Isa Ulul Azmi

Ulul Azmi (أولوالعذم) adalah gelaran yang diberikan kepada para utusan Allah yang memiliki kedudukan tinggi/ istimewa karena ketabahan dan kesabaran yang luar biasa, dalam menyebarkan iman tauhid.

Nabi Isa a.s. adalah salah satu dari Ulul Azmi. Nabi Isa a.s. digelar Ulul-Azmi kerana beliau:

  1. Mendapat pengiktirafan Allah SWT
  2. Memiliki kesabaran yang tinggi semasa berdakwah
  3. Sentiasa memohon kepada Allah SWT supaya umat tidak diturunkan azab
  4. Sentiasa berdoa kepada Allah SWT supaya memberi hidayah kepada umat
  5. Memiliki keazaman yang tinggi semasa berdakwah

Sampai-sampai disebutkan di Al-Qur’an Surah Al Ahqaf [46]:35-36 …

(Jika demikian akibat orang-orang kafir yang menentangmu wahai Muhammad) maka bersabarlah engkau sebagaimana sabarnya Rasul-rasul “Ulil-Azmi” (yang mempunyai keazaman dan ketabahan hati) dari kalangan Rasul-rasul (yang terdahulu daripadamu); dan janganlah engkau meminta disegerakan azab untuk mereka (yang menentangmu itu). Sesungguhnya keadaan mereka semasa melihat azab yang dijanjikan kepada mereka, merasai seolah-olah mereka tidak tinggal (di dunia) melainkan sekadar satu saat sahaja dari siang hari. (Penerangan yang demikian) cukuplah menjadi pelajaran (bagi orang-orang yang mahu insaf). Maka (ingatlah) tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik – derhaka.

Orang-orang yang kafir serta menghalangi (dirinya dan orang lain) dari jalan Allah, Allah sia-siakan segala amal mereka.

Standard yang terus dijaga oleh utusan-utusan Allah sebagai penyokong iman tauhid kepada Ar-Rabb Sang Ilah yaitu Allah tidak pernah berubah.

Bahkan utusan terakhir yaitu Nabi Muhammad s.a.w. pun tidak merubah standard yang terus dijaga oleh utusan-utusan Allah yang terdahulu daripada Muhammad. Standard tauhid yang tidak pernah berubah itu adalah KETABAHAN DAN KESABARAN YANG LUAR BIASA dalam menjunjung tinggi iman tauhid. Itulah yang dijaga dan diteladankan atau dicontohkan oleh utusan-utusan Allah yang terdahulu daripada Muhammad. Muhammad diperintahkan untuk mengingat KETABAHAN DAN KESABARAN YANG LUAR BIASA dalam menjunjung tinggi iman tauhid yang dicontohkan oleh utusan-utusan Allah yang terdahulu daripada Muhammad. Dan Muhammad melakukan itu! Masya’ Allah!

Hal ini boleh dibaca di Al-Qur’an Surah Asy Syura [42] ayat 13

Allah telah menerangkan kepada kamu – di antara perkara-perkara ugama yang Ia tetapkan hukumnya – apa yang telah diperintahkanNya kepada Nabi Nuh, dan yang telah Kami (Allah) wahyukan kepadamu (wahai Muhammad), dan juga yang telah Kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa serta Nabi Isa, iaitu: “Tegakkanlah pendirian ugama, dan janganlah kamu berpecah belah atau berselisihan pada dasarnya.” Berat bagi orang-orang musyrik (untuk menerima iman tauhid) yang engkau seru mereka kepadanya. Allah memilih serta melorongkan sesiapa yang dikehendakiNya untuk menerima ugama tauhid itu, dan memberi hidayah petunjuk kepada ugamaNya itu sesiapa yang rujuk kembali kepadaNya (dengan taat).

Berdasarkan Al-Qur’an Surah Ash Syura [42] ayat 13, jelas bahawa Nabi Isa hidup penuh dengan perjuangan yang sangat berat yang dijalaninya dengan sangat tabah dan sabar.

Juga berdasarkan Al-Qur’an Surah Al Baqarah [2]:87

Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Nabi Musa Kitab Taurat, dan Kami iringi kemudian daripadanya dengan beberapa orang Rasul, dan Kami berikan kepada Nabi Isa Ibni Maryam beberapa mukjizat serta Kami teguhkan Isa dengan Ruhul-Qudus. Maka patutkah, tiap-tiap kali datang kepada kamu seorang Rasul membawa sesuatu (kebenaran) yang tidak disukai oleh hawa nafsu kamu, kamu (dengan) sombong takbur (menolaknya), sehingga sebahagian dari Rasul-rasul itu kamu dustakan, dan sebahagian yang lain pula kamu membunuhnya?

Nabi Isa sejak kecil beliau sudah sangat sadar tentang apa yang sudah ditetapkan Allah bagi Nabi Isa.

