan,

“Waraqa sang wali Allah merupakan satu dari empat orang pada zaman itu yang menjauhi kegiatan-kegiatan pemujaan berhala dan tidak mau makan sembarang daging. Beliau tidak mau makan daging dari binatang yang dicekik, dan beliau tidak makan darah binatang.”

(Ibn Sa’d, Tabaqat, hal. 162).

Ada tiga orang Arab lainnya pada zaman itu yang dahulu yang sebelumnya dikenal sebagai penyembah berhala kemudian berubah menjadi beralam pikiran nashara. Mereka adalah keturunan Hisham yang bernama:

  1. ‘Ubayd Allah, putera Jahsh, putera Umaymah, putera ‘Abdul Muttalib, yang meninggal di Tanah Habasyah Ethiopia Afrika dalam alam pikiran nashara. Istri beliau, Umm Habiba, yang kemudian menikah dengan Muhammad (Ibn Hisham, hal. 206).
  2. Usman putera al-Huwayrith, sepupu Waraqa dan Khadijah, putri Khuwaylid, yang juga adalah  istri pertama Muhammad. Tentang beliau ini, disebutkan beliau tidak beralam pikiran nashara melainkan menjadi Kristian yang diiktirafkan Kaisar Rom. Beliau menjadi Kristian yang saleh di daerah yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang Kekaisaran Bizantium. Beliau menjadi dikenal orang  karena beliau dizalimi oleh Kaisar Bizantium yang bengis bernama Kaisar Batriq. Oleh Kaisar Batriq, beliau dipenjara sampai mati (Ibn Hisham, hal. 206, catatan 1).
  3. Zayd ibn ‘Amr putera Nufayl. Mengenai beliau, Nabi pernah berkata: “Walau seorang diri, beliau mampu menghidupkan kembali suatu bangsa” (Ibn Hishamm, hal. 208). Beliau merupakan kemenakan al-Khattab. Beliau terkenal karena “beliau dengan keras menentang hukum pada zaman itu yang membolehkan majikan membunuh abdinya dengan cara dikubur hidup-hidup” (Ibn Hisham, hal. 206, 207).

Insan-insan tersebut  merupakan keturunan Quraysh dari garis Abdul Uzzah dan Abdul Manaf. Mereka dikenal kerana sungguh-sungguh menjalani dan mengamalkan kearifan alam pikir nashara dan menjunjung tinggi keputusan‘ijma hawariyyun (penyokong-penyokong setia Nabi ‘Isa) yang dibuat oleh para hawariyyun 600 tahun sebelumnya yakni pada tahun 49 di Tanah Suci Al-Quds Yerusalim (Al-Aqsa).

Penyokong-penyokong setia Nabi ‘Isa di Tanah Suci Al-Quds Yerusalim (Al-Aqsa) hidup dalam budaya dan masyarakat yang berdasarkan syariah yang sangat ketat sebagai ungkapan tauhid sesuai ajaran Nabi Isa. Lihat Tarjamah Kitab Injil Surah Hawariyuun 21:24-30.

‘Ijma hawariyyun (pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa) menekankan kewajiban-kewajiban seperti “mengharamkan apa saja yang sudah dipersembahkan kepada berhala, mengharamkan makan darah binatang, mengharamkan makan daging binatang yang mati dicekik, anti kemaksiatan dan percabulan, mengharamkan memakan daging yang dikeringkan dengan darah dan berpantang makan darah binatang” (Tarjamah Kitab Al-Injil Surah Hawariyuun 15:25).

Selain itu mereka juga menjunjung tinggi Taurat Musa, Injil ‘Isa tanpa membeza-bezakan dan tetap melaksanakan amalan khatan dan amalan thaharah.

Asal Usul Alam Pikir Nashara

Sesungguhnya nashara adalah alam pikir dan amalan keturunan Nabi Ya’qub(*) sebelum mereka hijrah mengungsi ke Mekah dan bermukim di Mekah dan Jazirah Arab. Alam pikir mereka memiliki khazanah paradigma yang beragam. Adanya khazanah alam pikir ini dinyatakan dalam Kitab Al-Qur’an.

(*) Disebutkan di Catatan Kaki nomer 32 pada karya M. Quraish Shihab: Al-Qur’an dan Maknanya: bahwa Nabi Ya’qub alaihissalam digelari Isra’il. Keturunan-keturunan Nabi Ya’qub seringkali disebut Bani Isra’il karena Isra’il adalah nama alias yang langsung diberi Allah kepada Nabi Ya’qub yang artinya ”bergumul untuk mendapat pahala dari Allah.” Pusat masyarakat keturunan Nabi Ya’qub ini adalah Kota Al-Quds Yerusalem.

Kemudian, golongan-golongan (dari kaumnya) itu berselisihan sesama sendiri. QS Az-Zukhruf [43]:65.

Iaitu orang-orang yang menjadikan fahaman ugama mereka berselisihan mengikut kecenderungan masing-masing serta mereka pula menjadi berpuak-puak; tiap-tiap puak bergembira dengan apa yang ada padanya. QS Ar-Rūm [30]:32.

Muhammad, yang ketika itu masih muda, mulai merasa khawatir akan perpecahan di antara puak beliau tersebut yang sudah dikenal sebagai puak di Jazirah Arab yang sungguh-sungguh dalam memperjuangkan tauhid. Beliau menolak menjadi pendukung salah satu golongan karena beliau memandang bahawa menjadi pendukung salah satu golongan sama dengan menabur benih-benih perselisihan.

Sesungguhnya aku takut bahawa engkau akan berkata kepadaku: “Engkau telah memecah-belahkan kaum Bani lsrail sesama sendiri, dan engkau tidak berhati-hati mengambil berat pesananku!” QS Taha [20]:94.

Beliau menghendaki perdamaian di antara mereka sambil berharap menyatukan mereka.

Kami tidak membeza-bezakan antara seseorang dari mereka; dan kami semua adalah islam (berserah diri, tunduk taat) kepada Allah semata-mata. QS Al-Baqarah [2]:136; QS ‘Ali `Imran [3]:84.

Mengenai para pengikut beliau, beliau mengatakan,

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulNya dan mereka pula tidak membeza-bezakan seseorang pun di antara Rasul-rasul itu, (maka) mereka yang demikian, Allah akan memberi mereka pahala mereka. Dan (ingatlah) adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. QS An-Nisa’ [4]:152.

Pandangan yang dinyatakan Nabi Muhammad adalah bahawa di tiap kelompok insan-insan yang beriman ada rasa dan amalan yang membuktikan bahawa insan-insan tersebut semuanya “beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Mereka berkata): “Kami tidak membezakan antara seorang dengan yang lain Rasul-rasulnya.” Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat. QS Al-Baqarah [2]:285.

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini