Nuzunul Wahyu-Wahyu Ilahi Satu Suara dalam Mentauhidkan Allah

Pada prinsipnya, wahyu yang turun (tanzil) selalu mengesahkan wahyu-wahyu yang turun sebelumnya. Jadi Qur’an selalu merupakan penjelasan (tibyan) dari Taurat, Zabur dan Injil yang telah turun sebelumnya. Perjuangan Muhammad dalam menjunjung tinggi tauhid kepada Allah adalah untuk menunjukkan umat tentang kesempurnaan semua wahyu-wahyu ilahi yang sebelumnya diturunkan pada nabi-nabi sebelumnya. Taurat, Zabur dan Injil adalah sempurna. Muhammad tidak pernah memubazirkan ‘ilmu-ilmu yang terdapat di wahyu-wahyu ilahi kitab-kitab sebelumnya. Muhammad selalu melestarikannya dan menghafalkannya agar manfa’at. Muhammad selalu mengingat nabi-nabi Allah sebelum beliau. Kisah-kisah nabi-nabi Allah sebelum beliau dan apa yang dikisahkan dan dicontohkan mereka dalam memandang fakta-fakta nyata dan cerita-cerita rakyat di zaman mereka dan juga ibarat-ibarat yang pernah mereka buat semua selalu diingat oleh Muhammad dan dilestarikannya agar orang-orang di Tanah Arab juga mendapat kejelasan dan manfa’aat dari semua kisah-kisah para nabi sebelumnya.

“… dan Kami datangkanmu (wahai Muhammad) untuk menjadi saksi terhadap mereka ini (umatmu); dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu bagi orang-orang Islam.QS An Naḥl [16]:89.

Kami utuskan Rasul-rasul itu) membawa keterangan-keterangan yang jelas nyata dan Kitab-kitab Suci (yang menjadi panduan); dan kami pula turunkan kepadamu (wahai Muhammad) Aż-Żikr (Al-Quran) yang memberi peringatan, supaya engkau menerangkan kepada umat manusia akan apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkannya.” QS An Naḥl [16]:44.

Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian setia dari orang-orang yang telah diberikan Kitab (iaitu): “Demi sesungguhnya! Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada umat manusia.” QS Ali ‘Imran [3]:187.

Al-Qur’an menjelaskan dalam lembaran-lembaran halamannya bahawa kitab sebelum Qur’an juga mengalami proses nuzunul yaitu proses diturunkankannya wahyu langsung dari Allah. Muhammad menyebut kitab yang ada pada para Ahli Kitab (Ahl-al-Kitab) sebagai saksi yang tidak boleh ditolak. Muhammad memandang kaum yang beralamfikiran nashara sebagai kaum yang, oleh Allah, telah diberi ‘ilmu kebenaran dan kehaqiqian yang termaktub didalam kitab mereka. Oleh karena itulah, disebutkan bahawa:

“… Dan orang-orang yang Kami berikan kitab, mengetahui bahawa itu adalah diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenar-benarnya.” QS Al An’am [6]:114.

Dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (Ahli Kitab), mengetahui (dengan yakin, bahawa keterangan-keterangan) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (mengenai hari kiamat dan lain-lainnya) itulah yang benar serta yang memimpin ke jalan Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Terpuji.” QS Saba [34]:6.

Para Ahli Kitab baik yang dari Bani Isra’il maupun yang dari Bangsa Kristian, semua haqul yaqin pada kitab sebelum Qur’an tersebut. Malah sebagian dari mereka yang dikenal sebagai beralamfikiran nashara akhirnya nanti menerima Al-Qur’an.

Tetapi orang-orang yang teguh serta mendalam ilmu pengetahuannya di antara mereka dan orang-orang yang beriman, sekaliannya beriman dengan apa yang telah diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang telah diturunkan dahulu daripadamu, – khasnya orang-orang yang mendirikan sembahyang, dan orang-orang yang menunaikan zakat, serta yang beriman kepada Allah dan hari akhirat; mereka itulah yang Kami akan berikan kepadanya pahala (balasan) yang amat besar. QS An Nisa’ [4]:162.

Ada juga orang-orang Mekah ketika itu yang menyebut diri mereka Muslim yaitu insan-insan yang menyatakan,

Kami beriman kepada Allah dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami, serta beriman kepada apa yang diturunkan sebelum itu.” QS Al Ma’idah [5]:59.

Dan juga orang-orang yang beriman kepada yang diturunkan kepadamu (Wahai Muhammad), dan Kitab-kitab yang diturunkan dahulu daripadamu).” QS Al Baqarah [2]:4.

Itulah orang-orang yang beralamfikiran nashara ketika itu yang juga menyebut diri Muslim. Jadi, sungguh pantaslah dikatakan bahawa hanya insan-insan yang membaca wahyu sebelum Qur’an lah yang dengan sahih bersaksi dan menyatakan bahawa wahyu ilahi yang diturunkan dalam bahasa Arab yang difahami umat di Mekah ketika itu memang sungguh-sungguh haq dan sungguh-sungguh benar asli dari Allah. Kesaksian mereka mengenai Qur’an sungguh sahih dan bukan main-main dan bukan politik.

Hal ini disebutkan dalam QS Yunus [10]:94Oleh sebab itu, sekiranya engkau merasa ragu-ragu tentang apa yang Kami turukan kepadamu, maka bertanyalah kepada orang-orang yang membaca kitab-kitab yang diturunkan dahulu daripadamu (kerana mereka mengetahui kebenarannya).” Ketika itu orang-orang yang menyebut diri Muslim memang sungguh sangat dekat persahabatannya dengan orang-orang yang dikenal beralamfikiran nashara.

Hal ini disebutkan di QS Al Ma’idah [5]:82Dan demi sesungguhnya engkau akan dapati orang-orang yang dekat sekali kasih mesranya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Bahawa kami ini beralamfikiran nashara” yang demikian itu, disebabkan ada di antara mereka penasihat-penasihat dan ahli-ahli ibadat, dan kerana mereka pula tidak berlaku sombong.”