QS Maryam [19]: 33-34

Dan segala keselamatan serta kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku diperanakkan dan pada hari aku mati, serta pada hari aku dibangkitkan hidup semula.”

Yang demikian itulah Isa Ibni Maryam, keterangan yang sebenar-benarnya, yang mereka ragu-ragu dan berselisihan padanya.

QS Ali Imran [3]:55

(Ingatlah) ketika Allah berfirman: (yaa isa inni mutawaffika wa raafi’uka ilayya wa muthahhiruka) “Wahai Isa! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu, dan akan mengangkatmu ke sisiKu, dan akan membersihkanmu dari orang-orang kafir, dan juga akan menjadikan orang-orang yang mengikutmu mengatasi orang-orang kafir, hingga ke hari kiamat. Kemudian kepada Akulah tempat kembalinya kamu, lalu Aku menghukum tentang apa yang kamu perselisihkan.”

QS Al Ma’idah [5]:117

Aku tidak mengatakan kepada mereka melainkan apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya, iaitu: “Sembahlah kamu akan Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu” dan adalah aku menjadi pengawas terhadap mereka selama aku berada dalam kalangan mereka; kemudian Engkau tawaffa, tawaffaitanii mewafatkanku, menjadilah Engkau sendiri yang mengawasi keadaan mereka, dan Engkau jualah yang menjadi Saksi atas tiap-tiap sesuatu.

Beberapa penafsir Qur’an yang hidup jauh setelah Muhammad menafsirkan apa yang diketahui Muhammad yang termaktub di Qur’an Surah An Nisa’ [4]:157 seperti berikut ini:

Padahal orang-orang Yahudi suk itu tidak membunuhnya dan tidak memalangnya (di kayu palang – salib), tetapi diserupakan bagi mereka (orang yang mereka bunuh itu seperti Nabi Isa).

Menurut beberapa penafsir Qur’an itu bukan Isa yang disalib tetapi orang lain yang secara penuh misteri serupa dengan Isa.

Namun apabila dipafahami tidak secara sepotong-sepotong atau apabila difahami secara utuh duduk perkaranya, Qur’an sebenarnya hanya nak beritahukan kepada kita bahawa bukan orang-orang Yahudi suk itu yang membunuh dan memalang Isa di kayu salib dan sungguh bukan mereka yang membunuh dan menyalib Isa.

Itu sahaja yang Qur’an nak beritahu kita. Tapi apabila ditafsir secara sepotong-potong dan dinamis praktis sesuai dengan situasi politik moden masa kini, hal itu justeru menimbulkan percanggahan dengan ayat berikutnya yaitu An Nisa’ [4] ayat 158

Bahkan Allah telah mengangkat Nabi Isa kepadaNya; dan adalah Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

Dan peristiwa pengangkatan Nabi Isa oleh Allah sudah dijelaskan secara KRONOLOGIS di dalam Al-Qur’an Surah …

QS Maryam [19]:33-34

Dan segala keselamatan serta kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku diperanakkan dan pada hari aku mati, serta pada hari aku dibangkitkan hidup semula.

Yang demikian itulah Isa Ibni Maryam, keterangan yang sebenar-benarnya, yang mereka ragu-ragu dan berselisihan padanya.

QS Ali Imran [3]:55

(Ingatlah) ketika Allah berfirman: (yaa isa inni mutawaffika wa raafi’uka ilayya wa muthahhiruka) “Wahai Isa! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu, dan akan mengangkatmu ke sisiKu, dan akan membersihkanmu dari orang-orang kafir, dan juga akan menjadikan orang-orang yang mengikutmu mengatasi orang-orang kafir, hingga ke hari kiamat. Kemudian kepada Akulah tempat kembalinya kamu, lalu Aku menghukum tentang apa yang kamu perselisihkan.

Cara tafsir secara sepotong-potong dan dinamis praktis sesuai dengan situasi politik moden masa kini sebenarnya justeru menimbulkan percanggahan-percanggahan atau contradiction dengan masing-masing ayat didalam Al-Qur’an dan juga menimbulkan percanggahan-percanggahan atau inconsistency antara Al-Qur’an dengan Kitab-Kitab Allah sebelum Al-Qur’an yakni Taurat, Zabur, Injil.

Di satu sisi Al-Qur’an menyatakan di Surah Al Ankabut [29]:46

Dan janganlah kamu berbahas dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali orang-orang yang berlaku zalim di antara mereka; dan katakanlah (kepada mereka): “Kami beriman kepada (Al-Quran) yang diturunkan kepada kami dan kepada (Taurat dan Injil) yang diturunkan kepada kamu; dan Tuhan kami, juga Tuhan kamu, adalah Satu; dan kepadaNyalah, kami patuh dengan berserah diri.”

QS Al Baqarah [2]:136

Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman): “Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami (Al-Quran), dan kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dan Nabi Ishak dan Nabi Yaakub serta anak-anaknya, dan juga kepada apa yang diberikan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Isa (Injil), dan kepada apa yang diberikan kepada Nabi-nabi dari Tuhan mereka; kami tidak membeza-bezakan antara seseorang dari mereka; dan kami semua adalah Islam (berserah diri, tunduk taat) kepada Allah semata-mata”.

QS Asy Syu’ara [26]:192-196 …

Dan sesungguhnya Al-Quran adalah diturunkan oleh Allah Tuhan sekalian alam.

Ia dibawa turun oleh roh yang amanah.

Ke dalam hatimu, supaya engkau (wahai Muhammad) menjadi seorang dari pemberi-pemberi peringatan (kepada umat manusia).

(Ia diturunkan) dengan bahasa Arab yang fasih serta terang nyata.

Dan sesungguhnya Al-Quran di dalam Kitab-kitab ugama orang-orang yang telah lalu.

Macam mana apa yang dinyatakan oleh Al-Qur’an ini boleh berlaku apabila tafsir-tafsir secara sepotong-potong dan dinamis praktis sesuai dengan situasi politik moden masa kini terus menerus menimbulkan percanggahan-percanggahan atau contradiction dan inconsistency dengan ayat-ayat Qur’an sendiri dan dengan Kitab-Kitab Allah sebelum Al-Qur’an, yakni, Taurat, Zabur dan Injil?

Bolehkah polemik-polemik tentang kehaqiqian menutup yang haq itu sendiri?

QS Al-Isra’ [17]:81 …

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap; sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Renungilah firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan katakanlah: Yang benar (Haq) telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Dan sesungguhnya tidak semua tafsir Qur’an bersifat dinamis praktis sesuai dengan situasi politik moden masa kini, ada juga yang tegas dan berani katakan yang benar telah datang dan tidak tertarik lagi dengan yang batil.

Contohnya:

  • Az Zamakhshari, Ar Razi, Ibnu Abbas, Wahab, Muhammad ibn Ishaaq.
  • Mereka mengatakan bahawa Nabi Isa sungguh benar-benar mati selama 3 sampai 7 jam, lalu kemudian Allah membangkitkan Nabi Isa dan mengangkat Nabi Isa kembali ke sisiNya.
  • Mereka berkata teori yang menyatakan ada orang yang diserupakan dengan Isa jelas tidak termaktub di dalam Al-Qur’an dalam bahasa Arabnya dan teori itu justeru penuh misteri yang pelik.
  • Qur’an bukan kitab yang pelik namun kitab yang mubin yang jelas.

Siapa nama orang yang diserupakan dengan Isa itu? Itupun berbeza-beza. Hawariyun (penyokong-penyokong setia Isa) kah atau pembenci-pembenci Isa kah dan atau siapapun pokoknya boleh dikatakan?

Secara hukum, jawabannya kena boleh dipertanggungjawabkan kebenarannya, jangan asal bicara sahaja! Dalam urusan ugama, itu sungguh-sungguh merbahaya baik di dunia maupun di akhirat!

Dan lagi mana mungkin Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Suci melakukan tindakan penipuan? Tidak masuk akal!

Allah boleh membuka laut yang besar untuk menyelamatkan umatNya, Allah tak payah memakai tipuan-tipuan.

Dan mengapa orang yang diserupakan dengan Isa tidak berteriak sekeras-kerasnya bahawa dia bukan Isa agar terang bahawa dia bukan Isa?

Yang berteriak keras justeru polemicist-polemicist dan penafsir-penafsir Qur’an di zaman moden?

Allah sendiri boleh membangkitkan Isa dari kubur dan mengangkat Isa ke sisi-Nya, tak payah memakai tipuan-tipuan yang menzalimi orang yang tidak tahu menahu. Itulah yang dikisahkan didalam Taurat, Zabur dan Injil.

Semua hawariyun (penyokong-penyokong setia Isa) meriwayatkan bahawa Isa sungguh tabah dan sabar walau dizalimi oleh orang-orang Yahudi suk yang iri hati dan dizalimi oleh Kaisar Bangsa Tidak Berkhatan yaitu Bangsa Rom dengan cara disalib bukan dirajam. Sebenarnya hawariyun lah yang paling sahih dan paling gembira kalau Nabi Isa tidak mengalami ajal disalib namun diangkat oleh Allah secara hidup-hidup. Sungguh itu akhir hayat yang mulia! Namun para hawariyun menceritakan apa adanya dan menyaksikan apa yang sungguh-sungguh berlaku.

Para hawariyun mengatakan yang haq walaupun menyakitkan!

Artikel yang sebelum ini Blog Abdushomad Artikel yang selepas ini